INDOPOSCO.ID – Isu “sawit merusak lingkungan” kembali mencuat dan menyebar cepat di ruang digital, terutama setelah banjir bandang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir 2025. Narasi ini berkembang luas, meski belum sepenuhnya ditopang data ilmiah yang komprehensif.
Padahal, di sisi lain, industri kelapa sawit tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Dengan luas mencapai 16,83 juta hektare dan kontribusi devisa sekitar Rp440 triliun pada 2024, sektor ini juga menopang kehidupan sekitar 16 juta tenaga kerja di Indonesia.
Momentum Hari Bumi Sedunia dimanfaatkan Media Perkebunan untuk menghadirkan 1st International Environment Forum (IEF) 2026. Forum ini mencoba mengajak publik melihat isu sawit dari sudut pandang yang lebih utuh dan tidak sekadar mengikuti arus opini.
Ketua panitia IEF 2026, Hendra J. Purba, menegaskan bahwa tema “Kelapa Sawit Merusak Lingkungan?” sengaja dipilih untuk menguji kebenaran narasi yang berkembang sekaligus memperkuat kampanye berbasis fakta.
“Forum ini mudah-mudahan menjadi forum ilmiah pertama yang dapat menjadi wadah bagi berbagai pihak terutama para generasi muda yang melek digital untuk menyebarkan kampanye positif bahwa pernyataan ‘sawit merusak lingkungan’ itu tidak benar,” ujar Hendra mengawali sambutannya, Selasa (22/4/2026).
Senada dengan itu, Bambang selaku Direktur Jenderal Perkebunan 2016-2019 sekaligus Pemimpin Umum Media Perkebunan menilai pentingnya edukasi publik terkait industri sawit.
“Kalau dikatakan kelapa sawit merusak lingkungan, itu tidak benar. Mahasiswa harus dapat mengedukasi seluruh lapisan masyarakat bahwa sawit sendiri memiliki produktivitas yang lebih baik dibandingkan dengan komoditas minyak nabati lain, sehingga menanam sawit lebih sedikit menggunakan lahan dibandingkan menanam komoditas minyak nabati lain,” kata Bambang.
Ia juga menyinggung kebutuhan global yang terus meningkat, terutama menjelang implementasi B50 sebagai langkah mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Sementara itu, Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kuntoro Boga Andri menegaskan peran strategis sawit dalam sektor pangan dan energi. Ia menyebut Indonesia menyumbang 62 persen pasokan sawit dunia, dengan produktivitas yang lebih tinggi dibanding minyak nabati lainnya.
Di tengah perdebatan ini, sudut pandang ilmiah menjadi penting. Prof. Sudarsono Soedomo dari IPB menilai penyebab banjir bandang tidak bisa disederhanakan hanya pada keberadaan sawit.
“Sebetulnya banyak orang yang tidak percaya dengan narasi sawit penyebab banjir. Tetapi ketika narasinya sudah tersebar luas, tidak ada yang berani menyanggah,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa faktor utama banjir adalah curah hujan ekstrem yang melampaui kapasitas sistem hidrologi.
“Banjir terjadi ketika run-off melebihi kapasitas sistem dan kalau masuk ke sungai secara berlebihan terjadilah banjir. Peran hutan memanglah intersepsi hujan, meningkatkan infiltrasi, dan meningkatkan air tanah untuk menunda aliran permukaan (lag ime) dan sangat efektif pada kondisi hujan normal. Namun, ketika hujannya sangat ekstrem seperti di Sumatera, hutan ada batas dan masalahnya juga,” jelasnya.
Data menunjukkan curah hujan saat itu mencapai 411 mm hanya dalam 1–2 hari, angka yang biasanya terjadi dalam hitungan bulan.
“Ahli hidrologi menyebut bahwa hujan seperti itu terjadi 400-500 tahun sekali. Jadi, dalam kondisi seperti itu, hutan pun tak akan tahan,” tegas Sudarsono.
Ia mengingatkan bahwa penyederhanaan masalah justru berisiko menyesatkan publik dan merugikan banyak pihak.
“Penyebaran informasi berbasis emosi hanya menghukum secara tidak proporsional, bisa salah sasaran, tidak menyelesaikan akar masalah, dan menurunkan kepercayaan publik. Banjir adalah fenomena sistemik, hutan penting tetapi tidak absolut. Kebijakan harus berbasis data dan hukum,” tambahnya.
Forum IEF 2026 diharapkan menjadi ruang dialog yang lebih rasional yang menggeser perdebatan dari opini menuju data, dari asumsi menuju fakta. (her)










