INDOPOSCO.ID – Ketegangan di Timur Tengah kembali mencapai titik didih. Penutupan Selat Hormuz , jalur vital yang selama ini menjadi nadi distribusi energi dunia mengirim gelombang kejut ke pasar global. Dalam hitungan jam, harga minyak melonjak tajam hingga 7 persen pada Senin (20/4/2026), menandai meningkatnya kekhawatiran atas stabilitas pasokan energi dunia.
Situasi memanas setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran saling tuding melanggar gencatan senjata. Eskalasi ini tak hanya memicu aksi militer, tetapi juga memperburuk sentimen pasar yang sejak awal sudah rapuh.
“Berita penutupan Selat Hormuz setelah AS dan Iran saling tuding langgar gencatan senjata jadi pemicu utama. Presiden AS Donald Trump klaim militer mereka tembak dan sita kapal kargo Iran yang coba bobol blokade,” ungkap pengamat ekonomi, Ibrahim Assuaibi dalam rilis yang diterima wartawan, Selasa (21/4/2026).
Di sisi lain, Iran memilih menahan diri dari jalur diplomasi lanjutan. Ancaman serangan udara dari AS pun tidak cukup untuk mendorong mereka kembali ke meja perundingan. Blokade pelabuhan Iran oleh AS serta respons Teheran di Selat Hormuz yang selama ini mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global membuat ketegangan semakin kompleks.
Dampaknya terasa instan. Harga energi meroket, tekanan inflasi meningkat, dan ekspektasi kebijakan moneter global ikut berubah. Investor kini mulai bersiap menghadapi kemungkinan suku bunga tinggi dalam jangka lebih lama, seiring meningkatnya risiko geopolitik.
Namun, tekanan tidak hanya datang dari luar negeri. Dari dalam negeri, peringatan juga muncul. Ibrahim menjelaskan bahwa Dana Moneter Internasional (IMF) mengingatkan agar pemerintah tetap disiplin dalam pengelolaan anggaran, terutama di tengah kondisi global yang tidak menentu.
“Risiko resesi mengintai jika perang AS-Iran berlarut-larut dan harga BBM tertekan. Belum ada solusi jelas, apalagi dengan kerusakan fasilitas energi besar-besaran,” terangnya.
Ruang fiskal Indonesia kini semakin terbatas. Utang publik yang membengkak membuat pemerintah harus berhati-hati dalam mengambil kebijakan. Opsi seperti subsidi atau pembatasan harga memang bisa meredam gejolak jangka pendek, namun berisiko menciptakan distorsi pasar dan beban fiskal jangka panjang.
Dalam kondisi seperti ini, koordinasi kebijakan menjadi kunci. Pemerintah dan otoritas moneter dituntut bergerak cepat untuk menjaga stabilitas ekonomi dan sistem keuangan.
“Namun, bank sentral seperti BI (Bank Indonesia) sulit kendalikan harga energi yang mendorong inflasi. IMF sarankan BI jangan terburu-buru menaikkan suku bunga selama inflasi masih terkendali,” tambahnya.
Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, pasar kini bergerak dalam bayang-bayang risiko. Dari Selat Hormuz hingga nilai tukar rupiah, dunia tengah menghadapi satu kenyataan: konflik geopolitik masih menjadi faktor paling tak terduga dalam peta ekonomi global. (her)










