INDOPOSCO.ID – Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengungkap subspesies baru tanaman bisbul (Diospyros blancoi) yang berasal dari Papua. Temuan ini menjadi kontribusi penting dalam memperkaya data biodiversitas Indonesia.
Penelitian yang dipimpin oleh Irvan Fadli Wanda bersama tim kolaborator dilakukan melalui pendekatan morfologi dan molekuler. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara populasi bisbul dari Papua dan Filipina.
Dalam kajian tersebut, tim menganalisis 93 karakter morfologi, terdiri dari 53 karakter vegetatif dan 40 karakter generatif. Sebanyak 32 karakter di antaranya menunjukkan variasi mencolok, terutama pada bagian buah dan biji.
Irvan menjelaskan bahwa bisbul asal Papua memiliki ciri khas jumlah biji yang lebih banyak, yakni sekitar 5 hingga 10 biji per buah.
Selain itu, bentuk bijinya menyerupai irisan (wedge-shaped) dan memiliki kepadatan rambut pada permukaan buah yang lebih rendah dibandingkan populasi dari Filipina.
Temuan ini semakin diperkuat melalui analisis molekuler menggunakan penanda DNA gen matK dan psbA-trnH. Hasil analisis filogenetik menunjukkan bahwa populasi Papua membentuk kelompok tersendiri yang berbeda secara genetik.
“Ini menunjukkan adanya jalur evolusi yang berbeda dan mendukung penetapan sebagai subspesies baru,” ujar Irvan, Selasa (21/4/2026).
Spesimen yang diteliti juga berasal dari koleksi Kebun Raya Bogor, yang berperan penting sebagai pusat konservasi tumbuhan sekaligus sumber data ilmiah bagi penelitian keanekaragaman hayati.
Bisbul sendiri merupakan tanaman buah tropis bernilai ekonomi yang kerap dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Sebelumnya, spesies ini dikenal tersebar di Filipina dan wilayah Asia Tenggara lainnya, namun belum tercatat secara resmi di Papua.
Penelitian ini juga mengungkap bahwa variasi morfologi bisbul dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti intensitas cahaya dan kondisi habitat, serta faktor genetik yang lebih stabil dalam menentukan karakter reproduktif.
Penemuan subspesies baru ini tidak hanya memperkaya catatan persebaran Diospyros blancoi di kawasan Malesia, tetapi juga menegaskan pentingnya integrasi pendekatan ilmiah dalam kajian taksonomi modern. (nas)










