INDOPOSCO.ID – Uni Eropa menyampaikan belasungkawa mendalam atas gugurnya tiga penjaga perdamaian Indonesia yang bertugas dalam misi UNIFIL di Lebanon selatan.
Dalam pernyataan resminya di Jakarta, Kamis (2/4/2026), Uni Eropa juga menyatakan simpati kepada keluarga korban, pemerintah Indonesia, serta seluruh pihak yang terdampak atas insiden tragis tersebut. UE turut menggemakan kecaman dari Perserikatan Bangsa-Bangsa terhadap serangan yang menewaskan personel penjaga perdamaian.
“Berdasarkan hukum internasional, keselamatan dan keamanan personel serta properti PBB harus dijamin setiap saat,” demikian pernyataan tersebut.
Insiden pertama terjadi pada 29 Maret 2026, ketika Praka Farizal Rhomadhon gugur akibat tembakan artileri di sekitar posisi kontingen Indonesia di wilayah Adchit Qusayr, Lebanon selatan. Sehari kemudian, dua prajurit lainnya—Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan—tewas dalam serangan terhadap konvoi logistik UNIFIL di dekat Bani Hayyan.
Menanggapi peristiwa ini, Perwakilan Tetap RI untuk PBB, Umar Hadi, mendesak penyelidikan yang cepat, transparan, dan menyeluruh. Indonesia juga meminta Dewan Keamanan PBB untuk mengawal proses tersebut serta memastikan adanya pertanggungjawaban hukum tanpa kekebalan bagi pelaku.
Pemerintah Indonesia turut menyerukan kepada semua pihak, termasuk Israel, untuk menghentikan agresi dan mematuhi hukum internasional demi menjamin keselamatan personel penjaga perdamaian serta perlindungan aset PBB.
Sementara itu, Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan tindakan yang tidak dapat diterima dan harus dipertanggungjawabkan.
PBB memastikan bahwa penyelidikan atas insiden tersebut saat ini sedang berlangsung. Meski sempat menghadapi kendala di lapangan akibat situasi yang masih tegang, organisasi dunia itu menegaskan komitmennya untuk mengungkap fakta secara objektif.
Selain itu, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Operasi Perdamaian, Jean-Pierre Lacroix, menyatakan pihaknya terus memantau kondisi di lapangan guna memastikan keselamatan seluruh personel.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat akan tingginya risiko yang dihadapi pasukan penjaga perdamaian dalam menjalankan mandat internasional di wilayah konflik. (dil)










