INDOPOSCO.ID – Wakil Ketua Parlemen Iran Ali Nikzad mendesak pemerintah agar tidak bernegosiasi dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, di tengah berhembusnya isu pembicaraan baru untuk mengakhiri perang di kawasan tersebut.
Langkah tersebut diambil karena Nikzad menilai Trump tidak bermartabat dan telah terbukti berbohong. Ia mencatat bahwa Iran sudah dua kali dibohongi Amerika Serikat dalam proses perundingan sebelumnya.
“Republik Islam Iran, dengan dukungan rakyatnya, berdiri teguh atas kemampuan militernya, dan jika Trump berkata jujur, ia harus mengumumkan dengan siapa ia bernegosiasi,” kata Ali Nikzad seperti dilansir dari Al Jazeera, Selasa (24/3/2026).
Nikzad menyoroti bahwa dalam dua putaran negosiasi sebelumnya pada Juni 2025 dan Februari lalu Amerika Serikat justru melancarkan serangan terhadap Iran di saat para negosiator tengah mencapai kemajuan dalam kesepakatan damai.
“Ancaman-ancamannya adalah kebohongan besar,” kritiknya.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahannya telah melakukan pembicaraan yang sangat baik dan produktif dengan Iran terkait upaya pengakhiran konflik di kawasan tersebut.
“Saya telah memerintahkan Departemen Perang untuk menunda semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari, tergantung pada keberhasilan pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung,” cetus Trump terpisah melalui akun Truth Social pribadinya @realDonaldTrump, Senin (23/3/2026).
Trump sebelumnya sempat mengeluarkan ultimatum terhadap Iran, mengancam akan menghancurkan seluruh infrastruktur pembangkit listrik negara tersebut jika Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya dalam kurun waktu 48 jam ke depan.
“Jika Iran tidak membuka sepenuhnya tanpa ancaman, Selat Hormuz dalam waktu 48 jam sejak saat ini Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mereka,” tutur Trump melalui Truth Social pribadinya @realDonaldTrump, Minggu (22/3/2026). (dan)










