INDOPOSCO.ID – Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani menyatakan bahwa pihaknya bersedia melakukan kembali perundingan damai di Islamabad, Pakistan, asalkan Amerika Serikat menghentikan blokade di sekitar Selat Hormuz.
“Amerika Serikat harus menghentikan pelanggaran gencatan senjata sebelum putaran negosiasi baru,” kata Amir Saeid Iravani seperti dilansir dari Al Jazeera, Rabu (22/4/2026).
“Segera setelah mereka mencabut blokade, putaran negosiasi berikutnya akan diadakan di Islamabad,” tambahnya.
Iran dipastikannya siap untuk berdialog di Islamabad, mereka juga tidak akan mundur jika dipaksa berperang. Menurutnya, keputusan untuk berdamai sepenuhnya bergantung pada langkah AS dalam menghentikan tekanan di Selat Hormuz.
“Kami belum menjadi penggagas agresi militer. Jika mereka mencari solusi politik, kami siap. Jika mereka menginginkan perang, Iran juga siap untuk itu,” ujar Amir Saeid Iravani.
Negosiasi antara Amerika Serikat dengan Iran rencananya kembali digelar di Islamabad, Pakistan, pada Senin (20/4/2026). Namun, Iran menolak hadir karena menilai agenda pertemuan tersebut belum mengakomodasi kepentingan nasional mereka secara adil.
Sementara itu, blokade Amerika Serikat di dekat Selat Hormuz telah dilakukan sejak pekan lalu. Pasukan Marinir AS mencegat dan menyita kapal kargo berbendera Iran dalam sebuah operasi taktis di dekat Selat Hormuz pada Minggu (19/4/2026) waktu setempat.
“Kapal Touska dicegat oleh USS Spruance, sebuah kapal perusak rudal berpemandu, saat berusaha berlayar menuju pelabuhan Bandar Abbas di Iran,” ujar Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) terpisah seperti dilansir dari Sky News, Senin (20/4/2026).
Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa ancaman yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak akan memengaruhi keputusan Iran untuk melanjutkan perundingan.
Ia menilai Trump berusaha menekan Iran agar hasil perundingan sesuai dengan kehendak AS semata, seraya mengabaikan poin-poin tuntutan yang diajukan Teheran.
“Trump, dengan memaksakan pengepungan dan melanggar gencatan senjata, berupaya mengubah meja perundingan ini dalam imajinasinya sendiri menjadi meja penyerahan diri atau untuk membenarkan perang baru,” tegas Mohammad Bagher Ghalibaf dalam akun X pribadinya @mb_ghalibaf seperti dilansir dari Sky News, Selasa (21/4/2026). (dan)










