INDOPOSCO.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ultimatum terhadap Iran, mengancam akan menghancurkan seluruh infrastruktur pembangkit listrik negara tersebut jika Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya dalam kurun waktu 48 jam ke depan.
“Jika Iran tidak membuka sepenuhnya tanpa ancaman, Selat Hormuz dalam waktu 48 jam sejak saat ini Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mereka,” kata Trump melalui Truth Social pribadinya @realDonaldTrump, Minggu (22/3/2026).
Pernyataan itu disampaikannya sehari setelah ia menyinggung pengakhiran perang. Sementara itu, ancaman Iran di Selat Hormuz telah melumpuhkan jalur pelayaran tersebut dan memicu lonjakan harga minyak.
Selat Hormuz melayani distribusi pengangkutan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global. Oleh karena itu, gangguan sekecil apa pun di wilayah tersebut memicu guncangan harga energi yang signifikan di pasar internasional.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap terbuka bagi navigasi internasional. Namun, akses tersebut bergantung pada koordinasi negara-negara terkait dengan pihak Iran.
“Kami tidak menutup selat ini. Menurut kami, selat ini tetap terbuka. Selat ini hanya ditutup bagi kapal-kapal milik musuh kami, negara-negara yang menyerang kami,” jelas Araghchi terpisah dilansir dari Al Jazeera, Sabtu (21/3/2026).
Berbicara kepada media Jepang Kyodo News, Araghchi menyebutkan bahwa akses lintas selat masih tersedia bagi negara-negara lain yang ingin melintas. “Bagi negara-negara lain, kapal-kapal dapat melintasi selat ini,” imbuh Araghchi.
Langkah tersebut dilakukan menyusul serangan militer AS dan Israel ke Teheran pada akhir Februari 2026, hingga menewaskan Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Garda Revolusi Iran (IRGC) sempat menyebarkan peringatan radio, memasang ranjau, dan mengancam membakar kapal yang melintas. (dan)










