INDOPOSCO.ID – Upaya perundingan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran kini berpacu dengan waktu menjelang berakhirnya masa gencatan senjata pada Rabu (22/4/2026). Di tengah tenggat kian dekat, Pakistan selaku fasilitator belum mendapat kepastian dari Teheran.
Menurut Menteri Penerangan Pakistan Attaullah Tarar, pihaknya masih menanti konfirmasi resmi Iran untuk menghadiri pertemuan lanjutan dengan AS di Islamabad.
“Masih menunggu tanggapan Iran atas pembicaraan dengan AS,” kata Tarar seperti dilansir dari Al Jazeera, Selasa (21/4/2026).
Tarar menyatakan, bahwa Pakistan terus mengupayakan jalur diplomasi dan dialog, namun ia menekankan bahwa keputusan Iran sangat krusial mengingat gencatan senjata dua minggu akan segera berakhir.
Pemerintah Iran secara resmi menolak tawaran putaran kedua pembicaraan damai dengan Amerika Serikat (AS) yang sedianya difasilitasi oleh Pakistan pada Senin (20/4/2026).
Berdasarkan laporan kantor berita Pemerintah Iran, Islamic Republic News Agency (IRNA) menyatakan bahwa ketidakhadiran Teheran dalam pembicaraan tersebut disebabkan oleh tuntutan berlebihan dari Washington, harapan yang tidak realistis, perubahan sikap terus-menerus, kontradiksi berulang, dan blokade laut yang masih berlangsung.
“Iran telah menolak untuk menggelar putaran kedua pembicaraan damai dengan AS,” jelas laporan IRNA terpisah seperti dilansir dari Sky News, Senin (20/4/2026).
Hal itu muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan, putaran baru perundingan akan berlangsung. Wakil Presiden AS JD Vance termasuk dalam delegasi yang dijadwalkan tiba di Pakistan, kemarin.
Trump sebelumnya memperingatkan bahwa ia akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan Iran, jika negara itu gagal menyetujui kesepakatan damai. Diketahui perundingan damai pertama telah dilakukan di Islamabad, Pakistan, Sabtu (11/4/2026), namun tidak mencapai kesepakatan.
Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan, bahwa ancaman yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak akan memengaruhi keputusan Iran untuk melanjutkan perundingan.
Ia menilai Trump berusaha menekan Iran agar hasil perundingan sesuai dengan kehendak AS semata, seraya mengabaikan poin-poin tuntutan yang diajukan Teheran.
“Trump, dengan memaksakan pengepungan dan melanggar gencatan senjata, berupaya mengubah meja perundingan ini dalam imajinasinya sendiri-menjadi meja penyerahan diri atau untuk membenarkan perang baru,” ucap Mohammad Bagher Ghalibaf dalam akun X pribadinya @mb_ghalibaf seperti dilansir dari Sky News, pagi tadi. (dan)










