INDOPOSCO.ID – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mengirim lebih dari 10 ribu mahasiswa ke sejumlah wilayah di Pulau Sumatera untuk membantu program pemberdayaan masyarakat sekaligus mendukung pemulihan ekonomi daerah.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Fauzan Adziman, mengatakan para mahasiswa tersebut diterjunkan agar inovasi dan teknologi yang dikembangkan di perguruan tinggi dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.
“Sebanyak 10.090 mahasiswa kami kirim ke berbagai daerah di Sumatera, termasuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Program ini bertujuan menerapkan sains serta teknologi tepat guna agar inovasi dari kampus dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” kata Fauzan kepada INDOPOSCO, Sabtu (14/3/2026).
Menurutnya, kegiatan mahasiswa di lapangan tidak hanya sebatas memperkenalkan teknologi, tetapi juga berupaya meningkatkan kapasitas masyarakat di berbagai sektor. Bidang yang menjadi fokus antara lain ketahanan pangan, kesehatan, dukungan psikososial, hingga pengembangan energi, termasuk energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga surya.
Fauzan menjelaskan wilayah yang menjadi lokasi program saat ini sedang memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Karena itu, kehadiran mahasiswa diharapkan dapat membantu mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat, baik melalui penguatan ekonomi hijau, ekonomi pesisir, maupun pengembangan ekonomi kreatif.
Dari total mahasiswa yang diterjunkan, sekitar 5.040 orang ditempatkan di Provinsi Aceh, sementara masing-masing sekitar 2.500 mahasiswa bertugas di Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Di Aceh, jumlah mahasiswa terbanyak berada di Kabupaten Pidie, dengan sekitar 1.620 orang.
Mahasiswa yang terlibat menjalankan berbagai kegiatan, mulai dari membantu masyarakat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari hingga terlibat dalam kegiatan berbasis ilmiah, seperti mendukung layanan di rumah sakit daerah dan membantu proses pembelajaran di sekolah terdampak.
Selain itu, para mahasiswa juga berkontribusi dalam berbagai program strategis, seperti penyediaan air bersih, perbaikan sanitasi, peningkatan kesehatan masyarakat, pengembangan energi, penguatan sistem komunikasi, pembangunan infrastruktur sederhana, pendidikan darurat, hingga pengelolaan manajemen bencana.
Di luar program pengabdian masyarakat di Sumatera, Kemendiktisaintek juga mengembangkan inisiatif riset di wilayah lain. Salah satunya melalui pembentukan konsorsium perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur yang melibatkan 13 kampus, termasuk Universitas Brawijaya dan Universitas Muhammadiyah Malang. Program ini bertujuan mencari solusi nyata untuk persoalan kemiskinan ekstrem dan stunting.
Evaluasi awal menunjukkan sejumlah hasil positif dari program tersebut. Di Kabupaten Nagakeo, misalnya, produktivitas padi meningkat hingga 8,4 ton per hektare, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di kisaran 6 ton per hektare. Produksi jagung di wilayah tersebut juga meningkat hingga sekitar 6 ton per hektare.
Kemendiktisaintek juga terus mendorong pengelolaan sampah terpadu berbasis teknologi dan edukasi masyarakat. Fauzan menyebutkan sekitar 40–50 persen sampah di Indonesia merupakan sampah organik yang sebenarnya dapat diolah kembali menjadi kompos atau produk lain apabila dipilah sejak dari sumbernya.
“Pemilahan sampah menjadi langkah penting agar sampah organik bisa dimanfaatkan kembali dan tidak semuanya berakhir di tempat pembuangan akhir,” ujarnya. (nas)










