INDOPOSCO.ID – Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menyarankan pemerintah, khususnya Pertamina, mengamankan pasokan minyak dan gas nasional melalui diversifikasi pasokan dari negara yang tidak terdampak penutupan Selat Hormuz.
“Mendapatkan pemasok migas yang handal sangat penting saat ini,” kata Eddy dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Saran itu disampaikan Eddy saat memberikan kuliah umum di Universitas Hasanuddin Makassar dalam rangkaian acara MPR Goes to Campus.
Eddy mengatakan urgensi ketahanan energi saat ini identik dengan ketahanan pangan nasional.
Menurutnya, sektor industri dan transportasi berperan penting dalam menggerakkan perekonomian nasional, ketahanan nasional Indonesia merupakan satu kesatuan dengan ketahanan energi.
Doktor ilmu politik UI itu mengatakan ketergantungan dunia, termasuk Indonesia, terhadap minyak mentah dan gas masih sangat besar, mengingat sektor industri, seperti petrokimia, pupuk, farmasi, serat sintetis, dan juga sektor transportasi membutuhkan migas sebagai bahan baku dan bahan bakar.
“Saat ini belum ada substitusi terhadap keduanya,” ujarnya.
Eddy menambahkan jika pasokan migas terganggu dan Indonesia kesulitan mendapatkan BBM yang selama ini diimpor maka kegiatan ekonomi akan melambat atau bahkan terhenti.
“Sudah jelas bahwa tidak ada mobil, pesawat terbang dan kapal laut yang dapat beroperasi jika tidak ada BBM. Begitu pula sektor industri yang bergantung pada bahan baku migas juga akan berhenti beroperasi,” ucapnya.
“Dengan kata lain, mobilitas masyarakat dan proses produksi akan lumpuh seketika,” tambahnya.
Saran untuk mengamankan pasokan migas nasional melalui diversifikasi pasokan dari negara yang tidak terdampak penutupan Selat Hormuz menjadi penting saat ini.
“Saat ini reliability of supply lebih penting dari availability of supply, mengingat seluruh negara yang mengimpor kebutuhan migasnya mencari sumber pasokan dari negara lain yang mampu menjamin ketersediaan pasokan,” terangnya.
Dalam situasi seperti ini, kata Eddy, Indonesia bisa “saling sikut” dengan negara importir migas besar seperti China, India, Jepang, dan Korea untuk mendapatkan kepastian pasokan.
Eddy juga mendorong percepatan transisi energi, termasuk peningkatan kapasitas simpanan BBM, agar penyangga strategis BBM Indonesia meningkat dari 20 hari saat ini ke 90 hari sesuai arahan Presiden Prabowo.
“Melalui pengembangan energi terbarukan, kita akan mampu mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang selama ini diimpor. Selain menghemat devisa dan memperkuat ketahanan energi dalam negeri, kita juga mendapatkan energi bersih dan hijau,” katanya.
Eddy berharap bahwa ketahanan fiskal Indonesia juga kuat, mengingat kebutuhan anggaran untuk membeli minyak mentah dengan harga mahal akan membebani seluruh negara importir migas, termasuk Indonesia.
Dia juga berharap Kementerian Keuangan telah “sedia payung sebelum hujan” sehingga kebutuhan pasokan migas Indonesia tetap bisa terpenuhi meski harganya melonjak dan nilai tukar rupiah melemah.
“Kami di lembaga legislatif tentu akan mendukung berbagai kebijakan untuk menciptakan ketahanan energi yang kuat ke depannya,” ujarnya. (ney)










