INDOPOSCO.ID – Penelitian terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap fakta menarik tentang cara masyarakat masa lalu menentukan lokasi situs megalitik di Pulau Ternate, Maluku Utara. Hasil studi menunjukkan bahwa penempatan situs yang dikenal sebagai Jere tidak dilakukan secara sembarangan atau acak, melainkan melalui pertimbangan matang terhadap kondisi alam, terutama risiko letusan gunung api dan ketersediaan sumber air.
Penelitian yang dipimpin peneliti Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN, Chusni Ansori, meneliti hubungan antara sebaran situs Jere dengan kondisi geologi di kawasan Ternate Aspiring National Geopark. Studi ini bertujuan memahami bagaimana masyarakat masa lalu beradaptasi dengan lingkungan pulau vulkanik yang didominasi oleh Gunung Gamalama yang masih aktif.
Dari hasil survei lapangan, tim peneliti menemukan 56 situs megalitik yang tersebar di Pulau Ternate. Mayoritas situs tersebut berada di dataran rendah serta dekat dengan sumber air. Sekitar 37,49 persen situs berada pada ketinggian kurang dari 50 meter di atas permukaan laut, terutama di wilayah kaki dan lereng bawah Gunung Gamalama yang relatif lebih aman dari ancaman erupsi.
Menurut Chusni, pola ini menunjukkan bahwa masyarakat masa lalu memiliki pemahaman lingkungan yang baik dalam menentukan lokasi yang aman sekaligus mendukung kehidupan sehari-hari.
“Distribusi ini menunjukkan adanya pola pemilihan lokasi yang berkaitan dengan keamanan lingkungan dan kemudahan akses terhadap sumber daya alam,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (10/3/2026)
Penelitian ini menggunakan pendekatan spatial geoarchaeology, yang menggabungkan analisis arkeologi dan geologi. Metode yang digunakan meliputi survei lapangan, analisis geokimia batuan menggunakan XRF, pemodelan digital elevasi, hingga analisis spasial berbasis sistem informasi geografis (GIS) dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP).
Dari tujuh parameter geologi yang dianalisis, terdapat tiga faktor utama yang paling memengaruhi penempatan situs Jere. Faktor terbesar adalah bahaya erupsi gunung api dengan pengaruh sekitar 37,97 persen, di mana sebagian besar situs berada di luar zona bahaya. Faktor berikutnya adalah kedekatan dengan sungai dengan pengaruh 25,75 persen, karena akses terhadap air menjadi kebutuhan penting bagi kehidupan masyarakat masa lalu. Sementara itu, faktor geomorfologi seperti wilayah kaki gunung yang lebih landai menyumbang pengaruh 13,78 persen.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa situs Jere bukan sekadar peninggalan arkeologis, tetapi memiliki makna spiritual yang kuat bagi masyarakat Ternate. Hingga kini, situs-situs tersebut masih dianggap sakral dan sering dikunjungi dalam berbagai ritual adat.
Salah satunya adalah tradisi Kololi Kie, di mana masyarakat mengunjungi sejumlah situs Jere untuk memanjatkan doa keselamatan dari ancaman erupsi Gunung Gamalama.
Temuan ini sekaligus memperkuat hubungan antara budaya masyarakat Ternate dengan lanskap geologi di sekitarnya. Menurut Chusni, pemahaman tersebut penting untuk mendukung pengembangan Ternate Aspiring National Geopark, yang mengintegrasikan keragaman geologi, biodiversitas, serta kekayaan budaya lokal.
Melalui pendekatan geoarkeologi, lanjut Chusni, penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar penting dalam pengelolaan warisan geologi dan budaya secara berkelanjutan, sekaligus membuka peluang pengembangan geowisata dan ekonomi lokal di masa depan. (dil)




















