INDOPOSCO.ID – Sejumlah tokoh, akademisi, aktivis, dan elemen masyarakat sipil menggelar acara bertajuk “Doa untuk Bangsa dan Dunia; Refleksi untuk Tragedi Umat Manusia” di Aula Dr. K.H. Jalaluddin Rakhmat, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (7/3/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama atas situasi geopolitik global yang dinilai semakin memanas serta dampaknya terhadap kemanusiaan dan stabilitas dunia.
Acara yang dimulai pukul 16.00 WIB tersebut menghadirkan berbagai tokoh dari kalangan akademisi, organisasi masyarakat, serta pegiat kemanusiaan. Di antaranya Dr. Abdullah Assegaf, Dr. Airlangga Pribadi Kusman, Andar Nubowo, Prof. Arifuddin Ahmad, Azeem Marhendra Amedi, H. Daden Sukendar, Dr. Dina Yulianti Sulaeman, Dwi Rubiyanti Kholifah, KH. Miftah Fauzi Rakhmat, Fachrurozi, Mukhaer Pakkanna, Dr. Neng Hannah, Prof. Robby Habiba Abror, Pak Roberts, KH. Sofwan Yahya, Usman Hamid, H. Wawan Gunawan, serta KH. Zuhairi Misrawi.
Kegiatan ini terselenggara melalui kerja sama sejumlah organisasi masyarakat sipil, antara lain Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI), Nurcholish Madjid Society, Maarif Institute, Majlis Ukhuwah Sunni Syiah Indonesia (MUHSIN), Kajian Kang Jalal (KKJ), Komunitas Islam Madani, serta MADDAH (Muda Madani Hub).
Dalam pernyataan bersama yang disampaikan pada acara tersebut, para peserta menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta ribuan warga sipil yang menjadi korban konflik bersenjata di berbagai wilayah.
“Kami juga mengecam tindakan militer yang dianggap melanggar kedaulatan suatu negara dan bertentangan dengan prinsip-prinsip United Nations Charter,” tandas mereka.
Para tokoh masyarakat sipil menilai eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi memperburuk kondisi global jika tidak segera direspons secara bijak oleh komunitas internasional.
Melalui momentum refleksi tersebut, mereka menyerukan agar negara-negara dunia memberikan tekanan politik kepada pihak-pihak yang terlibat konflik untuk menghentikan provokasi serta serangan militer yang berpotensi memicu konflik berskala lebih luas.
Selain itu, peserta acara juga menyoroti kebijakan luar negeri Indonesia yang dinilai perlu tetap berpegang pada prinsip konstitusi serta politik luar negeri bebas aktif. Mereka menekankan bahwa kebijakan diplomasi Indonesia seharusnya berorientasi pada perdamaian, keadilan, serta penghormatan terhadap kedaulatan negara.
Sejumlah pembicara juga mendorong pemerintah Indonesia agar memperkuat peran diplomasi internasional, termasuk melalui konsolidasi negara-negara Non-Aligned Movement dan Organisation of Islamic Cooperation, untuk memperjuangkan bantuan kemanusiaan dan perlindungan hukum internasional bagi korban konflik.
Para penyelenggara berharap kegiatan doa dan refleksi ini dapat menjadi pengingat pentingnya menjaga nalar kemanusiaan, konstitusi, serta komitmen terhadap perdamaian dunia di tengah situasi global yang penuh ketegangan. (aro)




















