INDOPOSCO.ID – Di tengah sorotan para pemimpin kawasan dan investor global, Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) tampil membawa pesan tegas: masa depan energi bersih ASEAN menuntut keberanian berinvestasi dan kekompakan regulasi. Komitmen itu ditegaskan langsung oleh CEO Pertamina NRE, John Anis, saat berbicara dalam panel “Future of Investments Within Our Borders” pada ASEAN Editors and Economic Opinion Leaders Forum 2026 di Filipina.
Forum yang digelar oleh ASEAN Committee on Business and Investment Promotion bersama Departemen Perindustrian dan Perdagangan Filipina tersebut menjadi panggung strategis yang mempertemukan kepala negara, pembuat kebijakan, dan pelaku industri. Hadir dalam kesempatan itu Presiden Ferdinand R. Marcos Jr. serta Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn, mempertegas bobot diskusi tentang masa depan investasi regional.
Dalam paparannya, John Anis menyoroti fondasi utama yang kerap luput dari sorotan publik: stabilitas. Menurutnya, sektor energi baru dan terbarukan bukanlah permainan jangka pendek.
“Investasi energi bersih bersifat jangka panjang, dengan kebutuhan belanja modal besar dan periode pengembalian yang panjang. Oleh karena itu, selain kelayakan finansial, kestabilan geopolitik, konsistensi kebijakan, kepastian hukum, tata kelola yang transparan, dan konsistensi kebijakan menjadi faktor yang sangat menentukan,” ujar John Anis.
Ia memandang ASEAN berada pada momentum emas. Pertumbuhan ekonomi yang solid dan target peningkatan bauran energi terbarukan hingga 2050 menjadi kombinasi yang sulit diabaikan investor. Namun, peluang itu akan jauh lebih kuat jika negara-negara anggota mampu menyelaraskan regulasi, sehingga tercipta ekosistem bisnis yang terintegrasi dan kompetitif lintas batas.
Sebagai bagian dari Pertamina Group, Pertamina NRE mengedepankan disiplin investasi yang ketat. Setiap proyek ditimbang melalui pendekatan risk-adjusted return, dengan mempertimbangkan premi risiko negara dan sektoral, serta diuji melalui berbagai skenario tekanan geopolitik dan makroekonomi sebelum keputusan akhir diambil.
Langkah ekspansi di luar negeri pun tidak dilepaskan dari kepentingan nasional. Pertamina NRE memastikan setiap investasi memberi dampak balik bagi Indonesia, baik melalui penguatan ketahanan energi, alih teknologi, hingga penciptaan nilai tambah bagi industri dan ekonomi domestik.
Komitmen regional itu sudah terwujud secara konkret di Filipina. Pertamina NRE tercatat memiliki 20 persen saham di Citicore Renewable Energy Corporation (CREC), membuka ruang kolaborasi dalam pengembangan proyek surya skala besar sekaligus memperluas jejaring kemitraan energi bersih di kawasan.
Tak hanya soal investasi, Pertamina NRE juga mencermati praktik kebijakan Filipina, khususnya dalam implementasi mandatori bahan bakar nabati. Pengalaman tersebut dinilai relevan sebagai referensi untuk mempercepat pengembangan ekosistem bioetanol di Indonesia, mulai dari perumusan regulasi, model bisnis, hingga skema insentif investasi.
Menutup sesi diskusi, John Anis menggarisbawahi bahwa hubungan investor dan negara tuan rumah tak boleh berhenti pada angka-angka transaksi. “Investasi bukan sekadar transaksi, melainkan kemitraan jangka panjang. Diperlukan ambisi bersama, peluang ekonomi yang jelas, serta motivasi untuk berkolaborasi melalui transfer teknologi, penguatan kapasitas lokal, dan tata kelola yang baik,” tegasnya.
Dengan pendekatan strategis tersebut, Pertamina NRE kian mengukuhkan perannya sebagai motor transformasi energi dan katalis investasi hijau di ASEAN, sembari mendorong terciptanya lanskap investasi kawasan yang stabil, transparan, dan kolaboratif. (her)










