INDOPOSCO.ID – Presiden Prancis Emmanuel Macron kembali menegaskan komitmennya untuk memastikan pembukaan kembali Selat Hormuz guna menjaga stabilitas pasokan energi global. Ketidakpastian geopolitik saat ini berisiko memicu kepanikan pasar yang berujung pada kelangkaan energi.
“Tujuan kami adalah untuk mencapai pembukaan kembali penuh dalam beberapa hari dan minggu mendatang, sesuai dengan hukum internasional, menjamin kebebasan navigasi tanpa tol di Selat Hormuz. Kemudian segalanya secara bertahap dapat kembali normal,” kata Macron saat konferensi pers di Athena bersama Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis seperti dilansir dari Al Jazeera, Sabtu (25/4/2026).
Pernyataan Macron muncul sehari setelah CEO TotalEnergies Patrick Pouyanne memperingatkan kekurangan energi global, jika perang Iran berlanjut selama berbulan-bulan.
“Jika itu berlangsung dua, tiga bulan lagi, kita memasuki dunia kelangkaan energi, yang telah diderita negara-negara Asia,” ucap Patrick Pouyanne pada Konferensi Kebijakan Dunia di Chantilly, di luar Paris.
“Anda tidak dapat membiarkan 20 persen minyak dan gas di planet ini terdampar dan tidak dapat diakses tanpa konsekuensi besar,” tambahnya.
Prancis dan Inggris dipimpin oleh Presiden Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Keir Starmer menginisiasi misi internasional untuk menjamin kebebasan navigasi dan membuka kembali Selat Hormuz setelah ketegangan wilayah.
Misi defensif itu akan dilaksanakan segera setelah kondisi memungkinkan, pasca diskusi dalam konferensi video global pada 17 April 2026. Serta didukung sekitar 51 negara dan bertujuan memastikan keamanan pelayaran komersial hingga distribusi energi global yang aman.
Kondisi di Selat Hormuz saat ini dilaporkan kembali memanas secara signifikan akibat ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Aktivitas pelayaran di jalur energi paling vital dunia tersebut nyaris lumpuh menyusul serangkaian insiden keamanan dan kebijakan buka-tutup jalur oleh otoritas Iran.
Sikap Iran tersebut merespons blokade militer AS melalui Komando Pusat (Centcom) yang menghentikan dan memeriksa kapal-kapal yang menuju atau keluar dari pelabuhan Iran. Apalagi dua kapal kargo berbendera Iran dicegat AS pada 19 April 2026.(dan)










