INDOPOSCO.ID – Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong bangunan bersejarah Rumah Pengasingan Bung Karno yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional dikembangkan sebagai pusat informasi, pembelajaran, serta destinasi edukasi dan rekreasi budaya.
“Kita berharap semakin banyak generasi muda yang datang dan belajar dari tempat ini. Situs ini telah ditata dengan baik, dan ke depan perlu terus diaktifkan melalui kegiatan-kegiatan budaya,” ujar dia dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Saat melakukan kunjungan budaya ke Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu, Fadli Zon mengatakan pengembangan aktivasi dapat diwujudkan melalui penyelenggaraan kegiatan seni, pembacaan puisi, pertunjukan musik, diskusi kebudayaan, hingga pengembangan ruang baca atau perpustakaan mini.
Dukungan fasilitas penunjang seperti penyediaan kopi khas Bengkulu dan kuliner tradisional juga dinilai dapat meningkatkan daya tarik kunjungan, khususnya bagi anak muda dan wisatawan dari luar daerah. Bengkulu juga memiliki arti penting dalam sejarah nasional karena di kota itu Bung Karno bertemu dengan Ibu Fatmawati, yang kelak menjahit Bendera Pusaka Merah Putih.
Di sana, Bung Karno tidak hanya menjalani masa pengasingan, tetapi, juga aktif melakukan refleksi, berdiskusi, dan berinteraksi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, serta budayawan setempat. Sejumlah koleksi di rumah pengasingan tersebut, termasuk naskah sandiwara Monte Carlo dan berbagai bacaan, menjadi bukti aktivitas intelektual Bung Karno selama berada di Bengkulu.
“Para pendiri bangsa kita mengalami pengasingan di berbagai daerah. Bung Karno di Ende dan Bengkulu. Bung Hatta dari Digul ke Banda Neira. Bung Syahrir juga dari Digul ke Banda Neira, kemudian dipindahkan ke Sukabumi. Tempat-tempat ini menjadi saksi hidup perjuangan mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,” ujar Menbud Fadli Zon.
Fadli Zon menyebutkan bahwa Bung Karno diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Bengkulu pada 1938–1942, setelah menjalani masa pengasingan di Ende pada 1934–1938. Masa pengasingan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan perjuangan tokoh-tokoh bangsa.
Melalui penguatan fungsi edukatif dan kultural di Rumah Pengasingan Bung Karno, Kementerian Kebudayaan berharap situs bersejarah ini tidak hanya menjadi tempat peringatan seremonial, tetapi, juga ruang hidup yang menginspirasi generasi penerus bangsa dalam memahami dan melanjutkan semangat perjuangan para pendiri bangsa. (ney)








