INDOPOSCO.ID – PT Krakatau Pipe Industries (Krakatau Pipe), selaku anak usaha PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, memastikan kesiapan penuh dalam memenuhi standar kualitas produksi serta ketepatan waktu pengiriman untuk proyek pipa transmisi gas Dumai–Sei Mangkei, salah satu proyek strategis nasional di sektor energi.
Direktur Komersial Krakatau Pipe, Rony Yanuardi, menegaskan koordinasi intensif dengan kontraktor pemasang menjadi kunci agar material pipa siap sesuai jadwal proyek. Dukungan suplai material dari induk usaha juga memastikan kelancaran produksi.
“Kami selaku anak usaha PT Krakatau Steel berkoordinasi dengan kontraktor proyek. Bagaimana material itu bisa ready sebelum schedule mereka bisa dijadwalkan. Kami didukung oleh induk, karena kalau proyek besar tanpa dukungan suplai material itu akan berantakan,” ujar Rony ditemui INDOPOSCO di area pabrik Krakatau Pipe di Cilegon, Banten, Kamis (19/2/2026).
Menurutnya, dari sisi produksi tidak terdapat kendala berarti. Bahkan, progres manufaktur pipa saat ini lebih cepat dibandingkan jadwal yang telah ditetapkan.
“Kalau secara produksi tidak masalah, sampai saat ini semua berjalan lancar. Kita justru lebih dulu dibanding jadwal yang ditetapkan,” katanya.
Rony menjelaskan proyek pipa transmisi gas ini merupakan proyek besar dengan spesifikasi khusus untuk sektor minyak dan gas, sehingga membutuhkan standar kualitas tinggi.
“Ini termasuk proyek besar dan bukan pipa biasa. Memang khusus dijadikan untuk pipa migas, jadi enggak sembarangan. Ini untuk membuktikan bahwa secara kapabilitas, produk nasional enggak ada masalah,” jelasnya.
Pemerintah, lanjut Rony, masih memprioritaskan produk dalam negeri untuk proyek migas, dan Krakatau Pipe saat ini tidak menghadapi kendala kapasitas maupun kapabilitas produksi.
Total kebutuhan pipa transmisi gas Dumai–Sei Mangkei mencapai sekitar 540 km, dengan total volume produksi sekitar 83 ribu ton. Hingga saat ini, Krakatau Pipe telah mengirim hampir 4 ribu ton, dan pengiriman berikutnya dijadwalkan berlangsung pada pekan depan.
Nilai proyek tersebut diperkirakan mencapai Rp3–4 triliun. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong percepatan penyelesaian proyek, bahkan ditargetkan rampung tahun ini meskipun jadwal awal hingga awal tahun depan.
“Kalau bisa tahun ini kenapa tidak. Kalau mau didorong semua di akhir Juni kita siap. Dari kami, semuanya mentargetkan paling tidak semester I sudah selesai,” jelas Rony.
Selain proyek pipa gas, Krakatau Pipe juga tengah memasok tiang baja untuk proyek infrastruktur ketenagalistrikan PLN, yang menjadi salah satu kontrak terbesar perusahaan tahun ini.
Perusahaan juga bersiap memulai proyek pipa transmisi air dari Bendungan Karian di Rangkasbitung menuju Jakarta, bekerja sama dengan Kementerian PU melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA). Nilai kontrak proyek air tersebut diperkirakan sekitar Rp500 miliar dan ditargetkan selesai tahun ini untuk mengatasi kekurangan pasokan air bersih di ibu kota.
Rony menilai proyek-proyek strategis ini akan berdampak signifikan terhadap kinerja bisnis Krakatau Pipe. Tahun lalu, perusahaan mencatat pendapatan sekitar Rp3–4 triliun tanpa adanya proyek besar. Dengan kontrak baru, perusahaan menargetkan pertumbuhan pendapatan sekitar 20–30 persen tahun ini.
“Ini termasuk proyek besar dan akan menjadi pembuktian kapabilitas kami. Target kenaikan revenue sekitar 20–30 persen,” tambahnya.
Dengan portofolio proyek strategis nasional yang semakin kuat, Krakatau Pipe menegaskan perannya sebagai pemain kunci industri pipa baja nasional sekaligus pilar penting dalam mendukung kemandirian energi dan infrastruktur Indonesia. (her)










