INDOPOSCO.ID – Keberhasilan Indonesia mengendalikan pertumbuhan penduduk melalui program keluarga berencana (KB) sejak 1970-an kini mulai menampakkan dampak jangka panjangnya. Bonus demografi yang selama ini dinikmati perlahan bergeser ke fase baru, membawa peluang sekaligus tantangan yang belum pernah dihadapi sebelumnya.
Wakil Menteri Keuangan RI Suahasil Nazara menilai, perubahan struktur penduduk Indonesia menuntut cara pandang dan kebijakan yang lebih segar.
Ia mengungkapkan empat tantangan demografi utama yang akan mewarnai perjalanan Indonesia dalam beberapa dekade mendatang.
“Tantangan pertama adalah peningkatan pendapatan seiring dengan bertumbuhnya kelas menengah yang meningkatkan aspirasi masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan, dan politik,” ujar Suahasil dalam keterangannya, dikutip Kamis (25/12/2025).
Ia menjelaskan, naiknya pendapatan per kapita, baik secara nasional maupun regional akan mengubah pola pikir masyarakat. Kelas menengah yang tumbuh bukan hanya mengejar kesejahteraan pribadi, tetapi juga masa depan generasi berikutnya.
“Kita tahu bahwa middle class, kelompok middle class yang meningkat itu bergerak sejajar dengan aspirasi yang meningkat. Aspirasi mengenai pendidikan, aspirasi mengenai kesehatan, termasuk aspirasi politik yang juga akan meningkat. Dia tidak hanya menginginkan untuk dirinya sendiri, bahkan dia menginginkan untuk generasi berikutnya, their offspring. Nah itu akan menjadi sangat-sangat penting. Ini mesti di-handle,” ungkapnya.
Tantangan berikutnya datang dari arus urbanisasi yang kian deras. Suahasil memperkirakan sekitar 70 persen penduduk Indonesia akan bermukim di wilayah perkotaan dalam 20 hingga 25 tahun ke depan. Perubahan ini akan menciptakan kesenjangan karakteristik dan kebutuhan antara masyarakat kota dan desa, yang harus diantisipasi melalui perencanaan pembangunan yang lebih inklusif.
“Ketiga, Indonesia akan menghadapi masalah aging population. Seiring dengan meningkatnya harapan hidup penduduk, struktur demografi nasional akan didominasi oleh penduduk usia lanjut,” kata Suahasil.
Ia menegaskan, tantangan penuaan penduduk bukan semata beban, melainkan peluang jika Indonesia mampu memanfaatkan second demographic dividend agar kelompok usia lanjut tetap produktif dan berkontribusi bagi perekonomian.
Sementara itu, tantangan terakhir yang tak kalah krusial adalah rendahnya partisipasi perempuan dalam perekonomian. Suahasil menilai, peran perempuan tidak boleh dipersempit hanya pada statistik pasar tenaga kerja.
“Menurut saya juga tantangan besar kita yaitu female participation in the economy. Bukan hanya in the labor market, tapi in the economy. Karena kalau hanya sekedar di labor market nanti akan ada orang labor market bilang itu gak ada marketnya, nggak ada nilainya. Padahal di dalam ekonomi, dia punya nilai yang luar biasa, yang menjadi salah satu corner dari ekonomi yang tumbuh tadi,” tambahnya.
Dengan dinamika demografi yang terus bergerak, Indonesia kini berada di persimpangan penting. Keberhasilan masa lalu menjadi modal berharga, namun arah masa depan akan sangat ditentukan oleh kesiapan kebijakan hari ini, agar perubahan jumlah dan kualitas penduduk benar-benar menjadi mesin pertumbuhan, bukan sumber persoalan baru. (her)











