• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Membentuk Generasi Adaptif: Pendidikan Karakter Jadi Jawaban di Tengah Disrupsi AI

Laurens Dami Editor Laurens Dami
Kamis, 11 Desember 2025 - 14:36
in Nasional
1000458257

Koordinator IB Diploma Programme North Jakarta Intercultural School (NJIS) Warren Wessels (duduk kanan). Foto: Dokumen NJIS

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Di tengah gelombang adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan disrupsi digital yang mengubah cara kita bekerja, dunia pendidikan menghadapi pertanyaan penting: bagaimana menyiapkan anak-anak untuk masa depan yang tidak hanya penuh ketidakpastian, tetapi juga peluang besar?

Menurut laporan terbaru dari World Economic Forum (WEF), perubahan cepat dalam teknologi dan otomatisasi akan merombak pasar kerja global secara signifikan. Sekitar 39 persen keterampilan saat ini diprediksi akan usang menjelang 2030.

BacaJuga:

Kemenhaj Tegaskan Pembayaran Dam Lewat Adhahi

Adaksi Sampaikan 7 Tuntutan pada Hardiknas 2026, Apa Saja

Peran Guru Ngaji Itu Memperkuat Moral Bangsa, Ini Penilaian Menag

Sementara beberapa pekerjaan administratif dan rutin mungkin digantikan oleh mesin. Namun dibalik itu justru muncul peluang baru, terutama pekerjaan yang menuntut kreativitas, kemampuan berpikir kritis, empati, dan keterampilan manusiawi.

Dalam konteks tersebut, pendidikan yang hanya menekankan aspek akademik saja tampak tak lagi memadai. Anak-anak perlu dibekali dengan karakter, ketangguhan, kecerdasan emosional, serta kemampuan berpikir dan beradaptasi, hal-hal yang tidak mudah digantikan oleh AI.

Pandangannya ini mewakili pengalaman Warren Wessels, Koordinator IB Diploma Programme di North Jakarta Intercultural School (NJIS). Dengan pengalaman lebih dari enam belas tahun, Warren menegaskan tujuan pendidikan seharusnya bukan sekadar mengejar nilai bagus, tetapi lebih luas daripada itu, yakni membentuk identitas, kepercayaan diri, ketahanan mental, serta kecerdasan sosial-emosional dari para siswa.

“Pencapaian akademik itu penting, tetapi perkembangan identitas, kepercayaan diri, ketahanan, dan kecerdasan sosial-emosional juga sama pentingnya. Pendidikan adalah perjalanan untuk menjadi pribadi yang utuh,” kata Warren, Kamis (11/12/2025).

Menurutnya, siswa belajar paling banyak dari apa yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari. Jika guru ingin menumbuhkan rasa ingin tahu, keberanian bertanya, berpikir kritis dan empati, maka guru sendiri harus konsisten mempraktikkan nilai-nilai itu.

Warren menjelaskan International Baccalaureate Continuum yang mana telah diterapkan di NJIS, merupakan kerangka kuat untuk membentuk pemikir mandiri. Theory of Knowledge (TOK) dan Extended Essay dapat menjadi dua pilar penting. TOK mengajak siswa mempertanyakan hal-hal yang selama ini mereka anggap benar, serta memahami bagaimana budaya, bahasa, dan emosi memengaruhi cara mereka melihat dunia.

Sementara itu, Extended Essay adalah esai akademik sepanjang empat ribu kata dengan topik pilihan siswa, menyerupai pengalaman penelitian di tingkat universitas. Siswa merancang pertanyaan penelitian, menilai sumber, membangun argumen, dan merevisi pemikiran mereka. Proses ini menantang, tetapi sangat membangun kepercayaan diri.

“Momen paling berkesan sebagai guru adalah ketika siswa menyadari bahwa mereka mampu mencapai sesuatu yang sebelumnya terasa mustahil. Dari situ muncul ketangguhan dan kepercayaan diri,” ungkapnya.

Warren juga menekankan pentingnya lingkungan belajar yang beragam dan inklusif. Indonesia adalah salah satu negara paling multikultural di dunia, dan NJIS mencerminkan kekayaan tersebut. Siswa berasal dari berbagai provinsi, budaya, bahasa, dan agama. Siswa neurodiverse dan neurotypical belajar berdampingan, yang memperkuat empati sekaligus pemahaman tentang berbagai gaya belajar dan kecerdasan majemuk.

“Di lingkungan seperti ini, keberagaman tidak hanya diajarkan, tetapi dialami secara langsung. Siswa tumbuh dengan melihat dunia melalui berbagai perspektif, dan hal itu membentuk mereka menjadi individu yang lebih berempati dan sadar akan isu global,” tegasnya.

Semua tujuan ini hanya dapat tercapai jika anak-anak merasa aman secara emosional. Mereka perlu merasa aman untuk menjadi diri sendiri, bertanya, berbuat salah, dan mencoba lagi. Warren percaya bahwa anak-anak berkembang ketika mereka merasa dihargai dan dilihat sebagai individu.

Filosofi ini juga menjadi dasar program beasiswa NJIS. Program ini mencari siswa dengan karakter kuat, potensi tinggi, kemampuan kepemimpinan, serta kemauan besar untuk belajar. NJIS Excellence Scholarship diberikan kepada siswa Indonesia dan ekspatriat di kelas sembilan hingga dua belas yang menunjukkan prestasi akademik kuat, kepemimpinan, dan keselarasan dengan nilai-nilai IB Learner Profile. Beasiswa mencakup biaya sekolah dan capital charge selama satu tahun akademik, dengan peluang perpanjangan, dan penerimanya juga menjadi duta sekolah.

“Peluang dapat mengubah potensi menjadi tujuan. Beasiswa bukan hanya bantuan biaya, tetapi keyakinan bahwa seorang siswa memiliki kapasitas untuk berkembang dan berkontribusi,” ungkap Warren.

Bagi Warren, inti pendidikan sangat jelas. Pendidikan tidak berhenti pada nilai baik atau universitas bergengsi. Pendidikan adalah proses membentuk individu bijaksana dan penuh empati, yang mampu melihat dunia dengan ketegasan dan keberanian.

“Anak-anak ini bukan hanya dipersiapkan untuk menyesuaikan diri dengan masa depan. Mereka dipersiapkan untuk membentuk masa depan itu sendiri,” tuturnya.

Dan semuanya dimulai dari ruang kelas yang penuh pertanyaan, penuh empati, dan penuh kesempatan untuk tumbuh. (her)

Tags: NJISNorth Jakarta Intercultural SchoolPendidikan Karakter

Berita Terkait.

haji
Nasional

Kemenhaj Tegaskan Pembayaran Dam Lewat Adhahi

Minggu, 3 Mei 2026 - 06:06
adaksi
Nasional

Adaksi Sampaikan 7 Tuntutan pada Hardiknas 2026, Apa Saja

Minggu, 3 Mei 2026 - 05:05
umar
Nasional

Peran Guru Ngaji Itu Memperkuat Moral Bangsa, Ini Penilaian Menag

Minggu, 3 Mei 2026 - 04:44
kai
Nasional

Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi, KAI: 76 Orang Telah Kembali dan 24 Masih Jalani Perawatan

Minggu, 3 Mei 2026 - 03:30
menaker
Nasional

Terbitkan Perpres 25/2026, Pemerintah Pastikan Hak Awak Kapal Perikanan

Minggu, 3 Mei 2026 - 02:20
diknas
Nasional

Momentum Hardiknas Meneguhkan Pendidikan yang Memerdekakan dan Berkarakter

Minggu, 3 Mei 2026 - 00:30

BERITA POPULER

  • Buruh Sebut MBG Tidak Bermanfaat saat May Day, Prabowo Auto Respons Begini

    Buruh Sebut MBG Tidak Bermanfaat saat May Day, Prabowo Auto Respons Begini

    3542 shares
    Share 1417 Tweet 886
  • Breaking News: KRL Tabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi, Jalur Lumpuh Total

    2564 shares
    Share 1026 Tweet 641
  • PSIM vs Persita: Ambisi Revans Laskar Mataram Digoyang Kendala Internal

    1594 shares
    Share 638 Tweet 399
  • Buruh dan Petani Pilih Aksi di DPR Ketimbang Monas demi Suarakan Kesejahteraan

    1275 shares
    Share 510 Tweet 319
  • Klaim Bukan Terpidana, Menteri LH Jumhur Hidayat Sebut Status Hukumnya ‘Ngambang’

    1031 shares
    Share 412 Tweet 258
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.