INDOPOSCO.ID – Dewan Pengawas Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI), Harjo Susmoro, menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap maraknya penipuan keuangan di Indonesia di tengah perkembangan teknologi global yang melaju cepat. Dengan tegas, Harjo menyinggung kesenjangan kemampuan bangsa menghadapi lompatan teknologi.
“Hari ini kita sudah memasuki era digital 5.0. Tapi pengamatan saya, Indonesia ini 4.0 saja masih terpontal-pontal (kewalahan),” ujar Harjo dalam seminar bertema “Pemberantasan Penipuan Transaksi Keuangan” di Jakarta, Rabu (19/11/2025).
Ia menegaskan bahwa dunia bergerak menuju era kecerdasan buatan (AI) dan robotik yang membawa perubahan sosial sangat signifikan, sebuah fase yang ia sebut sebagai era disrupsi.
Harjo menyoroti bahwa perkembangan digital yang memudahkan aktivitas masyarakat justru melahirkan ancaman baru.
“Semakin mudah dan semakin luas jangkauannya, tapi di balik itu semua ada ancaman. Ancaman penipuan finansial yang semakin beragam, semakin canggih, dan semakin sulit dideteksi,” tegasnya.
Ia memaparkan berbagai modus penipuan keuangan yang marak menjerat masyarakat, mulai dari phishing, social engineering, penipuan investasi, hingga pinjaman online ilegal. Data terakhir menunjukkan nilai kerugian mencapai Rp7 triliun dari 293 ribu transaksi.
“Ini persoalan yang sangat luar biasa. Kalau dibiarkan, tentu akan mengganggu tatanan kehidupan nasional,” tuturnya.
Menurut Harjo, pemberantasan penipuan transaksi keuangan tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan pendekatan komprehensif dari hulu ke hilir, mulai dari edukasi publik hingga penguatan regulasi dan teknologi.
“Dampak penipuan keuangan bukan hanya kerugian material. Ini dapat meruntuhkan kepercayaan publik terhadap industri keuangan dan mempengaruhi ekonomi nasional,” jelasnya.
Lebih lanjut, Harjo menekankan pentingnya literasi keuangan dan literasi digital agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam berbagai skema penipuan.
“Masalah literasi ini sangat urgent. Sekarang orang lebih lama melihat media sosial (medsos) yang merusak hati daripada membaca pengetahuan yang mempermudah hidup,” tambahnya. (her)










