• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nusantara

Menilik Potensi Wisata Pengamatan Migrasi Burung

Folber Siallagan Editor Folber Siallagan
Sabtu, 8 November 2025 - 15:02
in Nusantara
17625849615601705128336353555429

Seorang pengamat burung mengoperasikan teropong untuk melihat burung migran yang terbang dari Bukti Nipah, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (18/10/2025). ANTARA/Sugiharto Purnama

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Musim dingin yang menjadikan suhu udara berada di bawah titik beku membuat sebagian besar hewan harus hibernasi untuk bertahan hidup dari lingkungan ekstrem.
Ketika musim dingin menyelimuti belahan bumi utara, makhluk hidup enggan beraktivitas seperti biasa. Insekta dan makhluk sejenis yang sehari-hari menjadi mangsa bagi kawanan hewan ovipar (berkembang biak dengan bertelur) tak sudi menampakkan diri akibat lingkungan membeku.

Keterbatasan persediaan pakan akibat insekta yang tak mau nongol itu, mendorong migrasi burung. Demi mencegah kelaparan dan mati dalam sunyi, jutaan burung terbang ke wilayah bersuhu hangat untuk mencari pakan dan berkembangbiak. Belahan bumi selatan adalah tujuan utama mereka melakukan migrasi pada setiap penghujung tahun.

BacaJuga:

Budidaya Maggot dan Pertanian Organik Antar Warga Gunungkidul Jadi Kampung Tangguh Iklim

Bea Cukai Perkuat Literasi Ekonomi Generasi Muda lewat Edukasi Kepabeanan dan Pajak

Gempa Bumi Hantam Wilayah Sangihe di Sulawesi Utara

Jalur migrasi burung dari utara ke selatan berada dalam koridor tetap. Tempat istirahat atau rest area untuk melepas lelah dari perjalanan panjang yang menghabiskan waktu berminggu-minggu, salah satunya ada di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Daerah tropis yang berada dekat khatulistiwa dan dilintasi garis Wallace membuat NTB punya lingkungan yang ideal bagi burung migran karena memiliki kawasan hutan basah, padang savana, mangrove, maupun rawa.

Momentum kedatangan burung migran dari belahan bumi utara dapat dimanfaatkan untuk aktivitas pengamatan burung dalam rangka memperkaya pengetahuan dan keilmuan bidang ekologi.

Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu rute yang selalu dilewati burung migran dari belahan bumi utara menuju selatan maupun dari bumi selatan menuju utara.

Burung-burung dari Asia Timur umumnya melalui Tiongkok, Taiwan, Filipina, Kalimantan, Sulawesi, Sumbawa, dan Nusa Tenggara, kemudian melaju ke Australia. Adapula spesies burung lain yang melalui jalur barat, yakni Sumatera, Jawa, dan Bali atau melalui jalur tengah, yaitu Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur.

Nusa Tenggara Barat berada di jalur East Asian – Australasian Flyway (EAAF) yang membentang dari Rusia Timur dan Alaska menuju selatan hingga Australia dan Selandia Baru. Jalur terbang Asia Timur – Australia tersebut merupakan salah satu jalur migrasi burung terpadat di dunia karena dilewati hingga 50 juta ekor burung migran setiap tahun.

Posisi Nusa Tenggara Barat yang masuk dalam jalur migrasi terpadat menjadikan aktivitas pengamatan burung migran sebagai sebuah potensi baru bagi pengembangan ekowisata daerah.

Beberapa daerah di Nusa Tenggara Barat yang sering dikunjungi burung migran adalah ekowisata mangrove Bagek Kembar di Lombok Barat, areal perbukitan di pesisir Lombok Utara, dan Taman Nasional Moyo Satonda di Pulau Sumbawa.

Sarana edukasi dan rekreasi

Pada 18-19 Oktober 2025, sekelompok anak muda yang digerakkan Yayasan Paruh Bengkok Indonesia berkumpul di Bukit Nipah, Lombok Utara. Mereka menengadahkan kepala ke langit, mengamati pergerakan setiap burung yang terbang di atas laut biru.

Meski jarak burung sejauh ratusan meter dari posisi mereka, anak-anak muda itu piawai mengidentifikasi spesies burung apa yang terbang.

Triadede, salah satu peserta pengamatan burung migran menuturkan kegiatan itu dapat menjadi sarana edukasi dan rekreasi. Ia merasakan keseruan dalam mengamati burung yang sebelumnya tak pernah dilakukan seumur hidupnya.

Pria asal Jonggat, Lombok Tengah tersebut mengaku dapat lebih mengetahui jenis burung yang sedang diamati meski tidak mengetahui secara spesifik nama ilmiahnya.

Yayasan Paruh Bengkok Indonesia menyatakan wisata minat khusus pengamatan migrasi burung belum populer. Walau Indonesia dilewati jutaan burung migran setiap tahun, namun tidak ada daerah yang menjadikan migrasi burung sebagai objek wisata.

Penasihat Ilmiah Paruh Bengkok Indonesia Saleh Amin mengatakan ada beberapa lokasi pengamatan burung migran di Indonesia, seperti kawasan Puncak Bogor di Jawa Barat dan Gunung Seger di Bali. Potensi itu belum dilirik secara serius baik oleh pemerintah maupun pihak swasta.

Saleh menilai pemerintah dengan kekuatan yang sangat besar seharusnya bisa mendukung aktivitas pengamatan migrasi burung melalui regulasi. Pemerintah dapat berfokus pada kebijakan konservasi yang mendukung habitat di sepanjang jalur migrasi burung agar selalu lestari.

Bentuk regulasi yang dapat dilakukan adalah mempertegas dan mencegah perburuan burung migran dengan senapan angin, deforestasi, dan kebijakan lain yang turut menjaga habitat. Perubahan lingkungan yang terjadi pada kawasan persinggahan burung mingguan dapat berpotensi mengubah jalur migrasi.

Wisata berkelanjutan

Tren pariwisata global sedang beralih dari wisata massal ke wisata berkelanjutan yang tersegmentasi, seperti pengamatan burung atau birdwatching yang memiliki potensi menjanjikan untuk mendongkrak ekonomi lokal.

Aktivitas utama wisata minat khusus ini hanya berupa mengamati burung pada habitat alami tanpa merusak hutan, mangrove, rawa, maupun pantai yang menjadi tempat persinggahan burung migran. Dampak ekologis dan jejak karbon yang ditinggalkan tentu jauh lebih sedikit ketimbang wisata massal.

Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram Zefanya Andryan Girsang mengatakan walau peminat wisata pengamatan burung relatif sedikit, namun wisatawan cenderung tinggal lebih lama dan rela merogoh biaya besar demi melihat keindahan berbagai spesies burung migran.

Kegiatan mengamati burung migran selalu mengedepankan prinsip menghormati lingkungan dan menjaga nilai-nilai budaya masyarakat lokal.

“Kombinasi antara keanekaragaman hayati dan lanskap yang indah menjadikan Nusa Tenggara Barat sangat potensial menjadi destinasi birdwatching kelas dunia setara dengan destinasi populer, seperti Arfak dan Waigeo di Papua Barat,” kata Zefanya yang akrab disapa Ivan, lulusan magister bidang manajemen pariwisata dan olahraga dari Nicolaus Copernicus University di Polandia tersebut.

Aktivitas pengamatan burung dapat menjadi diversifikasi produk wisata bagi Nusa Tenggara Barat bila ditilik dari kacamata pemasaran pariwisata.

Dengan keragaman wisata, maka berpotensi meningkatkan durasi lama tinggal dan belanja para wisatawan. Hal tersebut merupakan dua indikator yang menjadi ukuran penting dalam menilai performa ekonomi pariwisata daerah.

Pemerintah berperan besar dalam mengembangkan wisata minat khusus pengamatan burung migran, sekaligus membangun jejaring internasional melalui tour operator dengan negara penyumbang wisatawan terbanyak.

Sinergi lintas sektor dalam kerangka pentahelix harus mampu dibangun agar Nusa Tenggara Barat tidak saja disinggahi oleh burung-burung dari luar negeri, namun juga dikunjungi wisatawan dari berbagai belahan dunia.

Regulasi mesti diperketat untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan konservasi. Regulasi itu dapat tertuang dalam peraturan daerah yang mengatur mengenai kualifikasi tour operator dan pemandu wisata alam yang menyelenggarakan pengamatan burung mencakup pembatasan jumlah pengunjung, penentuan zona konservasi, serta pelaksanaan.

Melalui perencanaan matang dengan menyelaraskan kepentingan ekonomi dan kelestarian alam, maka aktivitas pengamatan burung migran dapat menjadi ikon wisata baru yang memperkuat citra destinasi di Indonesia terkhusus Nusa Tenggara Barat.

Di balik kepakan sayap jutaan ekor burung migran tersimpan potensi besar untuk membangun masa depan pariwisata yang lebih hijau, cerdas, dan berkelanjutan. (bro)

Tags: BurungMigrasiMigrasi Burungwisata

Berita Terkait.

Budidaya Maggot dan Pertanian Organik Antar Warga Gunungkidul Jadi Kampung Tangguh Iklim
Nusantara

Budidaya Maggot dan Pertanian Organik Antar Warga Gunungkidul Jadi Kampung Tangguh Iklim

Jumat, 19 Juni 2026 - 17:17
Bea Cukai Perkuat Literasi Ekonomi Generasi Muda lewat Edukasi Kepabeanan dan Pajak
Nusantara

Bea Cukai Perkuat Literasi Ekonomi Generasi Muda lewat Edukasi Kepabeanan dan Pajak

Jumat, 19 Juni 2026 - 16:03
Gempa Bumi Hantam Wilayah Sangihe di Sulawesi Utara
Nusantara

Gempa Bumi Hantam Wilayah Sangihe di Sulawesi Utara

Kamis, 18 Juni 2026 - 23:57
2 Tersangka Penipuan Investasi Dicokok, Korban Minta Fakta Dibuka Terang Benderang
Nusantara

2 Tersangka Penipuan Investasi Dicokok, Korban Minta Fakta Dibuka Terang Benderang

Kamis, 18 Juni 2026 - 22:37
bc2
Nusantara

Sinergi Bea Cukai dan TNI Gagalkan Penyelundupan 21 Kilogram Sabu di Perbatasan Indonesia-Malaysia

Kamis, 18 Juni 2026 - 14:04
gempa
Nusantara

6.458 Orang Terdampak Gempa M 6,7 di Sulawesi Tengah, Terbanyak dari Sigi

Kamis, 18 Juni 2026 - 13:15

BERITA POPULER

  • Hasil Piala Dunia: Qatar Buyarkan Kemenangan Swiss, Brasil Gagal Tumbangkan Maroko

    Hasil Piala Dunia: Qatar Buyarkan Kemenangan Swiss, Brasil Gagal Tumbangkan Maroko

    7136 shares
    Share 2854 Tweet 1784
  • Hantavirus Ramai Dibahas, Benarkah Bisa Jadi Pandemi Baru

    1776 shares
    Share 710 Tweet 444
  • Purbaya Siapkan APBN Hadapi Tantangan Global, Prioritas Nasional Tetap Jalan

    1044 shares
    Share 418 Tweet 261
  • Peringatan Dini BMKG, Jakarta Diguyur Hujan Merata Hari Ini

    994 shares
    Share 398 Tweet 249
  • Los Blancos Makin Ganas! Rekrut 2 Bintang Tanpa Mahar, Kini Incar Bek Inter

    951 shares
    Share 380 Tweet 238
Kejagung Bongkar Peran Glory Harimas Sihombing, Tersangka Baru Korupsi MBG
Olahraga

Alasan Granit Xhaka Ambil Penalti di Injury Time saat Swiss Bekuk Bosnia

Editor Juni Armanto
Jumat, 19 Juni 2026 - 16:42

INDOPOSCO.ID – Setelah sempat tersendat di laga pembuka, Swiss akhirnya menemukan ritmenya di laga kedua Piala Dunia 2026 pada Jumat...

SelengkapnyaDetails
Ismael Kone

Piala Dunia 2026: Kemenangan Kanada Diwarnai Cedera Horor Ismael Kone, Jesse Marsch Prihatin

Jumat, 19 Juni 2026 - 11:37
Hasil Piala Dunia: Bungkam Korsel 1-0, Meksiko Pastikan Langkah ke 32 Besar

Hasil Piala Dunia: Bungkam Korsel 1-0, Meksiko Pastikan Langkah ke 32 Besar

Jumat, 19 Juni 2026 - 10:47
Piala Dunia 2026: Hugo Broos Puas Afsel Tampil Lebih Agresif saat Imbangi Ceko

Piala Dunia 2026: Hugo Broos Puas Afsel Tampil Lebih Agresif saat Imbangi Ceko

Jumat, 19 Juni 2026 - 09:01
Hasil Piala Dunia: Kanada Gunduli Qatar, Swiss Menang Meyakinkan atas Bosnia

Hasil Piala Dunia: Kanada Gunduli Qatar, Swiss Menang Meyakinkan atas Bosnia

Jumat, 19 Juni 2026 - 08:23
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.