INDOPOSCO.ID – Tujuan didirikan Formula Santri (Forum Musyawarah Ulama dan Santri) untuk membangun konektivitas sekaligus penguatan peran ulama, kiai, cendikiawan muslim dan santri dalam menjawab tantangan global mukti sektoral.
Pernyataan tersebut diungkapkan Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin di Masjid Istiqlal Jakarta, Kamis (23/10/2025). Ia mengatakan, Formula Santri bukan semata urusan keislamaan tapi juga kebangsaan, pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya.
“Kiai harus lebih mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara. Mencerahkan pemikiran masyarakat di era post thruth atau saya mengebutnya zamanul iltibas,” katanya.
“Zaman penuh kesamaran, distrupsi dan hoax. Formula Santri bukan ormas atau afiliasi politik. Tapi, tempat mudzakarah dan berkumpulnya ulama, kiai, dan para santri untuk membahas permasalahan yang terjadi di masyarakat agar tidak tersesat,” sambungnya.
Lebih jauh Wakil Presiden (Wapres) 2019-2024 ini menegaskan bahwa Formula Santri tempat bersilaturrahim kiai lintas generasi dan lintas organisasi. Bukan hanya Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah saja, tapi semuanya.
“Ulama, kiai, dan santri harus menjadi fail, bukan maf’ul bihi. Memberikan pencerahan kepada masyarakat dalam berbagai sendi kehidupan,” ucapnya.
Di tempat yang sama, Menteri Agama (Menag) Prof. KH. Nasaruddin Umar menyambut baik hadirnya Formula Santri. “Formula Santri semoga bisa memberikan pencerahan kepada umat tentang Islam washatiyah,” kata Nasaruddin.
“Semakin banyak ulama, kiai, dan santri yang turun langsung membersamai umat, maka akan menghadirkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang aman, damai, tentram, dan sejahtera,” imbuhnya.
Diketahui, menyambut Hari Santri Nasional 2025 Wakil Presiden Republik Indonesia ke-13, Prof. KH. Ma’ruf Amin dan Menteri Agama, Prof. KH. Nasaruddin Umar, meresmikan berdirinya Forum Musyawarah Ulama & Santri (Formula Santri) di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (23/10/2025).
Ketua Formula Santri, KH. Arif Fahrudin bersama KH. Dr. Irfan Zindy membacakan lima butir deklarasi, di antaranya:
1. Meneguhkan ukhuwah dan persaudaraan, lintas pesantren dan lintas generasi, dalam rel Ahlus Sunnah wal Jamaah.
2. Menghidupkan tradisi keilmuan dan adab, sebagaimana diwariskan oleh para guru dan salafus shalih.
3. Menjawab tantangan zaman dengan panduan Al-Qur’an, Sunnah, dan kebijaksanaan turats Islam Nusantara.
4. Mendorong kemandirian santri, agar mampu menjadi pelita masyarakat dalam dakwah, pendidikan, dan ekonomi umat.
5. Menjaga marwah ulama dan pesantren, sebagai benteng aqidah, akhlak, dan kemuliaan bangsa. (nas)











