• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Prevalensi Stunting Anak Balita Capai 30 Persen, Edukasi Pengganti ASI Tak Boleh Berhenti

Laurens Dami Editor Laurens Dami
Selasa, 8 Oktober 2024 - 18:49
in Nasional
Posyandu

Ilustrasi layanan bagi anak di posyandu. Foto: Dokumen INDOPOS.CO.ID & INDOPOSCO

Share on FacebookShare on Twitter

BacaJuga:

Setara Institute Rilis IKT 2025: Salatiga Unggul, Toleransi Jadi Kunci Stabilitas dan Ekonomi

DPR Sahkan UU PPRT, KSPI: Kemenangan bagi Pekerja Domestik

Dari Kain Batik Tersimpan Warisan Pengetahuan, Begini Pesan Menteri PANRB

INDOPOSCO.ID – Edukasi masyarakat terkait pengentasan stunting terus dilakukan di Indonesia. Salah satunya konsumsi kental manis bagi anak dan batita (bawah tiga tahun).
“Harus ada edukasi bagi masyarakat. Jangan karena murah kemudian digunakan untuk pengganti air susu ibu (ASI) kepada anak dan batita,” kata Ketua Periodik Muslimat NU 2024, Aniroh dalam keterangan, Selasa (8/10/2024).
Kegiatan edukasi, menurutnya, dilakukan agar mindset masyarakat tidak berubah dan kembali memberikan kental manis kepada anak dan batita karena murah.
“Urgensi untuk terus mengedukasi masyarakat agar tidak tidak memberikan kental manis kepada anak sebagai pelengkap gizi,” katanya.
Dia mengungkapkan bahwa ada penurunan angka stunting dari 22 persen di 2022 menjadi 18 persen di 2024. Menurutnya, jangan sampai progres yang sudah baik ini berjalan mundur karena kekurangan kesadaran orang tua akan bahaya kental manis.
“Artinya ini ada penurunan 3 persen. Meski demikian, pengetahuan ibu-ibu harus terus ditingkatkan agar stunting bisa mencapai 0 persen,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa kental manis sebenarnya digunakan sebagai topping makanan. Sebabnya, sambung dia, entitas pangan tersebut tidak boleh diberikan kepada anak-anak yang masih tumbuh sebagai pengganti susu.
“Kental manis ini bukan susu, jangan sampai perkembangan otak anak-anak terganggu karena malah diberikan gula,” katanya.
Sementara itu, Ketua Harian Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) Arief Hidayat menyayangkan bahwa masih masyarakat yang berpersepsi bahwa kental manis adalah susu. Padahal, dia melanjutkan, komposisi kental manis mayoritas berisi gula dan hanya 5 persen mengandung susu.
“Kental manis bukanlah susu dan tidak boleh diberikan sebagai pengganti ASI,” kata Arief Hidayat.
Dia mengatakan, kental manis merupakan salah satu penyebab stunting. Dia melanjutkan, oleh karena itu kental manis tidak boleh diberikan kepada anak batita dan baru lahir untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi dan anak.
Arief mengingatkan bahwa saat ini banyak anak-anak yang terus melakukan cuci darah akibat terlalu banyak mengonsumsi makanan manis. Dia melanjutkan, akan menjadi hal yang sangat berbahaya apabila anak sudah mengonsumsi 3 sampai 6 botol kental manis per hari.
“Ini yang menyebabkan gangguan perkembangan otak pada anak. Makanya ini bahaya. Jadi kalau ibu ngasih kental manis sama saja ibu ngasih sirup ke anak,” katanya.
Diketahui, data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa prevalensi stunting pada anak di bawah lima tahun (Balita) berkisar sekitar 20-30 persen. Namun, angka ini dapat bervariasi berdasarkan daerah. (nas)
Tags: anakASIbalitakental manisstunting

Berita Terkait.

setara
Nasional

Setara Institute Rilis IKT 2025: Salatiga Unggul, Toleransi Jadi Kunci Stabilitas dan Ekonomi

Rabu, 22 April 2026 - 21:01
said
Nasional

DPR Sahkan UU PPRT, KSPI: Kemenangan bagi Pekerja Domestik

Rabu, 22 April 2026 - 20:22
batik
Nasional

Dari Kain Batik Tersimpan Warisan Pengetahuan, Begini Pesan Menteri PANRB

Rabu, 22 April 2026 - 20:02
Workshop
Nasional

Komdigi Gandeng Media, Kisah Koperasi Desa Disulap Jadi Narasi Ekonomi Rakyat yang Menginspirasi

Rabu, 22 April 2026 - 18:37
Bea Cukai dan Polri Gagalkan 40 Kg Sabu di Bakauheni, Empat Tersangka Diamankan
Nasional

Undang-Undang PPRT Lindungi PRT dari Kesewenang-wenangan

Rabu, 22 April 2026 - 18:07
Bea Cukai dan Polri Gagalkan 40 Kg Sabu di Bakauheni, Empat Tersangka Diamankan
Nasional

Bukan Sekadar Lelang, BPA FAIR 2026 Jadi Wajah Baru Pemulihan Aset Negara

Rabu, 22 April 2026 - 16:33

BERITA POPULER

  • pemain-Semen-Padang

    Semen Padang vs Persijap: Krisis Pemain, Kedalaman Skuad Kabau Sirah Diuji

    1273 shares
    Share 509 Tweet 318
  • Isu Lengser hingga Gibran Diseret, Pengamat Buka Peta Ancaman Prabowo

    896 shares
    Share 358 Tweet 224
  • Ragam Busana Adat Daerah Warnai Kemeriahan Peringatan Hari Kartini 2026 di Permatahati

    764 shares
    Share 306 Tweet 191
  • Industri Sawit Perkuat Komitmen Keberlanjutan, Sinergi dengan BPDP Diperkuat

    758 shares
    Share 303 Tweet 190
  • Catat Tanggalnya! Dividen BBRI Rp52,1 Triliun Siap Dibagikan untuk Pemegang Saham

    735 shares
    Share 294 Tweet 184
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.