• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Tambang Gethuk

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Minggu, 16 Juni 2024 - 08:00
in Disway
Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Tambang batu bara haram? Kalau begitu mengapa NU bersemangat sekali untuk bisa dapat hibah tambang dari pemerintah? Bahkan sudah lebih konkrit: alokasi wilayah tambangnya sudah ditentukan (lihat Disway edisi: Tambang Bumi).

Tambang haram? “Jangankan tambang. Ayam goreng saja bisa haram,” ujar Gus Yahya, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). “Misalkan kalau ayamnya hasil curian,” tambahnya. “Atau ayamnya tidak disembelih dengan cara yang benar,” katanya lagi.

BacaJuga:

Krisis Bukan

James Freddy Sundah

MBG

Gus Yahya akhirnya memang turun tangan memberikan kontra narasi atas sorotan tajam ke NU di soal tambang.

Kontra narasi serupa tidak dilakukan saat NU disorot telah berpolitik memihak Jokowi dalam Pilpres yang lalu. Waktu itu NU seperti diam-diam menjalankan misi tertentu.

Jadi, kata Gus Yahya soal haramnya tambang, itu karena asal-usulnya, pengelolaannya, dan penggunaan hasilnya.

“Kalau hasil tambahnya nanti untuk judi, ya haram,” katanya. “Tapi memanfaatkan hasil tambang batu bara tidak otomatis haram,” tambahnya.

Soal asal-usul tambang, Gus Yahya justru memuji Jokowi. “Ini kan datang dari niat baik pemerintah untuk menerobos asimetris distribusi sumber daya alam,” ujar Gus Yahya.

Ketimpangan distribusi sumber daya alam itulah, katanya, yang justru akan diterobos pemerintah. Selama ini tambang batu bara hanya dinikmati segelintir pengusaha. Jutaan hektare. Mereka menjadi sangat kaya. Sampai ada yang punya pesawat-pesawat pribadi. Kata Gus Yahya, mereka menjadi terlalu kuat.

Kalau hasil pengurangan lahan tambang dari perusahaan besar itu ditenderkan, pasti akan jatuh ke lingkaran orang-orang itu lagi.

“Padahal kalau diberikan ke ormas keagamaan hasilnya bisa untuk umat,” katanya. Dengan demikian maka keadilan distribusi sumber daya alam pun lebih baik.

Itulah sebabnya ketika mendapat tawaran hibah tambang NU langsung mengajukan permohonan.

“Jangankan tambang batu bara, sampeyan-sampeyan ini ditawari gethuk saja mau,” gurau Gus Yahya. Gethuk adalah makanan berasal dari singkong yang ditumbuk halus. Batubara warnanya hitam. Gethuk warnanya putih.

Kenapa NU mengajukan permohonan itu? “Ya karena jelas, kita butuh itu,” katanya.

Gus Yahya lantas berseloroh sambil menunjuk hadirin dari kalangan NU. “Coba lihat sampeyan-sampeyan ini, melarat semua. Sudah berapa lama melarat seperti ini,” katanya.

“Warga NU itu saking sudah lamanya melarat sampai pun imajinasi untuk menjadi kaya saja tidak punya,” katanya.

Gus Yahya rupanya juga mendengar sorotan ini: mengapa tidak mengutamakan penggalangan iuran anggota saja. Kalau setiap warga NU urunan Rp 2.000 saja seminggu sekali, hasilnya sudah lebih banyak dari tambang batu. bara. Apalagi pasti banyak yang tidak sekadar Rp 2 000 –harga sebatang rokok yang paling murah.

Si pengusul kelihatannya belum pernah jadi pengurus ormas: betapa sulitnya mengumpulkan iuran dari anggota. Padahal, kewajiban iuran itu sudah ditegaskan dalam konstitusi ormas: di anggaran dasar dan anggaran rumah tangga mereka.

Mungkin hanya Muhammadiyah yang relatif bisa menjalankan amanat konstitusi organisasi itu.

Soal iuran anggota itu Gus Yahya hanya bisa menanggapi dengan melucu. “Mau mengembangkan sumber daya manusia kok pakai iuran. Ini pasti gara-gara terlalu lama melarat sehingga imajinasi pun tidak punya”.(Dahlan Iskan)

Tags: disway

Berita Terkait.

disway
Disway

Krisis Bukan

Minggu, 10 Mei 2026 - 08:00
disway
Disway

James Freddy Sundah

Sabtu, 9 Mei 2026 - 08:00
disway
Disway

MBG

Jumat, 8 Mei 2026 - 08:00
Panda Dimsum
Disway

Panda Dimsum

Kamis, 7 Mei 2026 - 08:00
disway
Disway

Kelapa Gading

Selasa, 5 Mei 2026 - 08:00
disway
Disway

VVIP Selamanya?

Senin, 4 Mei 2026 - 08:00

BERITA POPULER

  • Buruh Sebut MBG Tidak Bermanfaat saat May Day, Prabowo Auto Respons Begini

    Buruh Sebut MBG Tidak Bermanfaat saat May Day, Prabowo Auto Respons Begini

    3702 shares
    Share 1481 Tweet 926
  • 22 Tahun UU PPRT Baru Disahkan, DPR RI: Ini Kemenangan Pekerja Perempuan

    1046 shares
    Share 418 Tweet 262
  • PSIM vs Malut United: Laskar Kie Raha Enggan Terkecoh Tren Buruk Tuan Rumah

    681 shares
    Share 272 Tweet 170
  • DPR Didesak Turun Tangan, Warga Pam Baru Benhil Bersikukuh Tolak Penggusuran Paksa

    673 shares
    Share 269 Tweet 168
  • Lisa Blackpink dan Ningning aespa Tuai Kontroversi, Seruan Boikot Menguat

    663 shares
    Share 265 Tweet 166
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.