• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Headline

Sebut Penguasa Seperti Orde Baru, Pengamat: Kapan Megawati Pecat Jokowi?

Folber Siallagan Editor Folber Siallagan
Selasa, 28 November 2023 - 10:55
in Headline
Jokowi-gandeng-Mega-co

Momen Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri beberapa waktu lalu. (foto : ist)

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Pengamat politik Muslim Arbi memempertanyakan langkah politik Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri terhadap Presiden Joko Widodo setelah menyebut penguasa sekarang seperti orde baru.

Menurutnya, Megawati harus segera bertindak tegas jika ingin dipandang masyarakat komitmen atas pernyataannya.

BacaJuga:

Soroti Kasus Keluarga Jokowi, Sobary Sebut Pendekatan Hensa Terjebak “Tragedi Sisyphus

MUI Minta LGBT Dipidanakan, Desak Pemerintah Bentuk Aturan Khusus

3 Jurus Baru JKN Diluncurkan, BPJS Watch: Jangan Reformasi Cuma Ganti Nama Masalah

“Saya bertanya dalam hati. Apakah Mba Mega serius bicara begitu? Kalau serius, publik akan bertanya. Emang Penguasa saat ini siapa? Bukankah Megawati telah menjadikan sebagai petugas partai sejak awal? Jokowi Presiden, bukan?” kata Muslim dalam keterangannya kepada Indopos.co.id, Selasa (28/11/2023).

“Lah kalau begitu petugas partainya yang bertindak seperti orde baru dibiarkan? Dan terus berlama-lama?” sambung Muslim.

Muslim menuturkan, apakah dengan membiarkan ber lama-lama petugas partai berkuasa seperti orde baru itu, maka artinya: Megawati telah turut andil besar bikin Orde Baru Jilid 2.

“Dan membiarkan kekuasaan mirip orde baru (Orba) berlama-lama itu tidak kah menghancurkan demokrasi dan konsitusi yang dibangun di atas pengorbanan rakyat bersama mahasiswa saat reformasi bukan?” tuturnya.

Direktur Gerakan Perubahan ini mempertanyakan, mengapa Megawati hanya mengeluh dan tidak bertindak nyata. “Padahal kerusakan saat ini sangat parah bahkan lebih parah dari Orde Baru bukan?” tandasnya.

Titah Penguasa saat ini. lanjut Muslim, sama dengan titah raja. “Seperti pernyataan Raja Louis XIV. “L’ etat Ce’s Moi”: Negara adalah Saya. Apa kata saya,” imbuh Muslim.

Dirinya meyakini banyak hal yang membuat Megawati harus berpidato seperti itu dengan memyebut penguasa sekarang seperti Orba, salah satunya afalah terkait “politik dinasti”.

“Demi mempertahankan dan memperpanjang kekuasaan, politik dinasti yang beraroma KKN di bangun dengan culas. Undang-Undang dan Konsitusi dipaksakan sesuai kemauan penguasa. Demokrasi di matikan dan di bungkam. Penguasa seperti raja yang tak dapat di bantah,” cetusnya.

Partai yang membesarkan nya, ujar Muslim, sekarang malah di perlakukan seperti musuh. “Seperti apa yang di keluhkan Megawati di Kemayoran Expo itu,” ungkapnya.

Muslim menjelaskan, Megawati sebagai ketua Partai yang membesarkan nya tak di anggap dan di gubris. Bahkan di permalukan. Permusuhan terhadap PDIP dengan mendukung capres lain di luar PDIP itu suatu pengkhianatan nyata.

Garis dan keputusan partai. Tidak dianggap dengan mendukung capres lain bersama putera nya.

“Megawati seperti tidak berharga. Sehingga Mega berujar. “Saya ini Presiden ke 5 loh”. Itulah yang saya yakini Megawati marah besar,” terangnya.

“Jadi sekarang, semua terpulang ke Megawati. Apakah Megawati akan memutuskan untuk memecat Jokowi sebagai Kader dan Petugas Partai. Atau Megawati hanya ngomel-ngomel dan mengeluh doang?” pungkasnya menambahkan.

Diketahui, dalam pidato politiknya, Megawati mengaku jengkel dengan sikap penguasa saat ini yang menurutnya ingin bertindak seperti penguasa di masa Orde Baru.

Hal ini disampaikan Megawati saat menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Relawan Ganjar-Mahfud yang dihadiri pimpinan organ relawan pendukung se-Pulau Jawa di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, Senin (27/11/2023).

“Mestinya Ibu enggak boleh ngomong gitu tapi Ibu jengkel. Karena republik ini penuh pengorbanan tahu tidak. Kenapa sekarang kalian yang pada penguasa itu mau bertindak seperti waktu zaman Orde Baru?” kata Megawati.

Pernyataan Megawati ini disambut dengan sorak-sorai dari ribuan relawan pendukung Ganjar-Mahfud yang mengikuti pidato tersebut.

Banyak pula dari mereka yang berdiri dari kursi lalu meneriakkan kata “lawan” dengan berulang-ulang.

Sorak-sorai para relawan itu pun direspons Ganjar dengan meneriakkan seruan untuk memenangkan dirinya dan Mahfud MD dalam satu putaran.

“Benar tidak, benar tidak? Merdeka, merdeka, merdeka! Menang kita Ganjar-Mahfud satu putaran!” teriak Megawati.

Megawati pun mengatakan, ia seorang manusia yang juga punya rasa jengkel apabila tidak dihormati. Padahal, ia merupakan seorang mantan presiden.

“Ya bayangkan, kok saya tidak seperti dihormati ya. Lho, kenapa? Lho saya jelek-jelek pernah Presiden lho, dan masih diakui dengan nama Presiden ke-5 Republik Indonesia lho,” kata Megawati.

Lebih lanjut, Megawati mengajak rakyat Indonesia untuk tidak takut melawan kecurangan yang mungkin terjadi pada pemilihan presiden (Pilpres) 2024.

“Kita kan rakyat Indonesia, polisi juga rakyat Indonesia, yang namanya tentara rakyat Indonesia, aparat juga rakyat Indonesia. Benar apa benar? Insyaf makanya, jangan takut,” ujar Megawati. (dil)

Tags: Jokowimegawatiorde baruPilpres 2024

Berita Terkait.

Soroti Kasus Keluarga Jokowi, Sobary Sebut Pendekatan Hensa Terjebak “Tragedi Sisyphus
Headline

Soroti Kasus Keluarga Jokowi, Sobary Sebut Pendekatan Hensa Terjebak “Tragedi Sisyphus

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:46
MUI Minta LGBT Dipidanakan, Desak Pemerintah Bentuk Aturan Khusus
Headline

MUI Minta LGBT Dipidanakan, Desak Pemerintah Bentuk Aturan Khusus

Sabtu, 13 Juni 2026 - 23:57
Jumat Bersih ala Penghulu, GEMAH Jadi Bekal Ekoteologi hingga Pelayanan Nikah Modern
Headline

3 Jurus Baru JKN Diluncurkan, BPJS Watch: Jangan Reformasi Cuma Ganti Nama Masalah

Sabtu, 13 Juni 2026 - 20:31
Syarief-Sulaeman-Nahdi
Headline

Tersangka Korupsi MBG Bertambah, Komisaris Penyedia Motor Listrik Ditahan

Sabtu, 13 Juni 2026 - 10:46
Analisis
Headline

Indonesia Punya Laboratorium Uji Cesium Produk Perikanan Pertama di Asia Tenggara

Sabtu, 13 Juni 2026 - 10:06
Aparat
Headline

Kawal Demo di Monas hingga DPR, Polres Jakpus Kerahkan 3.099 Personel

Jumat, 12 Juni 2026 - 13:04

BERITA POPULER

  • Hasil Piala Dunia: Qatar Buyarkan Kemenangan Swiss, Brasil Gagal Tumbangkan Maroko

    Hasil Piala Dunia: Qatar Buyarkan Kemenangan Swiss, Brasil Gagal Tumbangkan Maroko

    5389 shares
    Share 2156 Tweet 1347
  • Hantavirus Ramai Dibahas, Benarkah Bisa Jadi Pandemi Baru

    1553 shares
    Share 621 Tweet 388
  • Jadi Tulang Punggung Mobilitas Warga, Penyesuaian Tarif TransJakarta Dinilai Rasional

    992 shares
    Share 397 Tweet 248
  • Diduga Rombongan Caketum HIPMI, 10 Penumpang dari Bangkok Positif Narkoba

    906 shares
    Share 362 Tweet 227
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    1543 shares
    Share 617 Tweet 386
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.