• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Headline

Ini Alasan PPDB di Bogor Amburadul Banyak Kecurangan

Folber Siallagan Editor Folber Siallagan
Jumat, 21 Juli 2023 - 00:39
in Headline
Dr. Agnes Setyowati H
Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Pengamat sosial dan budaya dari Universitas Pakuan (Unpak) Dr. Agnes Setyowati H, M.Hum. mengungkapkan sejumlah alasan mengenai banyaknya peserta sistem zonasi PPDB yang tidak berlaku jujur.

“Akhir-akhir ini banyak terjadi manipulasi data kependudukan dan prestasi memang dapat merusak tujuan dari sistem zonasi,” ujarnya di Bogor, Jawa Barat, Kamis.

BacaJuga:

Day 10 of Bromo Wildfire: BNPB Reveals Three Main Challenges Hindering Firefighting Efforts

Hari ke-10 Karhutla Bromo, BNPB Ungkap 3 Kendala Utama Api Sulit Dipadamkan

Fire at Mount Bromo Expands to 889 Hectares Across Four Regencies

Menurut dia, ada beberapa alasan yang membuat seseorang menjadi tidak jujur dengan memanipulasi data tempat tinggal dan sertifikat prestasi untuk mendapatkan sekolah berbasis zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB).

Alasan tersebut, kata dia, di antaranya adanya anggapan sekolah tertentu, kualitas pendidikannya lebih baik. Beberapa sekolah berbasis zonasi dianggap memiliki reputasi yang lebih baik dalam hal kualitas pendidikan, fasilitas, dan peluang akademik.

Hal itu membuat orang tua merasa ada keinginan untuk memastikan anak-anak mereka dapat masuk ke sekolah tersebut, sehingga cenderung untuk melakukan kecurangan dengan memanipulasi agar dapat memenuhi kriteria zonasi.

Penyebab berikutnya, yaitu adanya persaingan yang ketat. Ia menyebutkan, di beberapa daerah, terutama di kota-kota besar, persaingan untuk masuk ke sekolah-sekolah berkualitas tinggi sangatlah ketat.

Jumlah tempat yang terbatas dan jumlah pendaftar yang berlimpah membuat orangtua merasa perlu untuk berusaha ekstra agar anak-anak mereka diterima.

“Dalam upaya tersebut, mereka mungkin tergoda untuk “mengakali” data agar memenuhi persyaratan zonasi,” kata Agnes yang juga Ketua Himpunan Sarjana Kesusasteraan Indonesia (HISKI) Komisariat Bogor.

Kemudian penyebab lainnya, adanya persepsi sosial dalam masyarakat bahwa pendidikan sangat penting, sehingga menimbulkan munculnya tekanan sosial yang kuat untuk menyekolahkan anak-anak di sekolah-sekolah terbaik.

Menurut Agnes, orang tua mungkin khawatir jika anak mereka tidak berhasil masuk ke sekolah yang diinginkan, mereka akan dianggap gagal dalam memenuhi tuntutan sosial atau dianggap tidak peduli dengan masa depan anak mereka.

“Untuk menghindari stigma ini, beberapa orang tua mungkin memilih untuk tidak jujur memberikan data agar dapat memasukkan anak mereka ke sekolah yang diinginkan,” ungkapnya.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Unpak ini menekankan, meskipun alasan-alasan ini dapat memberikan pemahaman tentang mengapa orang mungkin melakukan tindakan yang tidak jujur dalam konteks seleksi sekolah berbasis zonasi, penting untuk diingat bahwa tindakan tersebut melibatkan pelanggaran etika dan aturan yang berlaku.

Untuk mengatasi persoalan tentang adanya masalah dalam sistem zonasi, Agnes menyampaikan beberapa hal yang bisa dijadikan solusi atas masalah tersebut, di antaranya dengan memperkuat pengawasan.

Menurut dia, perlu adanya pengawasan yang ketat dari pemerintah daerah dan mekanisme audit yang efektif untuk memverifikasi kebenaran data kependudukan dan prestasi yang diajukan oleh siswa dan orang tua mereka.

“Hal ini dapat melibatkan pihak sekolah, dinas pendidikan, atau instansi terkait lainnya,” cetusnya.

Solusi berikutnya, berupa sanksi yang tegas. Jika terbukti melakukan manipulasi data, kata dia, harus ada sanksi yang tegas dan berlaku adil bagi mereka yang terlibat. Sanksi ini dapat berupa diskualifikasi dari proses pendaftaran atau tindakan hukum jika diperlukan.

Agnes menilai, dalam sistem zonasi sangat diperlukan solusi berupa transparansi dan komunikasi. Menurutnya, sangat penting untuk meningkatkan transparansi dalam sistem zonasi dan menyampaikan secara jelas kepada siswa, orang tua, dan masyarakat tentang prosedur pendaftaran, kriteria seleksi, dan konsekuensi dari manipulasi data.

Komunikasi yang efektif, kata Agnes, dapat membantu membangun kesadaran dan kesepahaman yang lebih baik tentang pentingnya integritas dalam proses penerimaan sekolah.

Selanjutnya, selain menggunakan zonasi sebagai kriteria utama, pihak sekolah juga dapat mempertimbangkan kriteria seleksi lain yang obyektif dan sulit dimanipulasi, seperti tes akademik independen atau penilaian keterampilan tertentu.

“Diversifikasi kriteria seleksi juga dapat membantu mencegah manipulasi data yang terkait dengan zonasi,” terang Agnes.

Ia meyakini bahwa sistem zonasi ini tentu memerlukan evaluasi dan perbaikan sistem yang berkelanjutan. Setelah setiap periode PPDB, menurut dia, penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem zonasi. Data dan umpan balik dari peserta, sekolah, dan masyarakat harus dianalisis untuk mengidentifikasi kekurangan dan perbaikan yang dapat dilakukan.

Bagi dia, sistem zonasi harus diperbarui secara berkala agar tetap relevan dengan perubahan demografi dan kebutuhan pendidikan.

Agnes menyarankan, setelahnya perlu selalu melakukan sosialisasi yang efektif. Pihak-pihak terkait, seperti pemerintah daerah, sekolah, dan media, harus melakukan sosialisasi yang efektif tentang sistem zonasi.

Sosialisasi, menurutnya, harus melibatkan orang tua, siswa, dan masyarakat umum untuk memahami proses dan kriteria zonasi agar tidak terjadi ketidakpuasan dan kontroversi.

Ia menyebutkan bahwa sistem zonasi sekolah adalah pendekatan yang digunakan oleh beberapa negara, termasuk Indonesia, untuk memastikan pemerataan akses pendidikan di antara siswa-siswa di suatu wilayah. Pada dasarnya, kata dia, sistem ini membagi wilayah menjadi zona-zona dan menetapkan siswa-siswa untuk masuk ke sekolah-sekolah di zona mereka.

“Tujuan utamanya adalah mengurangi kesenjangan dan memastikan kesempatan pendidikan yang adil bagi semua siswa,” ujarnya.

Namun, menurut Agnes, manipulasi data seperti memalsukan alamat tempat tinggal atau melaporkan prestasi yang tidak akurat dapat memberikan rasa tidak adil kepada siswa tertentu dan merugikan siswa lainnya yang memang berhak mendapatkan akses ke sekolah yang sama.(bro)

Tags: bogorKecuranganPPDB

Berita Terkait.

Fire at Mount Bromo Expands to 889 Hectares Across Four Regencies
Headline

Day 10 of Bromo Wildfire: BNPB Reveals Three Main Challenges Hindering Firefighting Efforts

Rabu, 12 Agustus 2026 - 00:22
Hari ke-10 Karhutla Bromo, BNPB Ungkap 3 Kendala Utama Api Sulit Dipadamkan
Headline

Hari ke-10 Karhutla Bromo, BNPB Ungkap 3 Kendala Utama Api Sulit Dipadamkan

Rabu, 12 Agustus 2026 - 00:12
Fire at Mount Bromo Expands to 889 Hectares Across Four Regencies
Headline

Fire at Mount Bromo Expands to 889 Hectares Across Four Regencies

Selasa, 11 Agustus 2026 - 22:45
Gawat! Kebakaran Gunung Bromo Meluas ke 889 Ha di Empat Kabupaten
Headline

Gawat! Kebakaran Gunung Bromo Meluas ke 889 Ha di Empat Kabupaten

Selasa, 11 Agustus 2026 - 22:40
Yaqut
Headline

Atur Kuota Haji hingga 50 Persen, Yaqut Didakwa Rugikan Negara Rp622 Miliar

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:44
pratikno
Headline

Realisasi Arahan Presiden tentang Sekolah Nasional Terintegrasi Gelombang Perdana Hadir di 17 Daerah

Selasa, 11 Agustus 2026 - 09:31

BERITA POPULER

  • Dugaan Penyalahgunaan Dapodik Ditelusuri, Kemendikdasmen Siap Tindak Tegas

    Dugaan Penyalahgunaan Dapodik Ditelusuri, Kemendikdasmen Siap Tindak Tegas

    2211 shares
    Share 884 Tweet 553
  • Suzuki Ertiga Hybrid Cruise, MPV Nyaman dengan Teknologi Hybrid di GIIAS 2026

    1147 shares
    Share 459 Tweet 287
  • Perayaan 1 Tahun dengan Berbagai Penghargaan, Mitsubishi Destinator Tampil Mentereng di GIIAS 2026

    997 shares
    Share 399 Tweet 249
  • iCAR V23 dan V27 Hadir di GIIAS 2026, Bawa Pilihan Baru Kendaraan Elektrifikasi

    969 shares
    Share 388 Tweet 242
  • PSSI Ubah Haluan Piala Presiden, Turnamen Kini Diproyeksikan untuk Timnas

    2466 shares
    Share 986 Tweet 617
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.