• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Siapa Membunuh Putri (16)

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Selasa, 20 September 2022 - 08:05
in Disway
disway

disway

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Hasan Aspahani

INDOPOSCO.ID – Koperasi pesantren Alhidayah berkembang menjadi unit usaha yang menguntungkan. Atas keberhasilan itu, Inayah dipercaya oleh Ustad Samsu untuk mengelola urusan yang lebih besar tanggung-jawabnya: keuangan pesantren. Sementara itu dia tetap mengajar, tetap Ustadzah bagi ratusan santri yang tinggal menetap juga yang hanya bersekolah di sana. Ustad Samsu menceritakan itu kepadaku dengan bangga dan cemas.

BacaJuga:

Wasiat Icha

Model Polytron

Serba Mirip

Bangga karena orang-orang muda yang ia rekrut bekerja dengan sangat baik, melampaui harapannya. Itu yang bikin pesantren Alhidayah yang ia bangun dari nol kini berdiri di kawasan yang luas dan bangunan-bangunannya kukuh.

“Yang gagal dan tak membanggakan sepertinya saya ya, Ustad,” kata saya berseloroh.
“Kau justru yang paling membanggakan kami. Kepada anak-anak santri saya selalu bilang, kau itu dulu sama seperti mereka, santri di Alhidayah pusat di Kalimantan saja,” kata Ustad Samsu.

Tapi Ustad Samsu juga cemas. Ia mencemaskan Inayah. Sementara Ustadzah-Ustadzah lain sudah menikah, sebagian besar dengan Ustad-Ustad dan pegawai di Alhidayah juga, Inayah belum. “Banyak yang sudah melamar dia, dia menolak. Saya ini menanggung beban sampai dia menikah, karena orang tua dia menitipkan dia ke saya,” kata Ustad Samsu.
Saya merasa bersalah. Ustad Samsu sejak semula seperti mendekatkan kami, seakan menjodohkan kami. Tapi sejak kami mulai mengenal, ada Suriyana di antara kami.

Antara aku dan Inayah tak pernah ada ada-apa, belum sempat ada apa-apa. Dia baik. Dia selalu bersikap baik, bahkan setelah dia bertemu Suriyana. Juga setelah dia tahu tiap akhir pekan Suriyana menyeberang ke Borgam.

Dia selalu menanyakan itu. Tiap hari Senin. Juga ketika ia memintaku untuk membantu anak-anak pesantren sebagai pembina ekstrakurikuler jurnalistik dan penulisan kreatif. Dulu, ekstrakurikuler itu dirancang oleh Ustad Samsu dan sejak semula saya yang dia cadangkan untuk menjadi pembina. Tapi tak ada guru yang bisa menangani langsung, sampai Inayah datang.

Dia sejak kuliah aktif di Komunitas Lingkar Penulis. Sebuah komunitas penulis besar di Indonesia yang digagas oleh seorang penulis produktif dan karyanya dibaca luas.

“Untuk penulisan kreatif serahkan pada saya, tapi saya menyerah untuk jurnalistik. Karena sejak awal Mas Abdur yang diharapkan untuk mengasuh kegiatan ini, maka Mas Abdur tak boleh menolak,” kata Inayah. Saya memang tak punya alasan untuk menolak. Saya mencadangkan waktu pada hari Jumat. Sekalian jumatan di Alhidayah.
Inayah menikmati kesibukannya. Mengurus koperasi, mengajar, mengelola keuangan pesantren, dan membina ekstrakurikuler.

“Itu yang saya cemaskan. Inayah itu mencintai kamu, Dur. Dia terlalu pandai menyembunyikan perasaannya dengan sikap wajarnya itu. Tapi hatinya tertutup untuk laki-laki lain,” kata Ustad Samsu. Hari itu jari Jumat, saya sudah selesai dengan kegiatan membina santri. Saya membuat pelatihan jurnalisme dasar. Bahan-bahan yang kuberikan kusederhanakan dari bahan bengkel jurnalistik di kantor, yang kuajarkan pada wartawan-wartawan baru.

“Mungkin belum ada yang kelasnya melebihi saya, Ustad,” kataku.
“Justu di antara mereka semua, kau paling rendah kualitasnya,” kata Ustad Samsu. Kami tertawa, “Ada yang lulusan Mesir, ada yang sudah S2,” lanjutnya. Saya terus tertawa tapi ada cemas juga di ujung tawa saya itu.

Mungkin Inayah menunggu saya, karena dia menganggap hubungan saya dengan Suriyana pun tak jelas. Saya jadi merenungkan persoalan itu. Sudah beberapa bulan sejak kami, kami masih merasakan kegembiraan yang sama, kegembiraan bertemu lagi setelah sekian tahun. Tapi saya tak berani melangkah lebih jauh dari itu. Saya terlalu cemas jika ternyata Suriyana menganggap hubungan kami hanya sebatas itu.

Pembicaraan dengan Ustad Samsu, pertemuan rutin tiap Jumat dengan Inayah, membuat saya berpikir bahwa memang sebaiknya aku memberi kepastian pada Inayah. Saya harus lebih dahulu memastikan hubunganku dengan Suriyana.

Dan itu besok. Sabtu besok. Suriyana mengabari akan datang dengan kejutan. Minggu sebelumnya dia membawakan untuk saya kamera Panasonic, seri awal Lumix. Dia membeli karena tertarik dengan bobotnya yang ringan dan bodinya kecil. Ringkas.

Hasil foto dengan setingan otomatisnya pun bagus sekali. Dia menghadiahkan untuk saya, karena katanya, dia jarang sekali bahkan nyaris tak pernah memakainya sejak kamera itu dia beli. Saya tak bisa menolak. Dia memberi dengan amat tulus. Lagi pula saya memang sangat ingin punya dan perlu kamera sendiri.

Terrkait pekerjaan saya dan hobi saya mengambil foto jalanan. Hobi baru yang masih terkait pekerjaan. Tapi bisa terlepas sama sekali dari foto jurnalisme. Pendekatan street photography membuat saya memotret benar-benar dengan cara pandang saya pribadi, bukan sebagai jurnalis yang memotret untuk koran saya, untuk pembaca saya.

Sidang terakhir kasus pembunuhan Putri makin memojokkan AKPB Pintor. Pembela Awang dan Runi menuntut agar dilakukan otopsi ulang atas mayat korban, karena kurangnya bukti yang meyakinkan yang mendukung tuduhan atas tersangka. Ia juga menuntuk agar AKPB Pintor ditetapkan sebagai tersangka, karena indikasi keterlibatannya – bahkan semakin mengarah bahwa dialah otaknya – semakin kuat.

Pengakuan Awang menguatkan permintaan pengacaranya itu. Awang mengaku hanya diminta membuat mayat Putri. AKPB Pintor menjanjikan upah Rp50 juta. Dia sudah menerima Rp5 juta. Diberi tunai. Tak ada bukti pemberian dan penerimaan itu. AKBP Pintor tentu saja membantah. Dia ketika dihadirkan sebagai saksi, mengatakan uang itu dia berikan untuk upah dan biaya memperbaiki pagar teralis rumahnya.

Dia meminta agar Awang diperiksa dengan alat pendeteksi kebohongan. “Dinamika Kota” mengangkat headline: Awang Mengaku Dibayar Rp50 Juta untuk Buang Mayat Putri”. Sementara “Podium Kota” memilih judul: Pintor Minta Tersangka Awang Diperiksa Lie Detector. Keduanya berdasarkan pernyataan di dalam sidang. Keduanya fakta. Tapi bagi kami judul kami terkait langsung dengan kasus yang sudah disidangkan. Sementara soal permintaan Pintor itu tak berkait langsung, ia menyerang terdakwa. Ia defensif, ia meragukan keterangan terdakwa yang bicara di bawah sumpah.

Saya diminta bicara di siaran pagi radio Borgam FM. Bogram FM adalah radio pertama di Bogram. Studionya di kawasan yang teduh dan nyaman di Teluk Pinggir. Tak jauh dari rumah Rinto Sirait. Saya meneleponnya, merencakanan singgah setelah siaran.
Seharusnya pemred “Podium Kota” juga jadi pembicara. Tapi membatalkan sebelum siaran dimulai. Saya bicara berhati-hati hanya sebatas fakta-fakta yang kami beritakan.

Jika harus menjawab dengan analisis atau opini pun saya mendasarkannya pada faktayang kami beritakan. Apa yang sudah kami pertimbangkan benar menurut kaidah jurnalistik. Kami tak mau berlebihan hingga melakukan trial by the press, kami tak menjaga benar agar mencampurkan fakta dan opini.

“Koran Anda seperti menggiring agar AKBP Pintor menjadi tersangka. Kenapa?” tanya penyiar Bogram FM, setelah sebelumnya aga juga pendengar yang menelepon dan menanyakan hal yang serupa.

“Kami sama sekali tidak menggiring. Kami setia pada fakta. Kami hanya menyampaikan fakta-fakta yang ada di persidangan. Persidangan itulah nanti yang membuktikan mana fakta yang benar dan berdasarkan itu siapa yang bersalah. Sejauh mana keterlibatan Awang dan Runi, dan apakah benar otak pembunuhan adalah AKBP Pintor sendiri,” kataku, setengan mungkin.

“Ada penelepon, kita persilakan masuk. Silakan, dengan siapa dan dari mana…” Penelepon menyebut nama, saya yakin itu nama samaran, dan dari mana dia menelepon, yang saya juga ragukan.

“… Anda kabarnya tim sukses calon walikota dan calon wakil wali kota Alkhaidar dan Restu Suryono, ya? Berita Anda mereka manfaatkan untuk kampanye mereka. Anda sadar nggak? Anda jangan sok berbeda jadi wartawan. Koran Anda itu bikin masyarakat Borgam tegang. Saya ini wartawan senior di Borgam ini. Saya kenal dengan bos Anda Indrayana Idris. Kalau saya laporkan ke beliau, Anda bisa saya minta dia pecat Anda…”

Penyiar radio memutuskan sambungan telepon.

“Mohon maaf, saya kira pertanyaannya sudah jelas. Mas Abdur mau ditanggapi?”
“Begini ya, bapak yang tadi menelepon, konsen kami hanya satu: bagaimana keadilan ditegakkan. Yang salah dihukum, sesuai kesalahannya, yang tak melakukan hal yang dituduhkan jika terbukti begitu ya harus dibebaskan. Pemahaman kami tentang keadilan sesederhana itu, Pak… Kita tunggu saja putusan sela dari hakim, apakah dakwaan itu ditolak atau tidak,” papar saya.

Penyiar memotong bicara saya, “soal keterlibatan Anda di tim sukses itu bagaimana, Mas Abdur?”
“Apalagi itu. Tuduhan yang sama sekali tak berdasar. Tak ada kaitan berita kami dengan kepentingan politik siapa pun,” kataku.

“Anda dekat dengan Pak Alkhaidir? Tersangka kan anggota Porpal, orang Melayu, koran Anda mengangkat berita itu…”

“Semuanya kebetulan. Kenapa Awang harus Melayu dan Runi harus Sumbawa. Kebetulan calon wali kota Alkhaidiar itu orang Melayu dan pasangannya adalah pembela Awang dan Runi. Soal ketegangan masyarakat, saya mau balik tanya siapa yang bikin? Kenapa tiap kali sidang keluarga Putri membawa pendeta dan mengerahkan kelompok-kelompok pendukungnya di luar sidang?” kata saya.

Selesai siaran saya mendapatkan mobil redaksi pecah kaca depannya. Seperti dilempar batu, atau dipukul benda keras. Edo tak ada. Pintu mobil terbuka. Sekuriti Borgam FM pun tak ada di tempat. Pos jaga kosong. Tak berselang lama, Edo dan sekuriti muncul dengan napas tersengal-sengal.

Edo lekas menjelaskan. Ada yang memukul kaca depan mobil dengan potongan besi. Edo sedang menunggu berada di pos satpam. Pelaku memakai sebo. Wajahnya sama sekali tak nampak. Ia kemudian lari ke arah hutan di samping studio Borgam FM.

Apakah saya harus melapor dan minta perlindungan polisi? Jelas ada pihak yang menghalangi kerja kami sebagai jurnalis. Itu pelanggaran UU Pers dan ada sanksi hukumnya. Tapi kami sekarang seperti sedang bermusuhan atau melawan polisi, apa laporan saya tak akan sia-sia saja? Saya harus ketemu Pak Rinto. (*)

Tags: disway

Berita Terkait.

disway
Disway

Wasiat Icha

Senin, 6 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Model Polytron

Minggu, 5 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Serba Mirip

Sabtu, 4 Juli 2026 - 08:00
Kanan Dalam
Disway

Hoax Bijaksana

Jumat, 3 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Dokter Icha

Selasa, 30 Juni 2026 - 08:00
disway
Disway

Bawah Tanah

Senin, 29 Juni 2026 - 08:00

BERITA POPULER

  • brace

    Hasil Piala Dunia: Brace Haaland Antar Norwegia Singkirkan Brasil dan Cetak Sejarah

    919 shares
    Share 368 Tweet 230
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    2278 shares
    Share 911 Tweet 570
  • Portugal vs Kroasia: Martinez Sebut Ronaldo dan Modric Berada di Atas Keraguan Publik

    853 shares
    Share 341 Tweet 213
  • Cuaca di Jakarta Didominasi Cerah, Sebagian Wilayah Jaksel dan Jakbar Berpotensi Hujan

    803 shares
    Share 321 Tweet 201
  • Gempa Bumi Dangkal M 4,0 Guncang Palu, BMKG: Kedalaman Hiposenter 2 Km

    779 shares
    Share 312 Tweet 195
Portugal Gagal di Piala Dunia 2026, Roberto Martinez Resmi Mundur
Olahraga

Portugal Gagal di Piala Dunia 2026, Roberto Martinez Resmi Mundur

Editor Laurens Dami
Selasa, 7 Juli 2026 - 10:24

INDOPOSCO.ID - Pelatih Timnas Portugal Roberto Martinez akan mengundurkan diri dari jabatannya setelah timnya tersingkir dari Piala Dunia 2026. Selecao...

SelengkapnyaDetails
Portugal Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Ronaldo Merana: Saya Sedih

Portugal Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Ronaldo Merana: Saya Sedih

Selasa, 7 Juli 2026 - 09:34
Hasil Piala Dunia: Bungkam AS, Belgia Tantang Spanyol di Perempatfinal

Hasil Piala Dunia: Bungkam AS, Belgia Tantang Spanyol di Perempatfinal

Selasa, 7 Juli 2026 - 09:29
Hasil Piala Dunia: Sengit, Spanyol Singkirkan Portugal Lewat Drama Injury Time

Hasil Piala Dunia: Sengit, Spanyol Singkirkan Portugal Lewat Drama Injury Time

Selasa, 7 Juli 2026 - 09:04
Ronaldo

Jelang Hadapi Spanyol, Ronaldo Fokus Nikmati Piala Dunia Terakhirnya

Senin, 6 Juli 2026 - 19:15
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.