• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Kuda Bima

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Minggu, 30 Januari 2022 - 08:09
in Disway
Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Saya sendiri takut berdiri di belakang kuda: awalnya. Apalagi ketika kuda itu membuat langkah mencurigakan: terus saja berusaha membelakangi saya. Saya pun memutar ke sampingnyi. Takut dia slentak – -ada yang tahu slentak dalam bahasa Indonesia? Tapi kuda betina itu ikut memutar. Tetap memposisikan pantatnya di depan saya.

“Jangan takut pak,” ujar kepala dusun di lereng Timur Tambora, Sumbawa, itu. “Dia memang begitu,” tambahnya. “Dia memang selalu minta agar kita mengelus-elus pantatnyi,” kata Pak Kadus.

BacaJuga:

Weda Bay

Bali Lombok

Rocky Gerung

Saya pun mulai mengusap-usap pantatnya. Dia merasa nyaman. Lalu lebih memepetkan pantatnyi ke tubuh saya. Dia lagi hamil. Gerakan itu begitu spontan. Dan lembut. Dan seksi. Jikalau sempat divideo akan sangat menggemaskan: mungkin Prof Pry akan menuduh saya ingin berbuat mesum dengan kuda betina.

Pagi-pagi itu Pak Kadus baru tiba dari kebun jagung. Berjalan kaki. Satu jam. Belum tidur. Kebun jagungnya, 2 hektare, harus aman dari babi hutan.

Kami sudah seperti keluarga. Saya sudah dianggap seperti kakak mereka. Sampai-sampai ketika kami berfoto bertiga bisa bikin cemburu Prof Pry. Apalagi istri Pak Kadus itu pakai kacamata hitam yang keren. Tidak kalah dengan bintang film yang pernah mendekati saya untuk minta foto bersama –yang saya baru tahu nama bintang film itu setelah foto beredar di medsos.

Saya masih beruntung: ketika menggendong bayi di desa itu tidak sampai ada tuduhan bahwa itu bayi saya bersama wanita berkacamata hitam itu: saya bisa ditebas parang Pak Kadus di Tambora.

Saya gembira Pak Kadus mulai tanam jagung. Akhirnya “wabah” jagung di Sumbawa merambat juga ke lereng timur gunung Tambora. Belum banyak lahan jagung di sisi timur ini. Tapi wabah hijau itu kelihatannya cepat juga menular sampai di sini.

Dulunya kawasan ini terkenal dengan hasil jambu mete. Seperti juga di Flores timur. Tapi wabah mete pernah merajalela. Lima tahun lalu. Sampai pohon mete yang rindang itu terlihat hitam: penuh binatang seperti kupu-kupu kecil berwarna gelap. Saya masih ingat: saya coba melemparkan batu kecil ke rimbunan daun dan bunganya yang menghitam itu. Ribuan serangga kecil beterbangan sebentar. Lalu hinggap lagi di bunga yang sama.

Mete memang tumbuhan alam. Tidak ditanam secara khusus. Tidak ada yang berkebun mete sekarang ini. Kurang ekonomis. Biaya menanam dan merawatnya besar. Musuhnya bukan hanya babi, juga sapi, dan kambing. Apalagi mete baru berbuah setelah lima tahun.

Demam jagung awalnya sulit sampai di sini. Penduduk percaya jagung sulit tumbuh: “tanah di sini mengandung pasir besi.” Desa-desa di lereng Timur ini adalah desa transmigrasi: pindahan dari Bima dan Lombok. Masih baru. Angkatan pertamanya pada 2003. Pak Kadus angkatan pertama. Asal Bima. Beliau termasuk yang bertahan di sini. Lebih separo transmigran pergi lagi.

Anggapan ”jagung tidak bisa tumbuh” terbukti salah. Ternyata jagung bisa subur. Dan baik-baik saja. Asal dijaga. Diberi pupuk. Pak Kadus membuktikannya. Memang harus rajin: termasuk mampu tidak tidur sepanjang malam.
Ada juga investor yang masuk Tambora sisi timur: tambak udang. Investornya dari Surabaya. Saya mampir ke tambak modern itu. Masih baru. Baru tebar benih yang pertama. Rapi. Indah. Dengan kincir-kincir airnya yang memutar seirama. Ratusan jumlahnya.

Lokasi tambak itu agak ke selatan. Sebenarnya di pantai lebih ke utara juga cocok. Tapi investor takut: begitu banyak jembatan yang putus. Ia seperti cinta seorang jomblo: setiap dibangun lagi putus lagi. Berkali-kali.
Rupanya aliran air hujan dari gunung tumpah ke timur. Menyebar ke berbagai arah. Membentuk banyak sungai kecil. Perlu banyak jembatan: lebih 20 lokasi. Investor tambak takut: bagaimana kalau pas panen jembatan-jembatan itu lagi hanyut? Truk besar pun tidak bisa lewat. Udang bisa busuk di perjalanan.

Saya sendiri, hari itu, harus melewati lima jembatan putus. Salah satunya curam. Harus cari jalan memutar: jalan-jalan kampung yang sempit. Berliku-liku. Lalu menyeberangi sungai yang tanpa jembatan di dekat kampung itu.
Di lokasi jembatan lainnya kami harus turun dari mobil. Untuk menata batu di tebing sungai. Agar mobil bisa merambat naik keluar dari sungai.

Di jembatan yang lain lagi kami harus dibantu penduduk setempat: harus pakai cangkul. Kalau gagal, penduduk sudah siapkan tali: mobil akan ditarik dengan traktor pertanian. Ada juga lokasi yang kami harus menunggu alat berat itu naik dulu dari sungai.

Perencana jembatan kelihatannya harus memikirkan itu: bagaimana bisa merancang jembatan yang tidak mudah hanyut lagi. Juga bagaimana agar kuat. Agar investasi tidak takut datang ke kawasan ini.

Tambora sisi timur ini masuk Kabupaten Bima. Aneh. Dari Bima, untuk ke Tambora Timur harus melewati Kabupaten Dompu. Setelah lima jam berkendara di daratan Dompu barulah sampai di Tambora Timur.
Memang ada cara lain untuk tidak usah melewati Dompu: menyeberangi laut Teluk Bima. Tapi tidak ada kapal yang menghubungkannya. Bisa hampir satu malam.

Dahlan Iskan di belakang kuda Bima. Foto : Disway
Dahlan Iskan di belakang kuda Bima. Foto : Disway

Baiknya Tambora diserahkan ke Dompu. Agar lebih rasional. Mungkin ditukar dengan sebagian wilayah Dompu yang dekat Bima: tukar guling. Agar rakyat bisa lebih terurus.

Tapi isu pelayanan seperti ini kelihatannya tidak menarik. Politik kewilayahan yang lagi hot di sana justru ini: perjuangan menjadikan Sumbawa menjadi provinsi terpisah dari NTB.

Calon gubernurnya sudah ada: Mohamad Syafrudin, anggota DPR empat periode dari PAN. Fotonya bertebaran mulai dari ujung barat sampai ujung timur Sumbawa. Atau, mungkin nama ini: Indah Dhamayanti Putri –Bupati Bima sekarang. Dia sudah hampir menyelesaikan jabatan periode kedua sebagai Bupati Bima.

Dulunya Putri ”hanya” istri Bupati Bima. Sang bupati keturunan Raja Bima. Putri menjadi ibu yang akan melahirkan keturunan Raja Bima berikutnya. Waktu dikawini sang bupati, Putri masih sangat muda: baru lulus SMA. Dua tahun berumah tangga sang suami meninggal dunia. Putri menjadi calon bupati penggantinya. Menang. Maju lagi. Menang lagi. Telak. Kini dia sudah sarjana. Bahkan S2 sampai S3. Putri, asal Dompu, wanita pembelajar yang cepat.

Kini Putri sudah menyiapkan calon bupati berikutnya: anaknyi sendiri. Yang sekarang sudah menjabat Ketua DPRD Kabupaten Bima. Di umurnya yang baru 27 tahun. Masih bujang pula. Namanya: Muhammad Putera Ferryandi, SIP. Orang Bima menyapanya dengan nama Ama Ka’u Yandi. Atau Dae Yandi. Itu Bima. Sang Ibu menjadi kepala eksekutif, sang Anak menjadi kepala legislatif. Alangkah indahnya demokrasi. (*)

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.

Tags: disway

Berita Terkait.

disway
Disway

Weda Bay

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Bali Lombok

Jumat, 9 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Rocky Gerung

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Polsek Baru

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Jumling Suyudi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Moral Pusbatara

Kamis, 1 Oktober 2026 - 08:00

OLAHRAGA

Dari Morbidelli hingga Veda Ega, Panggung Pertamina Jadi Magnet Penggemar MotoGP
Olahraga

Dari Morbidelli hingga Veda Ega, Panggung Pertamina Jadi Magnet Penggemar MotoGP

Editor Ali Rachman
Minggu, 11 Oktober 2026 - 19:28

INDOPOSCO.ID – Deru mesin bukan satu-satunya daya tarik Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026. Di luar lintasan, antusiasme penggemar juga...

SelengkapnyaDetails
Kapolri Mutasi Jajaran Polda Banten, Ini Daftar Lengkapnya

Bukan Sekadar Rebut Gelar, Turnamen Biliar FWUMKM Perkuat Sinergi Wartawan dan Pemerintah

Minggu, 11 Oktober 2026 - 16:34
Hadi-Tj

Hadi Tjahjanto Sebut Negara Eropa Jadi Pesaing Terberat Karateka Indonesia di Polandia

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 18:48
forki

Bekal Juara di Vietnam, Hadi Tjahjanto Optimistis Timnas Karate Bidik 6 Emas di Polandia

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 09:09
PB FORKI Berangkatkan 11 Atlet Karate Indonesia ke Kejuaraan Dunia di Polandia

PB FORKI Berangkatkan 11 Atlet Karate Indonesia ke Kejuaraan Dunia di Polandia

Jumat, 9 Oktober 2026 - 19:07

BERITA POPULER

  • Sinergi Bea Cukai-Bareskrim Berbuah Manis, 5 Kg Sabu Berhasil Diamankan di Bogor

    Hendra Kurniawan Pimpin Polda Banten, Hengki Lanjut ke Jabar

    1058 shares
    Share 423 Tweet 265
  • Darion dan Eksion PHEV Wuling Raih Pengakuan di FCR 2026

    888 shares
    Share 355 Tweet 222
  • Daftar Harga Mobil Elektrifikasi Wuling 2026, dari Aira EV hingga Wuling Darion EV

    876 shares
    Share 350 Tweet 219
  • Jelang Final, Jay Idzes Terus Suntikkan Semangat untuk Skuad Garuda

    982 shares
    Share 393 Tweet 246
  • Pernyataan SBY Gugatan PHPU Salah Alamat, Analis: MK Bisa Nilai Keabsahan Pencalonan Gibran

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.