• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Pengajian Potehi

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Minggu, 16 Januari 2022 - 08:04
in Disway
Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Temanya ringan. Saya pun oke. Kalau pengajian itu membahas fikih, hadis, tafsir, atau tauhid, saya pasti menolak: belum kelas saya jadi ustaz. Permintaan itu datang dari ibu-ibu di Eropa: Majelis Pengajian Prancis (MPP). Secara online. Tema yang dimintakan ke saya: ”Bagaimana bergaul secara luas tanpa mengganggu keimanan”.

Gampang. Hanya ada satu masalah teknis: jam yang ditentukan itu beriringan dengan acara saya di Kelenteng Gudo, luar Kota Jombang, Jawa Timur (Jatim). Ada diskusi tahun baru Imlek di kelenteng itu.

BacaJuga:

Model Polytron

Serba Mirip

Hoax Bijaksana

Saya pun cari akal: agar dua-duanya bisa jalan. Saya hubungi pengurus kelenteng: adakah wifi di Kelenteng Gudo. Lalu: apakah saya bisa memberikan pengajian Islam di salah satu ruang di kelenteng itu. ”Dengan senang hati,” ujar Ketua Kelenteng Gudo Toni Harsono.

Toni itu menyenangkan. Kalau Anda bertemu Toni, tidak akan menyangka ia itu Tionghoa. Kulitnya seperti saya. Matanya seperti saya. Bedanya: saya tua, ia masih muda.

Toni sudah tergolong langka. Ia jadi ketua kelenteng karena ayahnya dulu pegawai di kelenteng itu. Yang unik: Toni adalah juga dalang wayang potehi. ”Sebenarnya ayah melarang saya jadi dalang,” katanya.

Mengapa? ”Nasib dalang potehi itu seperti wayang potehi,” kata Toni. Nama Tionghoa-nya: Tok Hok Lay. Tokoh wayang potehi itu, katanya, terlihat gagah kalau lagi dimainkan di atas panggung. Apalagi kalau tokoh itu raja. Atau panglima perang. Tapi, begitu turun panggung, langsung menjadi seperti pakaian lusuh.

Wayang potehi memang terbuat dari kain. Hanya kepala dan leher yang dari benda keras. Juga, sepatu dan sedikit kaki bagian bawah. Selebihnya hanya kain: yang motifnya sesuai dengan perannya.

Bahwa di panggung wayang kain itu bisa terlihat gagah karena ada tangan dalang di dalamnya. Jari telunjuk dimasukkan ke bagian leher. Tiga jari selebihnya di bagian tangan kanan. Jempol dimasukkan bagian tangan kiri wayang.

Toni setuju dengan pendapat bapaknya itu. Sang bapak sudah membuktikan: ia sendiri juga dalang potehi. Bahkan, bapaknya bapak juga dalang potehi. Tapi, Toni tetap jadi dalang potehi –generasi ketiga. Di seluruh Jatim tinggal ada empat saja dalang potehi.

Bahkan, Toni bukan sekadar dalang. Ia bikin museum potehi –satu-satunya di Indonesia. Museum itu ia bangun di sebelah Kelenteng Gudo. Ia beli tanah di situ. Ia amankan museum itu dengan dua lapis pintu besi.

Ia pun membeli lemari besi –yang di zaman dulu dipakai menyimpan uang, emas, dan sertifikat tanah itu– untuk menyimpan wayang kunonya. Juga untuk buku kuno tentang potehi. Buku tebal tersebut unik: ditulis dalam huruf Jawa. Lengkap dengan gambar tokoh-tokoh utama wayang potehi.

”Silakan pakai ruang saya ini,” ujar Toni. ”Saya akan banyak bicara tentang Islam di pengajian ini,” kata saya setengah minta kerelaannya. ”Tentu. Kan, pengajian…,” ujarnya sambil tersenyum.

Saya pun memberi tahu pengurus MPP: bahwa lokasi saya memberikan pengajian itu di sebuah Kelenteng Gudo. ”Kebetulan, cocok dengan tema pengajian,” kata Dini Kusmana, ketua MPP yang jadi moderator.

Dini itu cantik sekali –lima ”i”. Jilbabnya rapat sempurna. Dia asli Ciamis, Jawa Barat. Ayahnya seorang dokter ahli. Punya pesantren: di Saguling, Ciamis. Pesantren MD Fathahillah. Seorang ustaz dimintanya mengurus pesantren itu.

Inspirasi tersebut dia peroleh dari Norwegia. Suatu saat Dini diminta mengisi pengajian kelompok ibu-ibu di Norwegia. Dia jadi ustadah. ”Kenapa saya tidak bikin juga di Prancis,” ujarnya.

Wajah Dini sangat camera face: dia memang pernah bekerja di beberapa stasiun TV di Jakarta. Kini Dini memiliki media online –sambil jadi ibu rumah tangga di Prancis Selatan.
Suami Dini Prancis asli –kulit putih. Pasangan itu punya dua anak: adil –satu lahir di Bandung, satunya lagi di Prancis.

”Di mana pertama kenal suami?” ”Kenal sejak SMA,” ujar Dini. ”Anda sekolah SMA di Prancis?” tanya saya. ”Ia yang sekolah SMA di Indonesia. Pertukaran pelajar. Setahun tinggal di rumah ayah saya,” kata Dini.

Itulah cinta pertama Dini. Juga cinta pertama sang suami. Cinta yang sampai dibawa ke mana pun pergi. Sampai kini. Maka, Dini-lah yang mendirikan kelompok pengajian itu. Empat tahun lalu. Seminggu sekali –tiap Rabu pagi waktu Eropa.

Awalnya, ustaz di pesantren ayahnya itu yang mengisi. Sekalian mengobati rindu di kampung halaman. Lama-lama anggotanya meluas hampir ke seluruh negara Eropa.

Yang ikut pengajian hari itu ada juga yang dari Belanda dan Makedonia. Juga dari Inggris. Ibu yang dari Makedonia itu pintar membuat pantun dan puisi. Dia membacakan pantun dadakan tentang saya: membuat saya tersipu-sipu. Namanya: Liem Siagian.

”Anda lahir di mana, di Sumut?” tanya saya. ”Saya lahir di Jember, Jatim,” jawabnya. ”Di Jember tidak ada marga Siagian….”. ”Ayah saya dari Balige.”

”Kenapa pakai nama depan Liem?”. ”Ibu saya marga Liem.” ”Lulus SMA di Jember?”. ”Di Probolinggo.” ”Hahaha… Anda ini kacau sekali….” celetuk saya. ”Masih ada yang lebih kacau….” tukasnya.

Liem pun bercerita tentang ”kekacauannya” itu. Sebelum tinggal di Eropa, ternyata Liem berstatus TKW di Hongkong. Dia sering melihat misionaris Gereja Mormon di Hongkong.

Mereka rajin mendatangi TKW. Itu justru memperkuat keimanannyi sebagai muslimah. Liem justru mendirikan aktivitas pengajian untuk TKW Hongkong. Sering mengundang penceramah dari As-Syafi’iyah, Jakarta.

”Saya dulu sebenarnya cukup mapan. Saya bekerja di perusahaan eksportir ubur-ubur,” kata Liem. Dia pun keliling Indonesia. Ke daerah-daerah penghasil ubur-ubur. Dia juga sering ke Medan –karena pusat perusahaan itu di Medan, Sumatera Utara.

”Perusahaan saya itu bangkrut,” katanya. ”Lalu, saya putuskan menjadi TKW,” ujarnya. Di Hongkong itu Liem ketemu orang keturunan Makedonia. Pengusaha. Muslim. Duda dengan tiga anak.

Liem dilamar duda itu. Kawin. Diboyong ke kampung halaman suami: Labunishta, Kecamatan Struga, 15 km dari Albania. Itu desa terpencil di Makedonia. Seluruh desa itu muslim. Sang suami pengusaha sukses: punya travel haji dan umrah. Punya banyak bus. Sang suami membangun banyak masjid di sana, termasuk di Sarajevo –di negara tetangga.

Jamaah haji dari sana pergi ke Makkah naik bus. Berhari-hari. Lewat Bulgaria, Turki, Syria, Lebanon, Sinai. Waktu desa itu diduduki komunis, sang suami mengungsi ke Turki. Kini sudah menetap di Makedonia. ”Saya sendiri, sebelum pandemi, mondar-mandir Makedonia-Turki,” ujar Liem.

”Berarti, Anda ini bisa bahasa Batak, Jawa, Madura, Indonesia, Inggris, Canton, Mandarin, Turki, dan bahasa Makedonia?” tanya saya. ”Ulun kawa pender Banjar jua,” ujar Liem. Barakallah. (*)

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway

Tags: disway

Berita Terkait.

disway
Disway

Model Polytron

Minggu, 5 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Serba Mirip

Sabtu, 4 Juli 2026 - 08:00
Kanan Dalam
Disway

Hoax Bijaksana

Jumat, 3 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Dokter Icha

Selasa, 30 Juni 2026 - 08:00
disway
Disway

Bawah Tanah

Senin, 29 Juni 2026 - 08:00
disway
Disway

Ganti Dolar

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:00

BERITA POPULER

  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    2229 shares
    Share 892 Tweet 557
  • Portugal vs Kroasia: Martinez Sebut Ronaldo dan Modric Berada di Atas Keraguan Publik

    852 shares
    Share 341 Tweet 213
  • Gempa Bumi Dangkal M 4,0 Guncang Palu, BMKG: Kedalaman Hiposenter 2 Km

    779 shares
    Share 312 Tweet 195
  • Hasil Piala Dunia: Cukur Swedia 3-0, Prancis Tantang Paraguay di 16 Besar

    722 shares
    Share 289 Tweet 181
  • Hasil Piala Dunia: Brace Harry Kane Antar Inggris Comeback Spektakuler

    717 shares
    Share 287 Tweet 179
Antar Prancis Singkirkan Paraguay, Mbappe Tegaskan Les Bleus Tak Hanya Jago Menyerang
Olahraga

Antar Prancis Singkirkan Paraguay, Mbappe Tegaskan Les Bleus Tak Hanya Jago Menyerang

Editor Laurens Dami
Minggu, 5 Juli 2026 - 21:27

INDOPOSCO.ID – Kylian Mbappe kembali membuktikan perannya sebagai sosok penentu bagi Timnas Prancis di Piala Dunia FIFA 2026. Sang kapten...

SelengkapnyaDetails
Lolos Perempat Final Piala Dunia, Brahim Diaz Ungkap Pertanda Baik untuk Maroko

Lolos Perempat Final Piala Dunia, Brahim Diaz Ungkap Pertanda Baik untuk Maroko

Minggu, 5 Juli 2026 - 19:13
Pemain-Argentina

Messi Ungkap Kunci Sukses Argentina Singkirkan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026

Sabtu, 4 Juli 2026 - 15:27
Messi

Atasi Perlawanan Sengit Tanjung Verde 3-2, Argentina Melaju ke Babak 16 Besar

Sabtu, 4 Juli 2026 - 09:31
Salah

Bawa Mesir Lolos ke 16 Besar, Salah Ungkap Alasan Pakai Trik Panenka di Babak Tos-tosan

Sabtu, 4 Juli 2026 - 08:30
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.