• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Sukirman Vijei

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Minggu, 7 November 2021 - 04:05
in Disway
disway
Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Namanya satu kata: Sukirman. Ia dokter. Ahli. Spesialis Mata. Opo tumon: Sukirman takut pada alat suntik. Dan itu harus ia bayar mahal: telat tahu bahwa dirinya menderita sakit lever

Sebenarnya sudah lama Sukirman merasa cepat lelah. Sampai sang istri sayang sekali padanya: gak usahlah praktik spesialis sore hari. Cukup dari penghasilan sebagai dokter pegawai negeri saja. Agar jangan sampai kelelahan.

BacaJuga:

Serba Mirip

Hoax Bijaksana

Dokter Icha

Sang istri juga dokter. Ahli. Spesialis Mata. Sang istrilah yang akhirnya merayu Sukirman. Agar mau memeriksakan diri. Pun cukup pemeriksaan yang tidak usah berhubungan dengan jarum suntik. Tidak perlu juga pakai tusukan untuk mengambil darah.

Cukup periksa urine. Rayuan itu dilakukan karena kaki sang suami sudah kian bengkak. Kaus kaki panjang sudah diganti dengan yang lebih pendek. Yang tebal sudah diganti yang tertipis.

Tetap saja: kakinya kian bengkak. Sampai akhirnya hanya bisa pakai sandal. Dari pemeriksaan urine itulah diketahui: levernya sudah parah. Maka mau tidak mau harus periksa darah. Sangat lengkap. Rupanya hanya takut mati yang bisa mengalahkan takut jarum suntik.

Jelaslah: levernya sudah sirosis. Di tahap akhir pula. Ketahuan juga: ada hepatitis B. Berita baiknya: belum ada tanda-tanda kanker di dalamnya.

Anda sudah bisa menduga: pasangan itu bertemu di kampus –ketika sama-sama kuliah Spesialis Mata.

Sang suami dokter umum dari Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Sang istri dokter umum dari Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat.

Bak asam dari gedung bertingkat dan garam dari kolam renang, mereka bertemu di belanga Universitas Indonesia (UI), Jakarta.

“Tidak ada jalan lain. Harus transplantasi hati,” ujar dokter yang memeriksanya, seperti dikatakannya kepada saya kemarin.

Sang istri langsung ambil putusan: akan menyerahkan separuh hatinya untuk suaminya. Masalahnya, golongan darah sang istri O. Sang suami AB.

Tapi, yang seperti itu sekarang tidak masalah: darah O memang lebih dermawan daripada Akidi –ups, dari jenis darah lainnya. Darah O bisa ke mana-mana, tapi tidak bisa menerima dari mana-mana. Itulah juga saya, dan sebagian Anda.

Pasangan ini sudah mencoba ke Singapura. Bukan untuk berobat. Hanya karena dekat –mereka tinggal di Batam. Jarak Batam ke Singapura hanya sepelempar batu –kalau yang melemparkan gabungan semua pengusaha PCR.

Tujuan mereka ke Singapura bukan untuk transplan. Itu tidak mungkin. Mahal sekali. ”Kami ini dokter biasa. Memang spesialis, tapi hanya cukup untuk hidup,” ujar sang istri.

Dari Singapuralah mereka tahu: di negara mana biaya transplan hati yang paling murah. India. Mereka belum mendengar kalau di Iran juga mampu dan murah (Disway: Ganti Hati di Iran).

”India?” Itulah pertanyaan spontan yang mereka ucapkan kepada dokter Singapura. Maknanya: India identik dengan kemiskinan, kotor, dan belum masuk peta ingatan untuk urusan transplantasi hati. Justru transplan mata yang mereka tahu: India sudah jago.

Dokter Singapura meyakinkan pasangan tersebut: memang rumah sakit di India itu sederhana, tapi kemampuan dokternya bisa diandalkan.

Mereka pun ke New Delhi. Mengontrak rumah di dekat RS ILBS (Institute of Liver and Biliary Sciences). Lebih hemat. Daripada langsung ngamar di RS. Yang penting tiap hari bisa ke RS untuk pemeriksaan. Cukup jalan kaki.

Sukirman pun tiap hari diambil darahnya. Tidak takut lagi. Atau terpaksa. ”Rumah sakitnya memang sederhana. Kamar operasinya juga kecil. Tapi, alatnya lengkap,” ujar sang istri, yang di sana dipanggil dengan nama Vijei. Namanya sendiri: Hafizah.

dahlan
Vijei dan Sukirman berdiskusi dengan Dahlan Iskan. Foto : Disway

Intinya: transplan berjalan lancar. ”Seberapa banyak hati Anda dipotong untuk suami?” tanya saya.

”60 persen,” jawab Vijei. Setelah hati Vijei diambil 60 persen itu, hari kedua sudah disuruh latihan duduk. Hari ketiga latihan jalan. Dalam tiga bulan hati Vijei yang tinggal 40 persen itu sudah kembali utuh.

Begitulah hati. Anda sudah tahu. Satu-satunya organ yang bisa tumbuh. Mereka pun pulang ke Batam. Hanya tiga bulan di sana: 1,5 bulan sebelum operasi dan 1,5 bulan setelah transplan.

Begitu pulang, Sukirman mengontak saya. Diskusi untuk pascaoperasi. Lewat telepon –keburu pandemi masuk Indonesia. Baru kemarin Sukirman-Vijei ke rumah saya. Sekalian saya ajak olahraga.

Selama di India, Vijei teringat almamaternya: Universitas Andalas. Harusnya Unand lebih mampu daripada India. Negara itu benar-benar mengusik hati Vijei: bagaimana bisa India yang seperti itu mampu melaksanakan transplantasi hati. ”Saya lihat pasiennya ada yang dari Iran dan Kanada,” ujar Vijei.

Itulah bedanya, kalau yang transplan seorang dokter. Dia langsung memikirkan agar ada kerja sama antara Fakultas Kedokteran (FK) Unand dan RS di India itu.

Selama di sana, Vijei pun melakukan pembicaraan kerja sama tersebut. Sebenarnya mereka sudah siap menerima delegasi dari Unand. Pihak Unand pun sudah menyiapkan tim yang akan berangkat. Sekalian langsung menyaksikan jalannya operasi di sana. Namun, pandemi keburu tiba.

Harus lebih sabar. Sukirman sendiri lahir di desa lereng gunung: Tumpang, Malang Timur. Ayahnya buruh tani. Anaknya 10 orang. Semua sarjana –kecuali satu wanita yang keburu dilamar orang. Hanya satu yang dokter: Sukirman.

”Saya kuliah di kedokteran karena dipaksa kakak,” ujar Sukirman. Sang kakaklah yang membiayai kuliah.

Begitulah di keluarga itu: kakak yang sudah bekerja membiayai adik. Itulah sebabnya nyaris semua anak buruh tani tersebut jadi sarjana.

”Waktu pertama praktik ambil darah, saya pingsan,” ujar Sukirman mengenang saat menjadi mahasiswa.

Vijei juga satu-satunya dokter di antara empat saudaranya. Ayahnya punya bengkel kecil. Ibunya guru.

Begitu lulus, Vijei ditempatkan di pulau terpencil: Karimun. Dia empat tahun di sana. Dia aktif di kegiatan sosial. Termasuk jadi panitia operasi katarak gratis. Begitu aktifnya di pengurusan katarak, akhirnya Vijei ditawari untuk mengambil Spesialis Mata.

Vijei sebenarnya enggan. Dia bertekad di Karimun saja. Di situ dia sering dibayar pasien dengan dolar Singapura. Memang banyak warga negara tetangga itu ke Karimun. Kuliner. Atau rekreasi lainnya.

Tabungan dolarnya itulah yang dia pakai untuk mengambil Spesialis Mata. Ternyata Vijei sekaligus berhasil mendapat Sukirman –duda cerai dua anak. ”Awalnya saya tidak mau. Kan ia duda cerai. Tapi, ibu saya terus mengatakan ia orang baik,” kenang Vijei. Sang ibu memang senang tinggal bersama Vijei. Pun saat Vijei di Karimun. Apalagi setelah di Jakarta.

Dari perkawinan itu, lahirlah satu anak laki-laki. Kini sudah SMA. Pasangan tersebut telah membukakan mata saya: India juga bisa. Murah pula.

Vijei juga mengesankan saya: bagaimana sambil menahan sakitnya masih ingat almamaternya. (Dahlan Iskan)

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.

Anda belum tahu ini: saya benar-benar sulit memilih komentar pilihan edisi kemarin. Begitu banyak komentar yang bagus dan menarik. Setelah saya baca semuanya, lebih dari 300 komentar, setidaknya 80 persennya harus saya pilih. Berarti sama saja saya minta Anda membaca ulang hampir semua komentar.

Carilah sendiri mana yang termasuk 80 persen itu. Yang juga akan sulit adalah pembaca yang suka membuat statistik: siapa terpilih berapa kali. Bagaimana ia memasukkan yang 80 persen itu ke dalam statistik?

Ini untuk kali kedua saya menghadapi begitu banyak pilihan. Harusnya, kali ini, yang tidak terpilih yang harusnya dimuat.

Sebagai gantinya, saya muat foto kiriman pembaca satu ini. Di mana ia/dia mencuri foto itu. Dan kapan. Lebih suka lagi kalau Anda tahu apakah hari itu saya punya uang Rp80 juta.

Hanya satu harapan saya: jangan anggap ini sebagai pengalihan isu….

dahlan
Dahlan Iskan bersama Alm Vanessa Angel. Foto : Ist
Tags: disway

Berita Terkait.

disway
Disway

Serba Mirip

Sabtu, 4 Juli 2026 - 08:00
Kanan Dalam
Disway

Hoax Bijaksana

Jumat, 3 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Dokter Icha

Selasa, 30 Juni 2026 - 08:00
disway
Disway

Bawah Tanah

Senin, 29 Juni 2026 - 08:00
disway
Disway

Ganti Dolar

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:00
disway
Disway

Bobotoh Kuning

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:00

BERITA POPULER

  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    2165 shares
    Share 866 Tweet 541
  • Portugal vs Kroasia: Martinez Sebut Ronaldo dan Modric Berada di Atas Keraguan Publik

    851 shares
    Share 340 Tweet 213
  • Hasil Piala Dunia 2026: Kalah Telak dari Prancis, Pelatih Norwegia Sengaja Simpan 10 Pemain Andalan

    1647 shares
    Share 659 Tweet 412
  • Menteri Ekraf: Arsip Jadi Jejak Transformasi Ekonomi Kreatif Indonesia

    929 shares
    Share 372 Tweet 232
  • Gempa Bumi Dangkal M 4,0 Guncang Palu, BMKG: Kedalaman Hiposenter 2 Km

    779 shares
    Share 312 Tweet 195
Messi
Olahraga

Atasi Perlawanan Sengit Tanjung Verde 3-2, Argentina Melaju ke Babak 16 Besar

Editor Ali Rachman
Sabtu, 4 Juli 2026 - 09:31

INDOPOSCO.ID - Tim nasional (Timnas) Argentina menang susah payah dengan skor 3-2 saat menghadapi Tanjung Verde pada babak 32 besar...

SelengkapnyaDetails
Salah

Bawa Mesir Lolos ke 16 Besar, Salah Ungkap Alasan Pakai Trik Panenka di Babak Tos-tosan

Sabtu, 4 Juli 2026 - 08:30
Ramos

Kroasia Gugur di 32 Besar, Zlatko Dalic Ngamuk Sebut Wasit Sangat Buruk

Jumat, 3 Juli 2026 - 19:08
Pemain-Swiss

Hasil Piala Dunia: Swiss Hentikan Langkah Aljazair dengan Kemenangan Meyakinkan

Jumat, 3 Juli 2026 - 16:05
Portugal Lolos Dramatis ke 16 Besar, Ramos: Saya Suka Momen Bertekanan Tinggi

Portugal Lolos Dramatis ke 16 Besar, Ramos: Saya Suka Momen Bertekanan Tinggi

Jumat, 3 Juli 2026 - 13:02
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.