• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Andhika Thatcher

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Kamis, 28 Oktober 2021 - 04:05
in Disway
Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Meski kalahan, bagaimana lagi. Tetap saja harus menonton. Toh tinggal hidupkan TV.  Perasaan saya pun sudah saya tata: agar bisa menerima kekalahan itu lagi. Kan lawannya kali ini berat: Persija Jakarta.

Lawan tim selemah Persela Lamongan saja 1-1. Bahkan lawan tim papan bawah seperti Borneo pun kalah.

BacaJuga:

Serba Mirip

Hoax Bijaksana

Dokter Icha

WANI!

Saya lirik layar kaca itu. Perhatian saya terbagi. Saya harus mengikuti acara dialog di Metro TV. Lewat Zoom. Yang membahas masa depan BUMN. Saya salah satu narasumbernya.

Tiba-tiba terjadi gol itu. Oleh Taisei Marukawa, pemain asal Jepang itu. Ternyata Persebaya justru menang: 1-0. Peringkatnya pun naik ke urutan lima.

Baru sekali itu Persebaya clean sheet. Sejak Liga 1 diputar tanpa penonton selama pandemi.

Sebenarnya hampir saja Persebaya kebobolan. Tandukan kepala pemain asing Persija itu begitu dekat. Mungkin hanya dari jarak tiga meter. Juga begitu terarah: dekat tiang kanan. Bagian bawah pula.

Kiper Persebaya berhasil menghalaunya. Dengan jibakunya. Kiper itu sampai 12 kali menyelamatkan gawang Persebaya. Pun sampai menit-menit terakhir. Tegangnya bukan main: Persija menggempur habis-habisan.

Tapi kiper itu selalu saja berhasil menangkap bola.

Begitu peluit panjang berbunyi, sang kiper berjalan menuju tengah lapangan. Langkahnya gontai. Lalu tersungkur ke tanah. Ia menangis.

“Saya teringat ibu. Saya menangis untuk ibu,” ujar Andhika Ramadhani, sang kiper.

Andhika Ramadhani
Andhika Ramadhani. Foto : Disway

Umurnya baru 21 tahun.

Ia kiper cadangan, itu pun cadangan kedua (kiper ketiga). Mestinya amat kecil peluang bagi dirinya untuk bisa tampil. Kalau pun kiper utama berhalangan, masih ada kiper cadangan.

Itulah yang jadi topik tulisan ini. Takdir. Bukan tentang Persebaya.

Kiper utama Persebaya ternyata cedera. Agak berat. Sampai Maret tahun depan pun belum tentu bisa pulih. Kiper cadangan tiba-tiba dipanggil PSSI untuk ikut pemusatan latihan bagi tim nasional.

Andhika tiba-tiba menjadi satu-satunya pilihan: harus turun ke lapangan. Lawannya sangat kuat: pemimpin sementara klasemen, PSIS Semarang.

“Saya grogi. Mental saya down,” ujar Andhika. Persebaya kalah. Ia tidak bisa tidur. Ia bertekad untuk menguatkan mental.

Persebaya sebenarnya mendapat kiper baru. Andhika bisa tersisih lagi. Ternyata kiper baru itu belum vaksin. Tidak bisa dipasang. Andhika ”terpaksa” dipasang lagi. Mainnya bagus. Persebaya menang. Saya lupa melawan mana. Rasanya melawan Sleman. Itu tidak penting. Dan kemarin Persebaya menang lagi. Bahkan clean sheet. Andhika sampai menangis, bahagia. Padahal gempuran begitu bertubi-tubi.

Tinggi badan Andhika 182 cm. Kurang tinggi, tapi sudah cukup ideal untuk kiper di Indonesia. Kiper utama masih belum sembuh. Kiper cadangan masih lama di pemusatan latihan tim nasional.

Andhika mulai membuktikan kemampuannya. Ia punya kesempatan tampil lagi. Dan tampil lagi. Mentalnya kian kuat. Di umurnya yang 21 tahun.

Andhika adalah contoh klasik pesepak bola Indonesia: dari keluarga miskin. Sejak kecil ia hanya hidup berdua dengan ibunya. Ayahnya meninggal ketika Andhika masih balita.

“Ternyata ayah saya sebenarnya tidak meninggal,” ujar Andhika kemarin.

Ia tidak pernah tahu kalau ayahnya sebenarnya masih hidup. Pindah dari Surabaya ke Jatiroto: kawin lagi di sana.

Sang ibu lantas jualan kopi, teh, dan kue: buka warung di dekat terminal di Perak, Surabaya Utara. Andhika ikut ke warung itu. Ikut membantu cuci gelas dan piring. Bertahun-tahun. Setelah lebih besar ikut melayani pembeli: menyajikan kopi atau teh.

Ketika Andhika sudah masuk ke SMA (Hang Tuah 1 Surabaya), ada orang yang memberi tahunya: ayahnya meninggal dunia.

Saat itulah sang ibu menjelaskan: dulu itu dia memang berbohong –untuk kebaikan sang anak. Andhika bisa menerima itu. Lalu ke rumah duka.

Ternyata istri kedua yang di Jatiroto itu sudah lebih dulu meninggal. Tidak lama kemudian sang ayah juga sakit keras. Lalu dibawa ke Surabaya lagi oleh anaknya yang lain lagi, dari istri yang pertama. Berarti yang di Jatiroto itu istri ketiga.

Berarti ibu Andhika adalah istri kedua. “Menurut ibu, ayah saya dulu tukang parkir,” katanya.

Itulah untuk kali pertama Andhika tahu wajah ayahnya: sudah menjadi mayat. Andhika lantas ikut mengantarkan jenazah itu ke makam.

“Ibu saya juga ikut melihat jenazah ayah. Bersama saya. Ibu kan tidak pernah bercerai dengan ayah,” ujar Andhika.

Kini sang ibu tetap jualan kopi dan teh. Tapi lokasinya sudah di ruko. Sedang rumahnya tetap di sebuah gang sempit di kawasan Kalimas Baru. Di situ pula Andhika tinggal bersama sang ibu. Kalau lagi tidak ada kegiatan sepak bola, ia masih membantu sang ibu di warungnya itu.

Sebelum dikontrak Persebaya, Andhika sempat jadi tukang parkir. Juga sempat setahun menjadi driver Gojek.

Kini, sebagai pemain sepak bola profesional, Andhika mulai punya penghasilan yang lumayan. Kemampuannya sebagai kiper terlihat oleh publik. Ia bisa menjadi bintang –kalau tetap bisa rendah hati dan tidak mudah tergoda yang aneh-aneh.

“Ibu bangga sekali saya bisa dikontrak Persebaya,” ujar Andhika. Ia tahu betapa besar pengorbanan ibunya. Yang harus hidup seorang diri. Sampai bisa menyekolahkannya hingga tamat SMA.

Andhika tahu sang ibu tidak mau menonton dirinya tampil di TV. “Ibu merasa tidak kuat. Deg-degan terus,” ujarnya.

Tentu Andhika masih punya waktu untuk memperbaiki kondisi badannya. Ia harus tahu: di masa kecilnya kurang asupan gizi. Ibunya sering harus menangis. Andhika-kecil sering sudah membawa piring untuk minta makan. Tapi tidak ada nasi yang bisa diberikan.

Saya ingat kejadian di Inggris beberapa tahun lalu. Ketika begitu banyak pemain bola di sana yang cedera. Seorang tokoh oposisi langsung menuduh. “Semua ini salah Margaret Thatcher,” ujarnya.

Apa hubungannya? Inilah penjelasan sang oposisi: “Duluuuuu, ketika Margaret Thatcher menjadi Perdana Menteri (PM) Inggris, dia menghapuskan ransum susu di sekolah-sekolah dasar.” (Dahlan Iskan)

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.

Tags: disway

Berita Terkait.

disway
Disway

Serba Mirip

Sabtu, 4 Juli 2026 - 08:00
Kanan Dalam
Disway

Hoax Bijaksana

Jumat, 3 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Dokter Icha

Selasa, 30 Juni 2026 - 08:00
disway
Disway

Bawah Tanah

Senin, 29 Juni 2026 - 08:00
disway
Disway

Ganti Dolar

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:00
disway
Disway

Bobotoh Kuning

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:00

BERITA POPULER

  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    2163 shares
    Share 865 Tweet 541
  • Portugal vs Kroasia: Martinez Sebut Ronaldo dan Modric Berada di Atas Keraguan Publik

    851 shares
    Share 340 Tweet 213
  • Hasil Piala Dunia 2026: Kalah Telak dari Prancis, Pelatih Norwegia Sengaja Simpan 10 Pemain Andalan

    1647 shares
    Share 659 Tweet 412
  • Menteri Ekraf: Arsip Jadi Jejak Transformasi Ekonomi Kreatif Indonesia

    929 shares
    Share 372 Tweet 232
  • Gempa Bumi Dangkal M 4,0 Guncang Palu, BMKG: Kedalaman Hiposenter 2 Km

    778 shares
    Share 311 Tweet 195
Salah
Olahraga

Bawa Mesir Lolos ke 16 Besar, Salah Ungkap Alasan Pakai Trik Panenka di Babak Tos-tosan

Editor Ali Rachman
Sabtu, 4 Juli 2026 - 08:30

INDOPOSCO.ID - Timnas Mesir menyingkirkan Australia melalui babak adu penalti 4-2 pada laga 32 besar Piala Dunia 2026, Sabtu (4/7/2026)...

SelengkapnyaDetails
Ramos

Kroasia Gugur di 32 Besar, Zlatko Dalic Ngamuk Sebut Wasit Sangat Buruk

Jumat, 3 Juli 2026 - 19:08
Pemain-Swiss

Hasil Piala Dunia: Swiss Hentikan Langkah Aljazair dengan Kemenangan Meyakinkan

Jumat, 3 Juli 2026 - 16:05
Portugal Lolos Dramatis ke 16 Besar, Ramos: Saya Suka Momen Bertekanan Tinggi

Portugal Lolos Dramatis ke 16 Besar, Ramos: Saya Suka Momen Bertekanan Tinggi

Jumat, 3 Juli 2026 - 13:02
Hasil Piala Dunia: Comeback Dramatis, Portugal Singkirkan Kroasia untuk Tantang Spanyol

Hasil Piala Dunia: Comeback Dramatis, Portugal Singkirkan Kroasia untuk Tantang Spanyol

Jumat, 3 Juli 2026 - 08:52
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.