INDOPOSCO.ID – Indonesia yang menjalankan sisitem demokrasi dalam menentukan pemimpin, tidak bisa lepas dari politik. Semua warga negara memiliki hak memilih dan dipilih.
Biasanya, untuk menjadi pimpinan daerah, baik eksekutif maupun legislatif, didorong lewat jalur partai.
Pada era milenial ini, ada anak muda yang berusia 24 tahun sudah menduduki jabatan Sekretaris Wilayah (Sekwil) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DKI Jakarta.
Baca Juga : Sekwil PPP DKI Kunjungi Kantor Redaksi INDOPOSCO
Sosok itu bernama Najmi Mumtaza Rabbany. Dia diminta langsung oleh Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PPP DKI Jakarta, Abraham Lunggana atau Haji Lulung untuk sama-sama menjadikan Jakarta jadi lumbung suara PPP.
Selain itu, penunjukan Gus Najmi, sapaan karibnya, sebagai Sekwil, salah satu upaya mengubah paradigma PPP yang dicap ‘partai orang tua’ menjadi kaum muda.
Gus Najmi mengatakan, ketertarikannya dalam dunia politik sudah melekat sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Kemudian, ilmu-ilmu politik itu didalami pada saat kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Fakultas Sosial Ilmu Politik.
Baca Juga : Jelang Sumpah Pemuda, Politikus Muda PPP Ingatkan Pemerintah Agar Serius Memperhatikan Keamanan Siber
“Awalnya itu ketakutan, tapi dimaknai sebagai peluang dan saya kuliah di UGM. Saya di Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik di UGM,” katanya saat jadi pembicara di Podcast NGACO (Ngobrol Ala Indoposco), belum lama ini.
Haus dengan keilmuan, Gus Najmi memutuskan untuk kuliah lagi di Universitas Islam Indonesia (UII) dengan mengambil hukum. Alasannya, politik tidak bisa lepas dengan hukum.
“Saya berpikir politik ada kaitannya dengan hukum, pertanyaan yang muncul hukum melahirkan politik, apa politik melahirkan hukum, karena produk UU (Undang-Undang) melahirkan politik. Akhirnya saya nggak ambil pusing, saya ambil dua-duanya dan mengambil (hukum) ke Kampus UII,” ujarnya.
Selama masa kuliah, pihaknya mempelajari betul tentang teori-teori politik. Bahkan, dirinya pernah mencalonkan diri sebagai Presiden Mahasiswa di UGM pada tahun 2018.
“Pernah nyalon, jadi kalah. Sama istilahnya BEM atau Presiden Mahasiswa. Itu di tahun 2018, memang skala politik berbarengan dengan nasional, dipengaruhi. Nyemplung (politik) di kampus,” paparnya.
Namun pada saat itu, Najmi mengukir sejarah karena belum pernah sebelumnya anak internasional mencalonkan diri jadi Presiden Mahasiswa. Biasanya selalu diwarnai oleh anak-anak reguler.
“Ada anak reguler dan anak internasional (di UGM). Dalam perjalanannya, belum pernah anak internasional menyalonkan untuk maju Pemilu mahasiswa. Ini pertama kali saya mencalonkan diri,” ucapnya.
Ia menuturkan, berorganisasi dan berkumpul melakukan diskusi memang sudah menjadi hobi. Masuknya dalam partai politik semata-mata ingin merubah pandangan bahwa wajah politik itu kotor.
Selain itu, pihaknya ingin menjadi bagian penyalur aspirasi dari kalangan milenial. Mengingat, suara terbesar di Indonesia adalah kaum milenial.
“Saya senang ngumpul, investasi terbaik itu silaturahmi, demen ngobrol. Jadi organisasi dan ngumpul itu DNA saya. Saya nggak bisa seharian di rumah terus, stres. Akhirnya saya memanfaatkan itu (berorganisasi),” tuturnya. (son)










