Disway

Jamie Raskin

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – “Pengadilan” ini berat sekali. Tapi harus bisa cepat sekali: dalam waktu 16 jam sudah harus ada keputusan. Padahal yang diadili seorang presiden –yang kini berstatus mantan: Donald Trump. Yang menyidangkan: Senat Amerika Serikat –semacam DPD (Dewan Perwakilan Daerah) di Indonesia.

Berarti Sabtu dini hari tadi –ketika Disway ini terbit– keputusan sudah dibacakan. Anda bisa tahu lebih dulu dari saya.
Yang harus diputuskan: apakah Presiden Trump melanggar konstitusi atau tidak.

Berita Terkait

Kalau putusannya ”melanggar”, Trump tidak boleh lagi mencalonkan diri sebagai apa pun. Termasuk dilarang nyapres pada 2024.

Maka debat ”melanggar atau tidak melanggar konstitusi” itulah yang harus selesai dalam 16 jam sidang.
Anggota Senat dari Partai Demokrat –kini 50 orang– bulat mengatakan Trump melanggar konstitusi. Yang dari Partai Republik –kali ini tinggal 50 orang– mungkin terpecah.

Tapi karena putusan harus disetujui 2/3 suara kelihatannya Trump akan selamat.
Sidang dimulai dengan menampilkan wakil dari DPR. Di sini wakil DPR itu bertindak selaku ”jaksa”. Yakni harus bisa menjelaskan: alasan apa sehingga Trump dianggap melanggar konstitusi.

Setelah itu Senat menguji, membantah, mempertanyakan alasan-alasan itu.
”Jaksa” juga harus menampilkan barang-barang bukti.

Saya mengikuti sidang-sidang itu. Lewat streaming. Menarik sekali.
Yang tampil sebagai ”jaksa” adalah anggota DPR dari Maryland –negara bagian yang letaknya hanya sepelemparan batu dari Gedung Capitol, tempat sidang itu dilangsungkan.

Namanya, Anda pernah tahu: Jamie Raskin. Dari Partai Demokrat. Ia doktor cum laude ilmu hukum lulusan Harvard University. Top banget.

Tentu Anda ingat Disway minggu lalu. Yang menceritakan siapa Raskin. Yang putrinya melarangnya pergi ke Capitol pada 6 Januari lalu. Sang putri tidak mau ayahnya mati. Sang putri terus mengikuti perkembangan politik. Hari itu Kota Washington DC amat tegang. Puluhan ribu pendukung Trump berkumpul di Washington. Mereka akan menggeruduk sidang Kongres –gabungan DPR dan DPD– yang acaranya pengesahan Joe Biden sebagai presiden terpilih.

Sang ayah ngotot pergi ke Capitol. Ia sudah disumpah untuk membela konstitusi. Sang putri tidak mau kehilangan ayah. Sehari sebelumnya dia baru kehilangan kakak laki-lakinya yang bunuh diri.

Akhirnya sang putri mengizinkan bapaknya ke Capitol. Tapi ada syaratnya. Sang putri harus ikut untuk menjaganya.
Ketika sang ayah di ruang sidang sang putri menunggu di ruang lain. Ketika pendukung Trump menyerbu masuk Capitol sang putri sembunyi di bawah meja. Ancaman kematian di mana-mana di gedung itu.

Adegan itulah yang ditayangkan Prof Raskin di sidang pendahuluan Senat. Dramatik sekali. Itulah alasan mengapa menyidangkan Trump di Senat tidak melanggar konstitusi.

Saat itu wakil Republik masih selalu mengatakan menyidangkan Trump adalah inkonstitusional. Mengapa? Trump sudah bukan presiden lagi. Senat sudah tidak bisa menjangkau orang yang sudah tidak menjabat.

Raskin beralasan: kalau Trump tidak bisa diadili karena sudah bukan presiden, maka presiden yang akan datang bisa berbuat semaunya di hari terakhir masa jabatan. Toh besoknya sudah tidak menjabat lagi. Pengadilan di Senat itu, kata Raskin, perlu untuk mengamankan masa depan.

Akhirnya, putusan hari itu, Trump layak diadili di Senat. Enam orang Anggota Senat dari Republik juga berpendapat begitu. Maka pemungutan suara dilakukan: 56:44. Trump layak diadili di Senat. Untuk keputusan jenis ini tidak harus 2/3 suara.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button