INDOPOSCO.ID – IPB University menawarkan tiga agenda kemitraan strategis untuk mempercepat kemandirian pangan nasional pada 2027. Agenda tersebut mencakup penguatan talenta agromaritim, riset bersama dan hilirisasi industri, serta pemberdayaan ekonomi perdesaan melalui kolaborasi dengan pemerintah dan dunia usaha.
Hal tersebut mengemuka dalam IPB Stakeholder Forum 2026 bertema “Meneguhkan Kemandirian, Menginspirasi Masa Depan” di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Rabu (4/11/2026). Forum ini mempertemukan akademisi, pemerintah, pemerintah daerah, industri, dan mitra strategis untuk membangun sinergi menghadapi tantangan pangan global.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menegaskan kemandirian pangan membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, perguruan tinggi dan dunia usaha memiliki peran penting dalam mendukung kebijakan pemerintah.
“Ketahanan pangan tidak mungkin terwujud dengan sendirinya. Stakeholder ini menjadi kunci keberhasilan kita,” ujar Hanif.
Ia juga menekankan pentingnya membangun cadangan pangan hingga tingkat desa. Menurutnya, ketahanan pangan tidak cukup hanya mengandalkan cadangan nasional, tetapi harus diperkuat melalui kemandirian setiap daerah.
“Kemandirian pangan harus dibangun pada setiap daerah, pada setiap provinsi, pada setiap kabupaten hingga ke desa-desa. Cadangan pangan pemerintah sejatinya tidak hanya dikelola oleh Bulog semata, tetapi kemandirian dalam konteks cadangan pangan ini harus diwujudkan sampai ke tingkat desa,” katanya.
Hanif memaparkan, produksi beras nasional pada 2025 mencapai 34,69 juta ton atau meningkat 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, produksi jagung mencapai 16,16 juta ton atau meningkat 7,74 persen.
Meski mencatat peningkatan produksi, pemerintah masih menghadapi tantangan struktural berupa alih fungsi lahan, keterbatasan irigasi, perubahan iklim, kawasan produksi yang belum terintegrasi, serta lambatnya regenerasi petani.
Rektor IPB University Alim Setiawan Slamet mengatakan tantangan ketahanan pangan semakin kompleks akibat perubahan iklim ekstrem, disrupsi rantai pasok global, dan dinamika geopolitik. Kondisi tersebut menuntut setiap negara memperkuat kemandirian pangan dan energi.
“Riset hebat tanpa hilirisasi hanya akan menjadi dokumen perpustakaan. Oleh karena itu, keberadaan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) serta dukungan regulasi pemerintah adalah kunci,” tegas Alim.
Ia menjelaskan, IPB University telah berkolaborasi dengan lebih dari 1.500 mitra strategis. Melalui ekosistem Agromaritim 5.0, inovasi kampus tersebut juga telah menjangkau lebih dari 9.000 desa di Indonesia.
Dalam pengembangan inovasi pangan, IPB mengembangkan varietas padi IPT31SS dengan potensi produktivitas lebih dari 10 hingga 11 ton per hektare. IPB juga mengembangkan IPT19B atau padi gogo yang dapat beradaptasi di lahan kering maupun lahan basah dengan potensi produktivitas 9 hingga 12 ton per hektare.
Untuk memperluas dampak riset dan inovasi, IPB menawarkan tiga agenda kemitraan strategis. Pertama, penguatan talenta agromaritim melalui pendidikan fleksibel, magang industri terintegrasi, dan penyusunan kurikulum bersama. Kedua, riset bersama dan hilirisasi skala industri melalui skema joint research and development, joint living laboratory, serta pemanfaatan fasilitas Science Techno Park (STP).
Ketiga, replikasi program pemberdayaan masyarakat melalui One Village One CEO (OVOC) dan Dosen Pulang Kampung. Program ini diarahkan untuk memperkuat ekosistem bisnis perdesaan sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengembangkan potensi ekonomi lokal.
IPB juga menyiapkan pengembangan program pendidikan fleksibel melalui pembelajaran daring selama 18 bulan atau tiga semester. Skema tersebut menjadi salah satu tawaran untuk memperluas akses peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang agromaritim.
Direktur Kerja Sama, Komunikasi, dan Pemasaran IPB University Alfian Helmi melaporkan forum tersebut dihadiri lebih dari 200 mitra strategis. Ia berharap kegiatan ini terus berkembang dan menghasilkan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional.
“Forum ini membangun dialog bermakna antara dunia industri, pemerintah, lembaga, dan masyarakat untuk menciptakan kerja sama yang lebih berani dan berdampak,” ujarnya.
Selain diskusi strategis, forum ini juga menghadirkan penandatanganan nota kesepahaman dengan sejumlah mitra, termasuk pemerintah daerah, perusahaan, dan organisasi petani. Mitra tersebut meliputi Bupati Timor Tengah Selatan, Bupati Kolaka, Bupati Lebong, PT Raja Wali I, PT Haday Indonesia, dan Serikat Petani Indonesia.
IPB Stakeholder Forum 2026 diselenggarakan bersamaan dengan Nusantara Livestock and Poultry Expo serta IndoAgrotech. Melalui forum ini, IPB mendorong kolaborasi lintas sektor agar hasil penelitian, inovasi teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta mempercepat kemandirian pangan nasional. (ney)



















