INDOPOSCO.ID – Pemanfaatan energi terbarukan untuk mendukung pertanian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan Subak Sembung, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpsar, Provinsi Bali, menarik perhatian delegasi ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE). Melalui program Desa Energi Berdikari (DEB) Uma Palak Lestari, energi surya dan mikrohidro dimanfaatkan untuk mendukung pengairan sawah, mengoperasikan mesin pertanian, hingga mengembangkan potensi ekonomi dan pariwisata lokal.
Inovasi tersebut membantu petani mengatasi keterbatasan pasokan air, terutama saat musim kemarau. Melalui Sistem Suplai Energi Manajemen Irigasi Uma Palak (SIUMA), petani dapat memanfaatkan energi dari kincir air atau mikrohidro yang terintegrasi dengan panel surya untuk mendukung pengairan lahan pertanian seluas 10,26 hektare.
Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Uma Palak Lestari, Wayan Sukadana (47), mengatakan teknologi tersebut membantu petani menggunakan air secara lebih efisien sesuai kebutuhan lahan.
“Sebelum ada SIUMA, kami sering mengalami keterbatasan pasokan air untuk mengairi sawah, terutama saat musim kemarau. Sekarang, dengan adanya teknologi sensor kelembaban tanah yang didukung listrik dari mikrohidro, kami dapat mengetahui lahan mana yang membutuhkan air dan mana yang sudah cukup. Dengan begitu, penggunaan air menjadi lebih tepat sasaran, efisien, dan tidak terbuang sia-sia,” ungkap Wayan.
Manfaat tersebut juga dirasakan Pekaseh atau Ketua Subak Sembung, I Made Darayasa (62). Selain membantu pengairan, pemanfaatan energi terbarukan membuka peluang bagi petani untuk menekan biaya operasional dan meningkatkan efisiensi kegiatan pertanian.
Penerapan energi bersih di Uma Palak Lestari tidak hanya terbatas pada sistem irigasi. Petani mulai memanfaatkan traktor listrik berbaterai untuk mengolah lahan, menggantikan sebagian penggunaan traktor diesel. Baterai traktor dapat diisi ulang menggunakan energi dari panel surya dan mikrohidro, sehingga mengurangi ketergantungan pada bahan bakar.
Dukungan terhadap produktivitas petani juga diperluas hingga tahap pascapanen. Dalam rangkaian kunjungan delegasi ASCOPE, Pertamina menyerahkan bantuan mesin giling padi elektrik kepada kelompok tani setempat. Mesin tersebut memiliki kapasitas pengolahan hingga 200 kilogram padi per jam.
Kehadiran mesin giling padi diharapkan mempermudah petani mengolah hasil panen menjadi beras, meningkatkan efisiensi proses produksi, sekaligus membuka peluang penambahan nilai jual produk pertanian. Dengan demikian, manfaat energi terbarukan dapat dirasakan mulai dari pengairan, pengolahan lahan, hingga pengolahan hasil panen.
Pengembangan kegiatan produktif tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian kelompok tani. Pemanfaatan teknologi berbasis energi bersih tidak hanya mendukung keberlanjutan kegiatan pertanian, tetapi juga memperluas peluang ekonomi masyarakat setempat.
Kawasan Subak Sembung saat ini melibatkan 185 petani dan memberikan dampak ekonomi langsung kepada lebih dari 400 warga sekitar. Melalui pengembangan usaha pertanian dan pariwisata, KUB bersama petani lokal mampu menghasilkan pendapatan lebih dari Rp585 juta per tahun.
Salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan adalah beras Mentik Susu. Varietas ini menyasar segmen pasar premium dan menjadi salah satu upaya meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian lokal.
Selain menjadi kawasan pertanian, Subak Sembung juga berkembang sebagai ruang aktivitas masyarakat dan destinasi wisata. Jalur joging sepanjang 2,4 kilometer yang membentang di tengah persawahan menjadi daya tarik bagi warga maupun wisatawan.
Untuk menunjang aktivitas masyarakat, sebanyak 43 titik lampu penerangan otomatis telah dipasang dengan dukungan energi dari SIUMA. Penerangan tersebut memungkinkan kawasan persawahan dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan hingga malam hari, mulai dari berjalan santai dan berolahraga hingga berbelanja sayuran segar langsung dari petani.
Aktivitas tersebut turut membuka peluang pendapatan tambahan bagi kelompok tani melalui sektor pariwisata. Dengan mengintegrasikan pertanian, energi terbarukan, dan kegiatan ekonomi lokal, Uma Palak Lestari berupaya membangun ekosistem desa yang produktif sekaligus berkelanjutan.
Model pemberdayaan masyarakat berbasis energi terbarukan tersebut menjadi salah satu daya tarik kunjungan delegasi ASCOPE ke kawasan DEB Uma Palak Lestari. Para delegasi melihat langsung pemanfaatan energi bersih yang tidak hanya mendukung transisi energi, tetapi juga berkontribusi terhadap produktivitas pertanian, ketahanan pangan, dan kemandirian ekonomi masyarakat.
Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita, mengatakan pendekatan pemberdayaan yang dikembangkan di Uma Palak Lestari mendapatkan respons positif dari para delegasi. Bahkan, sejumlah delegasi tertarik mempelajari lebih lanjut konsep pengelolaan dan manfaat ekonominya bagi masyarakat.
“Dari testimoni para delegasi, mereka menyampaikan belum pernah melihat model pengelolaan community involvement and development seperti ini sebelumnya. Bahkan, delegasi dari Timor Leste secara khusus menanyakan konsep detail dan potensi pendapatan petani untuk dipelajari,” ujarnya, dikutip Kamis (29/10/2026).
Program DEB Uma Palak Lestari merupakan bagian dari inisiatif PT Pertamina (Persero) untuk mendorong pemanfaatan energi terbarukan berdasarkan kebutuhan dan potensi lokal. Melalui pendekatan tersebut, energi bersih diharapkan menjadi penggerak kegiatan produktif sekaligus memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat.
Secara nasional, Pertamina telah mengembangkan 310 titik Desa Energi Berdikari di berbagai wilayah Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 62 desa telah mencapai tahap mandiri setelah melalui proses pendampingan selama sekitar tiga hingga lima tahun.
Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya Pertamina mengembangkan pemanfaatan energi bersih yang terhubung langsung dengan kebutuhan masyarakat. Melalui penguatan sektor produktif, program Desa Energi Berdikari diharapkan tidak hanya mendukung transisi energi, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan, membuka peluang usaha, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.(srv)


















