INDOPOSCO.ID – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan menekankan pentingnya integritas, evaluasi diri, dan keberanian berinovasi bagi calon pemimpin muda. Kepemimpinan tidak cukup hanya mengandalkan jabatan atau posisi, tetapi harus mampu menghadirkan perubahan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia mengajak mahasiswa merefleksikan pengalaman berorganisasi sekaligus memahami tanggung jawab yang melekat pada peran seorang pemimpin. “Ini penting dalam proses menjadi seorang pemimpin. Kalau tidak evaluasi diri, itu berbahaya.
Maka, saya meyakini Saudara-saudara sudah menjadi pemimpin di masing-masing perguruan tingginya,” ujar Fauzan dalam keterangan, Kamis (15/10/2026).
Menurut dia, pemimpin muda perlu memahami alasan dirinya dipercaya memimpin, manfaat yang dapat diberikan, serta perubahan yang ingin diwujudkan bagi lingkungan dan masyarakat.
Fauzan juga mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak pada pola kepemimpinan yang sekadar mengulang kebiasaan lama. Pemimpin harus mampu mengidentifikasi persoalan, mempelajari praktik baik, dan mengembangkan pendekatan baru sesuai kebutuhan organisasi.
Dia mengibaratkan perubahan yang hanya tampak dari luar seperti ular berganti kulit. Perubahan tersebut belum tentu menyentuh karakter dan substansi organisasi, apabila tidak disertai pembaruan cara berpikir dan pola kerja.
Karena itu, Fauzan mendorong mahasiswa berani menciptakan kebaruan atau zero to one, yakni menghadirkan gagasan dan inisiatif yang menghasilkan nilai baru.
Dalam konteks organisasi mahasiswa, menurutnya, inovasi dapat dimulai dengan memperluas orientasi kegiatan. Organisasi kampus tidak seharusnya hanya berkutat pada kepentingan internal, tetapi juga perlu berkontribusi menjawab kebutuhan masyarakat.
Salah satunya, dikatakan dia, melalui pengembangan kegiatan akademik yang terhubung dengan persoalan di sekitar perguruan tinggi. Kampus dapat mengambil peran dalam mengembangkan potensi ekonomi masyarakat serta membantu menyelesaikan berbagai persoalan di tingkat lokal.
Fauzan menegaskan integritas merupakan fondasi utama kepemimpinan. Jabatan tidak boleh dimaknai sebatas akses, perluasan jaringan, atau kesempatan memperbesar pengaruh. Sebaliknya, posisi tersebut harus diiringi tanggung jawab dan komitmen untuk memberikan manfaat.
Dia juga mengapresiasi gagasan konstruktif dan pandangan kritis yang disampaikan peserta. Menurut dia, masukan yang disertai niat memperbaiki keadaan perlu dipelihara sebagai bagian dari pembelajaran kepemimpinan dan dapat menjadi bahan evaluasi pengembangan program.
“Ke depan, kita ingin negara ini menjadi negara yang dibutuhkan. Bukan persoalan material saja, tetapi keunggulan pendidikan menjadi kunci dari segalanya. Maka, pendidikan sebagai sumber peradaban harus kita bangun sejak sekarang, sehingga akan melahirkan alumni-alumni yang memiliki identitas di mana saja mereka berada,” tegasnya. (nas)

















