INDOPOSCO.ID – Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kian mengubah cara manusia mencari, mengolah, dan memahami informasi. Di tengah kemudahan yang ditawarkan teknologi, jurnalisme menghadapi tantangan yang tak kalah besar, yakni memastikan kecepatan produksi tidak mengorbankan akurasi dan kepercayaan publik.
Persoalan tersebut mengemuka dalam Workshop Wartawan 2026 PT United Tractors Tbk (UT) bertema “Human Journalism in the Age of AI: Strengthening Trust and Media Credibility” di Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Human Capital, Communications & Sustainable Director PT United Tractors Tbk Ari Sutrisno mengatakan, teknologi digital dan media sosial telah melekat dalam aktivitas sehari-hari. Pemanfaatan ChatGPT hingga YouTube, misalnya, membuka akses pengetahuan sekaligus membantu masyarakat mempelajari keterampilan baru.
“AI, medsos, media native itu satu hal yang sangat menjadi sehari-harinya kita sekarang,” ujar Ari.
Ia mencontohkan pengalaman seorang teknisi yang memanfaatkan ChatGPT untuk mencari penyebab kerusakan pendingin ruangan atau AC. Menurut Ari, teknologi dapat memperluas pengetahuan dan membantu pekerjaan, selama digunakan secara tepat. Namun, kemajuan teknologi tidak semestinya menggeser nilai kemanusiaan.
“Teknologi boleh terus berjalan, tapi sentuhan manusia tetap di hati,” jelas Ari.
Pesan serupa disampaikan anggota Dewan Pers Abdul Manan. Ia menegaskan, AI perlu ditempatkan sebagai alat bantu profesional, bukan pengganti wartawan dalam memproduksi berita. Penggunaannya juga perlu mempertimbangkan risiko, mulai dari penyebaran misinformasi hingga dampak ekonomi akibat inovasi bisnis.
“Bagaimana wartawan seharusnya memperlakukan AI. Kita tahu bahwa dalam AI itu ada banyak concern, ada concern soal politik, misalnya soal digunakan untuk misinformasi, ada juga concern soal ekonomi kalau inovasi di bidang bisnis. Nah, tapi yang mungkin bagi kita adalah bagaimana wartawan menggunakan AI untuk kepentingan profesi,” kata Abdul.
Menurut Abdul, informasi yang dihasilkan AI tidak serta-merta dapat dianggap benar. Wartawan harus tetap kritis dan memverifikasi setiap informasi sebelum menggunakannya dalam pemberitaan.
“AI dapat membantu pekerjaan media, tetapi wartawan tetap bertanggung jawab untuk menghasilkan berita dengan standar jurnalistik yang baik. Proses pengumpulan informasi, peliputan investigasi, dan pelaporan mendalam tetap membutuhkan penilaian manusia,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik TVRI Agus Sudibyo menyoroti perubahan mendasar dalam cara masyarakat memperoleh informasi. Fungsi media sebagai penyaring informasi (gatekeeper) dinilai tengah menghadapi krisis seiring dominasi mesin pencari dan media sosial. Kehadiran AI generatif semakin mempercepat pergeseran tersebut.
“AI bukan sekadar menyeleksi sumber, melainkan juga mengolah, menghubungkan, dan menyintesiskan informasi menjadi jawaban yang utuh. Pola akses informasi pun bergeser, dari pencarian sumber informasi beralih pada permintaan jawaban yang siap pakai,” ungkap Agus.
Agus menjelaskan, AI kini berperan sebagai perantara epistemik (epistemic intermediary) yang ikut membentuk pengetahuan pengguna. Teknologi ini tidak hanya mengumpulkan informasi, tetapi juga menentukan sumber rujukan, menghubungkan berbagai informasi, dan membingkai suatu persoalan.
”Peran epistemik ini juga mencakup pemilihan sumber rujukan, penentuan informasi sebagai dasar jawaban, pembentukan hubungan antarinformasi, serta cara-cara sebuah persoalan direpresentasikan,” imbuhnya.
Dari sisi praktik jurnalistik, AI Strategist & Technology Advisor sekaligus Associate Professor Data Science Monash University Arif Perdana berpandangan, AI dapat membantu berbagai tahapan kerja media, mulai dari produksi hingga penyajian berita. Meski demikian, prinsip verifikasi tetap menjadi fondasi yang tidak boleh ditinggalkan.
”AI bisa mempercepat proses produksi, tetapi jangan sampai proses verifikasi juga ikut dipercepat sehingga mengabaikan ketelitian. Sebab, akan ada fakta-fakta yang terlewat jika tidak sungguh-sungguh diverifikasi,” tutup Arif.
Pesan dari para narasumber tersebut menegaskan bahwa tantangan jurnalisme di era AI bukan sekadar mengadopsi teknologi baru. Kecepatan dan efisiensi memang penting, tetapi kredibilitas media tetap ditentukan oleh ketelitian, tanggung jawab, serta kemampuan wartawan memastikan bahwa informasi yang sampai kepada publik benar-benar teruji. (her)

















