INDOPOSCO.ID – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di dunia pendidikan terus dikembangkan Universitas Terbuka (UT). Tak sekadar mengikuti perkembangan teknologi, UT mengintegrasikan AI dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UT Prof Rahmat Budiman mengatakan, pihaknya terus mengkaji penerapan AI agar memberikan dampak nyata terhadap kualitas pembelajaran. Salah satu langkah yang dilakukan adalah membentuk tim pengajar yang memadukan teknologi AI dengan peran tutor manusia.
“Kita ingin belajar bagaimana AI itu diterapkan dalam pembelajaran,” ujar Rahmat ditemui indoposco.id usai membuka The 8th Open Society Conference (OSC) 2026 di kampus UT, Kamis (15/10/2026).
Dia menjelaskan, UT telah memulai sejumlah inovasi pemanfaatan AI sejak semester lalu. Salah satunya melalui pembentukan teaching hybrid, yakni tim pengajar yang menggabungkan peran AI Tutor dengan tutor manusia dalam mendampingi mahasiswa.
Selain itu, lanjut Rahmat, UT juga melakukan evaluasi berkala terhadap efektivitas penggunaan AI selama satu tahun terakhir. Kampus juga tengah menerapkan asisten mahasiswa virtual yang dapat membantu peserta didik berdiskusi dan merespons berbagai materi perkuliahan.
Menurut Rahmat, pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi mahasiswa dalam memahami materi pembelajaran. Tidak hanya menyerap pengetahuan dari narasumber dan panelis seminar, mahasiswa juga didorong mempelajari praktik terbaik yang dapat diterapkan dalam kegiatan akademik.
“Penerapan AI diharapkan mampu memberikan nilai tambah yang signifikan bagi proses belajar mahasiswa,” katanya.
Rahmat menegaskan, peningkatan kualitas pembelajaran menjadi salah satu sasaran utama dari kebijakan tersebut. Dengan pemahaman materi yang lebih baik, kompetensi mahasiswa diharapkan meningkat dan berkontribusi positif terhadap perolehan nilai UAS pada akhir semester.
Meski demikian, UT menyadari penggunaan AI juga menghadirkan tantangan tersendiri. Kemudahan memperoleh jawaban dari teknologi tersebut berpotensi membuat mahasiswa menerima informasi tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu.
“Karena itu kami menerbitkan peraturan rektor mengenai penggunaan AI dalam bidang akademik. Kebijakan tersebut kemudian diturunkan menjadi buku pedoman pemanfaatan AI yang ditujukan bagi seluruh sivitas akademika,” ungkapnya.
“AI itu di satu sisi adalah alat yang memudahkan. Karena saking mudahnya, mahasiswa kerap menganggap sesuatu yang dihasilkan AI itu pasti betul,” imbuhnya.
Ia menegaskan, untuk memperkuat penerapan kebijakan tersebut, UT berencana menyematkan pedoman penggunaan AI dalam sistem pendaftaran mahasiswa baru melalui portal MyUT mulai semester ini.
Dengan mekanisme tersebut, menurutnya, mahasiswa yang telah menyelesaikan registrasi dan memperoleh Nomor Induk Mahasiswa (NIM) akan mendapatkan pedoman pemanfaatan AI untuk mendukung kegiatan pembelajaran maupun aktivitas akademik lainnya.
Rahmat mengatakan, kebijakan ini diharapkan dapat mendorong mahasiswa memanfaatkan AI secara bijak dan bertanggung jawab. Sosialisasi juga dilakukan melalui media sosial, radio, dan televisi, termasuk pembahasan khusus mengenai etika akademik dalam penggunaan AI.
Sebelumnya, UT menggelar The 8th Open Society Conference (OSC) 2026 untuk membahas tata kelola inovasi teknologi digital yang bertanggung jawab, penguatan modal sosial, dan ketahanan masyarakat di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Konferensi internasional yang diselenggarakan Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) UT tersebut mengusung tema “Bridging Technological Innovation, Governance and Social Responsibility: Advancing Digital Interconnectivity, Social Capital, and Global Resilience”.
Di tempat yang sama, Dekan Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) UT Meita Istianda mengatakan, kampus terus mengembangkan kolaborasi strategis di tingkat nasional maupun internasional, termasuk dengan University of Malaya, Malaysia.
Menurut Meita, kolaborasi tersebut tidak hanya berorientasi pada pendidikan tinggi, tetapi juga diwujudkan melalui program edukasi dan pendampingan masyarakat.
“Kami memberikan pembekalan kepada masyarakat mengenai cara menghasilkan produk berkualitas. Pendampingan juga mencakup strategi pemasaran agar produk lokal tidak hanya mampu bersaing di pasar domestik, tetapi berpeluang menembus pasar internasional,” ujarnya.
Melalui berbagai program tersebut, menurutnya, kehadiran perguruan tinggi dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Sinergi antara kampus dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat kemandirian ekonomi sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat.
“Jadi bentuk konkrit konferensi ini, melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Harapannya hasil riset ini bisa berdampak langsung kepada masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia The 8th Open Society Conference (OSC) 2026 Bahir Mukhammad mengatakan, OSC 2026 menjadi forum akademik untuk mengkaji transformasi digital tidak hanya dari aspek perkembangan teknologi, tetapi juga dampaknya terhadap kehidupan sosial, kebijakan publik, dan ketahanan masyarakat.
“Dari total 154 artikel penelitian yang masuk, sebanyak 100 artikel dinyatakan lolos seleksi melalui proses peer review. Artikel-artikel tersebut dipresentasikan oleh peneliti dari tiga negara, yakni Indonesia, Malaysia, dan India,” ujarnya. (nas)

















