INDOPOSCO.ID – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) membuka peluang lebih luas bagi pengusaha daerah untuk masuk dalam bisnis biomassa, khususnya melalui pengelolaan limbah dan sampah menjadi bahan bakar pembangkit listrik.
Langkah tersebut dinilai dapat memperkuat rantai pasok biomassa sekaligus menciptakan sumber ekonomi baru berbasis potensi lokal. Peluang itu disampaikan Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Jawa Barat di Kota Bekasi, Selasa (7/10/2026).
Hokkop mengatakan, kebutuhan biomassa untuk mendukung program co-firing pada pembangkit listrik PLN cukup besar. Saat ini terdapat 52 lokasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dengan total kapasitas terpasang mencapai 18.154 megawatt (MW), yang membutuhkan pasokan biomassa sekitar 9 juta ton per tahun.
“Jadi bisnis ini adalah bisnis yang melibatkan sebanyak mungkin pengusaha lokal,” katanya.
Menurut dia, keterlibatan pengusaha daerah dapat dilakukan di berbagai mata rantai bisnis, mulai dari pengumpulan bahan baku, pengolahan, penyimpanan hingga distribusi ke pembangkit. PLN EPI menyiapkan skema yang memungkinkan pelaku usaha berperan sebagai pengelola sub hub, hub maupun main hub.
Sumber bahan bakunya pun cukup beragam. Selain serbuk gergaji dan sisa tebangan kayu, biomassa dapat berasal dari sekam padi, bonggol jagung, batang singkong hingga berbagai jenis limbah lainnya.
Rantai pasok tersebut juga dapat melibatkan berbagai kelompok ekonomi di daerah, seperti koperasi, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), kelompok tani, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) hingga mitra swasta.
“Jadi bukan hanya perusahaan besar. Koperasi, BUMDes, UMKM dan pengusaha daerah bisa masuk dalam ekosistem ini,” ujar Hokkop.
Hingga periode 2023-2026, PLN EPI mencatat realisasi penyediaan biomassa telah mencapai 4,77 juta ton. Namun, lebih dari 77 persen pasokan tersebut masih berasal dari biomassa berbasis kayu.
Kondisi itu sekaligus menunjukkan masih besarnya ruang untuk melakukan diversifikasi sumber bahan baku, terutama dengan memanfaatkan residu pertanian, perkebunan dan sampah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Di Jawa Barat, salah satu potensi yang tengah dipetakan PLN EPI adalah pemanfaatan sampah dari TPS Gedebage untuk diolah menjadi Bahan Bakar Jumputan Padat (BBJP). Bahan bakar tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai alternatif bahan bakar dalam skema co-firing di sejumlah PLTU.
Dalam pemetaan PLN EPI, jarak TPS Gedebage menuju PLTU Indramayu sekitar 150 kilometer (km), PLTU Pelabuhan Ratu 170 km, PLTU Adipala 185 km, dan PLTU Lontar 240 km.
Hokkop menilai, pemetaan jarak menjadi faktor penting dalam membangun rantai pasok biomassa yang efisien. Sebab, biaya logistik merupakan salah satu komponen yang menentukan keekonomian biomassa.
Sementara itu, Ketua Umum HIPPI Erik Hidayat menilai keterlibatan pengusaha lokal dalam rantai pasok biomassa membutuhkan akses dan kesempatan yang konkret. Menurutnya, pengusaha daerah tidak cukup hanya mendapatkan dorongan, tetapi juga harus diberikan ruang untuk masuk dalam rantai ekonomi yang lebih besar.
“Kita nggak perlu uang, kita perlu akses, kita perlu pembinaan, kebijakan yang berpihak, program yang konkret, dan kita butuh sinergi dengan pemerintah daerah,” jelasnya.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan dunia usaha perlu mengambil peran lebih besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Ia mencatat pertumbuhan ekonomi Jawa Barat berada di kisaran 5,73 persen, dengan konsumsi menjadi salah satu penopang utama, disusul investasi, belanja pemerintah dan ekspor.
Pengembangan rantai pasok biomassa yang semakin inklusif dinilai dapat menjadi salah satu bentuk kolaborasi antara sektor energi dan ekonomi daerah. Limbah yang sebelumnya menjadi persoalan lingkungan dapat diolah menjadi bahan bakar sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
PLN EPI mendorong kolaborasi dengan pengusaha daerah, koperasi, BUMDes, UMKM dan kelompok tani untuk membangun ekosistem bioenergi berbasis potensi lokal. Dengan demikian, pengembangan biomassa tidak hanya mendukung transisi energi, tetapi juga membuka peluang usaha dan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.
Dari limbah menjadi energi, potensi daerah menjadi peluang usaha, dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun rantai ekonomi baru yang berkelanjutan.(srv)

















