INDOPOSCO.ID – Kenaikan harga bahan baku menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi pelaku bisnis food and beverage (F&B). Di tengah persaingan yang semakin ketat, menaikkan harga jual bukan selalu menjadi pilihan karena dapat memengaruhi daya beli konsumen.
Kondisi tersebut membuat pelaku usaha dituntut lebih kreatif dalam menjaga keseimbangan antara kualitas produk, efisiensi biaya, dan margin keuntungan.
Trade Marketing Food Service Manager PT Indolakto, Prita Utami Maheswari, mengatakan tekanan biaya bahan baku juga dirasakan industri secara luas. Sejumlah komoditas seperti susu segar dan gula mengalami kenaikan harga.
“Semua bahan kita pun sendiri di Indolakto, di Indofood, kita juga mengalami. Kita juga mengalami yang namanya fresh milk harganya naik, gula naik. Jadi bahan-bahan ini memang semua naik,” kata Prita kepada INDOPOSCO usai acara Indomilk Bakepreneur Roadshow: The Art of Curated Bite-Sized Pastries x Coffee Pairing yang digelar Indomilk F&B Solutions, lini bisnis PT Indolakto yang merupakan entitas anak PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk di Jakarta, pada Selasa (29/9/2026).
Menurutnya, kenaikan tersebut telah terasa sejak kuartal pertama 2026. Selain persoalan pasokan, kondisi geopolitik dan nilai tukar turut memengaruhi biaya bahan baku yang digunakan industri.
“Di hulunya sendiri, dari kuartal I tahun ini itu kenaikan sudah banyak sekali. Faktornya salah satu adalah perang, karena banyak produk bahan bakunya juga dari luar negeri. Jadi pasokan yang terbatas, terus forex-nya juga naik, itu menyebabkan semua bahan bakunya menjadi naik,” terangnya.
Di tengah kondisi tersebut, meneruskan seluruh kenaikan biaya kepada konsumen bukan langkah yang mudah. Pelaku F&B perlu mencari cara agar harga tetap dapat diterima konsumen tanpa menggerus margin bisnis. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah mengevaluasi ukuran produk. Melalui konsep bite-sized pastry, misalnya, pelaku usaha dapat menyesuaikan penggunaan bahan baku dengan kebutuhan konsumen.
Prita mengatakan, produk tidak harus selalu dibuat dalam ukuran besar untuk menciptakan nilai.
“Jadi sebetulnya akhirnya cost-nya jadi lebih ditekan, tapi dia bisa menjual dengan harga yang itu kan create value buat konsumen,” jelas Prita.
Menurut dia, efisiensi tidak berarti menurunkan kualitas. Pelaku usaha justru perlu memperluas wawasan untuk mencari berbagai alternatif, mulai dari bahan baku, formulasi produk, hingga ukuran porsi.
“Inovator itu bukan cuma produk. Inovator itu macam-macam, mencari bahan baku, juga penentuan portion, itu juga bisa kita lakukan,” ungkapnya.
Strategi tersebut dinilai penting karena tujuan akhir dari efisiensi bukan semata-mata menekan biaya, tetapi memastikan bisnis tetap memiliki margin yang sehat.
“Tujuannya untuk bisa mendapatkan margin. Kalau kita punya margin yang bagus, otomatis bisnis ini bisa berkelanjutan, bisa sustain,” tegas Prita.
Ia menilai margin yang sehat akan memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk kembali berinvestasi, termasuk dalam pengembangan produk maupun pemasaran.
“Kalau kita boncos, tiba-tiba kita nggak bisa invest apa-apa untuk mempromosikan produk, segala macam kita nggak punya. Karena kita habis untuk cost saja. Nggak bisa begitu,” tuturnya.
Karena itu, di tengah kenaikan harga bahan baku dan persaingan bisnis yang semakin ketat, inovasi bagi pelaku F&B tidak harus selalu berupa produk baru. Menentukan porsi yang tepat, melakukan diversifikasi menu, memilih bahan baku secara strategis, hingga menciptakan kombinasi produk yang memberikan nilai lebih bagi konsumen dapat menjadi bagian dari strategi menjaga margin.
“Bagi bisnis F&B, kemampuan membaca kebutuhan konsumen sekaligus mengendalikan biaya produksi pada akhirnya menjadi kunci untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga menjaga keberlanjutan usaha,” tutupnya. (her)

















