INDOPOSCO.ID – Indonesia menjadi tuan rumah MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026, ajang seni regional yang mempertemukan seniman dari Indonesia, Malaysia, dan Tailan. Dalam kompetisi tersebut, dua seniman Indonesia berhasil meraih penghargaan tertinggi atau grand prize pada kategori Umum serta pelajar dan mahasiswa.
Kedua seniman tersebut adalah Veronica Liana, yang meraih grand prize kategori umum melalui karya Rupa Tan Matra #3, serta Muhammad Ragib Noer Khasyi yang memenangkan grand prize kategori pelajar dan mahasiswa lewat karya Yang Tersisa Sepulang Kerja (1).
Memasuki tahun kedua penyelenggaraannya, kompetisi ini diikuti hampir 2.500 peserta dari Indonesia, Malaysia, dan Tailan. Dari seluruh peserta, sebanyak 18 karya terpilih untuk mewakili ketiga negara dan berkompetisi di tingkat regional.
Tahun ini, MR.D.I.Y. mengangkat tema “Strength & Resilience”. Tema tersebut mengajak para peserta mengeksplorasi berbagai makna kekuatan dan ketangguhan melalui perspektif personal maupun lingkungan di sekitar mereka.
Senior Manager Marketing MR.D.I.Y. Indonesia, Andaru Satya Pradana, mengatakan tema tersebut menggambarkan pengalaman setiap orang dalam menghadapi tantangan dengan cara yang berbeda.
“Strength and Resilience sebenarnya menggambarkan apa yang kita hadapi sehari-hari. Setiap orang memiliki persepsi sendiri mengenai tantangan dan bagaimana cara menghadapinya,” ungkap Andaru, dikutip Kamis (8/10/2026).
Menurutnya, tema tersebut tidak berhenti sebagai slogan karena MR.D.I.Y. memberikan ruang bagi seniman untuk menerjemahkannya ke dalam karya sekaligus memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat.
“Melalui kompetisi ini, kami membuka kesempatan bagi para seniman untuk mengekspresikan bentuk kekuatan dalam menghadapi tantangan secara artistik. Karya para finalis dan pemenang kemudian dapat dilihat langsung oleh masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Direktur Utama MR.D.I.Y. Indonesia, Edwin Cheah, mengatakan kompetisi di tingkat regional memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melihat kreativitas dari perspektif yang lebih beragam.
“Melalui pertemuan seniman dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand, kami berharap ajang ini dapat mendorong ide-ide baru, saling menginspirasi dan mengapresiasi karya dari lintas negara, sekaligus membuka lebih banyak kesempatan bagi seniman dari kawasan Asia Tenggara untuk mendapatkan perhatian di tingkat regional,” ujar Edwin.
Veronica Liana meraih Grand Prize kategori umum melalui Rupa Tan Matra #3. Karya yang menggunakan kain dan dakron dengan teknik soft sculpting tersebut mengeksplorasi perubahan praktik berkarya setelah Veronica menjadi seorang ibu.
Melalui instalasi mesin jahit berbahan kanvas, karya tersebut merefleksikan transformasi identitas serta kerja-kerja perawatan yang kerap tersembunyi di balik rutinitas sehari-hari.
Veronica dikenal sebagai seniman yang mengeksplorasi isu perempuan dan kehidupan rumah tangga. Sejak 2025, ia berfokus pada praktik seni instalasi berbasis kain dan telah mengikuti berbagai pameran seni nasional maupun internasional.
Sementara itu, Muhammad Ragib Noer Khasyi atau yang dikenal sebagai Jabon meraih Grand Prize kategori Pelajar & Mahasiswa melalui karya Yang Tersisa Sepulang Kerja (1).
Karya tersebut merupakan seri cetak eksperimental yang menggunakan kertas dan sisa debu semen mentah yang terkumpul pada rompi kerja sebagai medium pewarnaan. Melalui teknik manual print on paper, Ragib mengangkat persoalan polusi udara serta hubungan antara tubuh manusia dan lingkungan industri.
Ragib yang lahir pada 2002 merupakan mahasiswa Seni Grafis di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Praktik seninya mencakup seni grafis, instalasi, gambar, serta eksperimen material dengan fokus pada relasi antara lingkungan industri, kerja, lanskap, dan kehidupan sehari-hari.
Selain dua grand prize yang diraih seniman Indonesia, kompetisi tersebut juga memberikan penghargaan kepada seniman dari Thailand dan Malaysia.
Pada kategori umum, Tawich Jittiang dari Thailand meraih Judge’s Award melalui karya Traces of the Future. Sementara Nasrin Nadhirah binti Suhaidi dari Malaysia memperoleh President’s Director Award melalui karya Spirit of Unity.
Untuk kategori pelajar & mahasiswa, Judge’s Award diraih Putthimetha Tangkanobol dari Thailand melalui karya Ordinary Train. Adapun President’s Director Award diberikan kepada Iklil Ali Bin Ahmad Shukri dari Malaysia melalui karya Cinta Ku, Umi.
Proses kurasi dan penilaian dilakukan oleh dewan juri dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Penilaian mencakup kreativitas, kualitas artistik, teknik, serta kekuatan narasi yang disampaikan melalui masing-masing karya.
Dewan juri terdiri dari R.E. Hartanto selaku Contemporary Artist, Abigail Hakim sebagai Art Collector, Asst. Prof. Vichaya Mukdamanee dari Silpakorn University, Praneenut Niyomsin sebagai Art Curator, Dr. Liong Mei Yin dari Universiti Tunku Abdul Rahman (UTAR), serta Ivan Gabriel sebagai Art Curator & Gallery Manager.
Kolektor seni sekaligus dewan juri MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026, Abigail Hakim, mengatakan karya para peserta memperlihatkan keberagaman pendekatan artistik dan perspektif dari tiga negara.
“Kami melihat kualitas dan keberagaman karya yang ditampilkan oleh peserta dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand pada tahap regional ini. Masing-masing peserta membawa karya terbaik mereka dan berhasil menerjemahkan tema Strength & Resilience melalui pengalaman dan perspektif yang berbeda,” kata Abigail.
Menurutnya, setiap karya menunjukkan pendekatan artistik dan cerita yang beragam, sekaligus memperlihatkan kekayaan perspektif seniman dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
Atas pencapaian dua seniman Indonesia tersebut, Edwin menyampaikan apresiasinya. Ia berharap prestasi tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan para seniman untuk terus berkarya dan berkembang.
“Kami turut bangga dengan pencapaian dari dua seniman Indonesia yang berhasil meraih Grand Prize pada kategori Umum dan Pelajar & Mahasiswa. Kami berharap pencapaian para pemenang dan penyelenggaraan kompetisi regional ini dapat menjadi bagian dari perjalanan mereka untuk terus berkarya dan berkembang,” ujar Edwin.
Sebagai bagian dari upaya memperluas kesempatan bagi talenta seni untuk memperkenalkan karya mereka kepada publik, MR.D.I.Y. juga turut serta dalam Art Jakarta 2026 dengan menampilkan 19 karya seni terpilih dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
Masyarakat juga dapat melihat lebih dekat karya dan perspektif para peserta melalui MR.D.I.Y. Art Exhibition yang berlangsung pada 7–21 Oktober 2026 di MR.D.I.Y. Store, Lotte Mall Jakarta. Pameran tersebut terbuka untuk masyarakat dan menjadi ruang bagi para seniman untuk memperkenalkan karya mereka kepada audiens yang lebih luas.
Pendiri IndoArtNow, Tom Tandio, mengatakan pihaknya turut mengapresiasi karya seniman dari ketiga negara yang berpartisipasi dalam kompetisi tersebut.
“Setiap seniman dari masing-masing negara merepresentasikan karya dengan cara yang unik dan makna yang berbeda. Kami berharap kompetisi ini dapat menjadi ruang untuk mengenal dan mengapresiasi perkembangan seni dari masing-masing negara dan membangun koneksi melalui seni,” ujar Tom.
MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026 menjadi salah satu ruang pertemuan bagi talenta seni Indonesia, Malaysia, dan Thailand untuk saling berbagi perspektif sekaligus memperluas eksposur karya seni di kawasan Asia Tenggara. (srv)

















