INDOPOSCO.ID – Kekuatan politik Presiden Prabowo Subianto, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai mulai menemukan titik temu. Analis politik Saiful Huda Ems (SHE) melihat rangkaian komunikasi ketiga tokoh tersebut sebagai sinyal terbentuknya konfigurasi politik baru yang berpotensi mengubah peta kekuatan nasional.
Menurut Saiful, salah satu sinyal kuat terlihat dari pertemuan Prabowo dengan Megawati. Prabowo sebelumnya menyambangi kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar, Jakarta, pada 28 September 2026 untuk menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Guruh Soekarnoputra. Pertemuan lanjutan keduanya juga dikabarkan tengah dijajaki.
“Bersatunya kekuatan Ibu Megawati Soekarnoputri dengan Pak Prabowo Subianto serta Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu sudah sangat nyata sekali,” kata Saiful melalui gawai, Senin (5/10/2026).
Dia menilai pertemuan Prabowo dan Megawati tidak semata-mata dapat dilihat sebagai agenda silaturahmi. Bagi Saiful, komunikasi kedua tokoh tersebut memiliki makna politik yang lebih luas.
Terlebih, kata dia, SBY dalam sebuah wawancara secara terbuka menyebut Megawati sebagai sosok yang baik dan tidak pernah mengganggu dirinya, keluarga maupun partainya.
“Ini merupakan kiriman pesan kuat Pak SBY kepada Ibu Megawati yang ingin dijadikan teman taktisnya,” ujar Saiful.
Dia bahkan menilai pernyataan SBY tersebut sekaligus merupakan kritik terhadap Joko Widodo (Jokowi). Kendati, tafsir SHE belum menunjukkan adanya kesepakatan politik formal antara ketiga tokoh tersebut.
Saiful kemudian mengaitkan kedekatan Prabowo dan Megawati dengan dinamika politik pemerintahan saat ini.
Menurut dia, komunikasi Prabowo-Megawati menunjukkan adanya perubahan konfigurasi kekuatan politik di tingkat elite nasional.
Dia menduga Presiden Prabowo kini ingin memastikan pemerintahannya memiliki ruang gerak politik yang lebih luas. “Presiden Prabowo sekarang ini lebih mempercayai Ibu Megawati daripada Jokowi,” katanya.
Saiful juga menyoroti posisi Jokowi setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden. Dia menilai keberadaan mantan presiden tersebut masih menjadi faktor yang diperhitungkan dalam dinamika politik nasional.
Dia bahkan menuding adanya dugaan campur tangan Jokowi dalam pemerintahan Prabowo. Saiful mengklaim perubahan posisi sejumlah figur yang sebelumnya diasosiasikan dengan pemerintahan Jokowi sebagai bagian dari proses penataan kekuasaan oleh Prabowo. Ia menyebut langkah tersebut sebagai “bersih-bersih”.
Lebih jauh, Saiful membaca pernyataan SBY tentang Megawati sebagai bagian dari komunikasi politik yang lebih luas.
Menurut dia, hubungan politik Megawati dan SBY yang selama bertahun-tahun diwarnai dinamika justru berpotensi memasuki fase baru apabila keduanya menemukan kepentingan bersama.
“Pak SBY mengatakan Ibu Megawati itu orang baik dan tidak pernah mau mengganggu dirinya, keluarganya dan partainya. Ini selain merupakan pesan kuat kepada Ibu Megawati, juga merupakan sindiran keras kepada Jokowi,” tutur Saiful.
Dia menarik kesimpulan bahwa jika komunikasi politik Prabowo, Megawati dan SBY terus berlanjut, maka akan terbentuk konfigurasi kekuatan yang jauh lebih besar.
“Ibu Megawati Soekarnoputri yang merupakan Ketua Umum PDIP sudah menyatu dengan kekuatan Pak Prabowo Subianto, Presiden RI ke-8, dan Pak SBY,” katanya. (nas)
















