INDOPOSCO.ID – Lapangan Gas Jambaran Tiung Biru (JTB) di Bojonegoro, Jawa Timur, mulai menatap babak baru pengelolaan operasi. Tak hanya mengandalkan kecanggihan fasilitas pengolahan gas, lapangan yang dioperatori PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12 ini juga membuka ruang lebih luas bagi pemanfaatan teknologi digital.
Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), data analytics hingga teknologi digital lainnya dinilai memiliki peluang besar untuk membuat operasi JTB semakin terintegrasi, berbasis data dan mampu mengantisipasi berbagai kebutuhan sebelum menjadi persoalan.
Gambaran tersebut mengemuka dalam kegiatan Management Walk Through (MWT) Tim Pertamina Digital Hub di Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru, Desa Bandungrejo, Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, pada 25 September 2026.
Kunjungan ini tidak sekadar melihat aktivitas operasional dari dekat. Tim Pertamina Digital Hub juga berdialog langsung dengan pekerja untuk menggali kebutuhan, pengalaman serta berbagai tantangan yang muncul dalam aktivitas sehari-hari.
General Manager PEPC Zona 12, Rahmat Ali Hakim mengatakan, status JTB sebagai plant yang relatif baru justru menjadi modal penting untuk membangun pola operasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
“Jambaran-Tiung Biru ini merupakan plant yang relatif baru dengan proses yang cukup kompleks, karena kita memproses raw gas menjadi sales gas. Di dalam prosesnya juga terdapat side product dan material hasil pengolahan yang membutuhkan pengendalian secara baik,” ujar Hakim.
Kompleksitas tersebut membuat digitalisasi tidak cukup dimaknai sebatas menghubungkan perangkat. Menurut Hakim, teknologi harus mampu mengolah data operasi menjadi informasi yang berguna untuk meningkatkan efisiensi sekaligus membantu pekerja mengambil keputusan secara lebih cepat dan tepat.
AI, misalnya, dapat dikembangkan untuk membaca pola operasi, mengoptimalkan proses hingga mendukung predictive maintenance. Namun, seluruh inovasi tersebut tetap harus berjalan dalam koridor keselamatan.
“Ketika kita berbicara tentang digitalisasi, IoT maupun AI, semuanya harus memperkuat safety, bukan sebaliknya,” jelas Hakim.
Modal lainnya datang dari sisi sumber daya manusia. Komposisi pekerja JTB yang relatif muda, dengan mayoritas berasal dari kelompok usia Gen Z, menjadi potensi tersendiri karena kedekatan mereka dengan teknologi dan keterbukaan terhadap inovasi.
SVP Pertamina Digital Hub, Ignatius Sigit Pratopo menegaskan, transformasi digital harus dimulai dari persoalan nyata yang dihadapi pekerja dan kebutuhan operasional di lapangan.
“Kami perlu melihat langsung kebutuhan di lapangan, mendengarkan pengalaman para pekerja, serta mengidentifikasi ruang penguatan yang dapat dilakukan melalui pemanfaatan teknologi digital,” tutur Ignatius.
Menurutnya, perpaduan IoT, AI dan data analytics dapat membuka peluang bagi terciptanya operasi yang semakin terkoneksi sekaligus mampu memanfaatkan data secara optimal.
Penguatan digital tersebut berjalan beriringan dengan budaya Health, Safety, Security and Environment (HSSE). Dalam MWT, Tim Pertamina Digital Hub dan manajemen JTB berdialog dengan pekerja lapangan untuk memperoleh gambaran langsung mengenai kondisi operasi serta persoalan yang dihadapi.
Dari proses tersebut, JTB diarahkan untuk terus membangun fondasi organisasi pembelajar menuju operasi yang data-driven, predictive, connected dan intelligent. Teknologi tidak berhenti sebagai perangkat atau aplikasi baru, tetapi menjadi bagian dari perubahan cara kerja.
Bagi JTB, perpaduan teknologi, kapabilitas SDM dan budaya keselamatan menjadi fondasi untuk membangun organisasi yang terus belajar dan beradaptasi. Pada akhirnya, transformasi digital bukan hanya tentang membuat operasi lebih modern, tetapi memastikan setiap keputusan semakin didukung data, setiap proses semakin prediktif, dan keselamatan tetap menjadi fondasi dalam menjaga ketahanan energi nasional. (her)















