INDOPOSCO.ID – Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta akan mempertimbangkan usulan mengenai penempatan tenaga profesional yang memberikan layanan bimbingan di setiap sekolah menyusul dua kasus pelajar meninggal dunia diduga bunuh diri.
“Untuk tenaga psikolog kalau disediakan di setiap sekolah, mungkin ini menjadi masukan baik, Nanti kita coba sampaikan kepada pimpinan,” kata Humas Disdik DKI Jakarta kepada INDOPOSCO melalui gawai, Jakarta, Sabtu (3/10/2026).
Pihak Disdik menyatakan bahwa penempatan tenaga profesional tersebut akan difokuskan bagi siswa maupun warga sekolah yang dinilai membutuhkan pendampingan khusus.
“Jadi kalau misalnya yang tadi saya sampaikan (usulan penempatan psikolog), kalau misal memang ada siswa atau ada warga sekolah yang memang sekiranya dinilai membutuhkan,” ujarnya.
Usulan tersebut mencuat setelah sistem deteksi dini sekolah dan guru BK dinilai belum optimal mencegah terjadinya dua kasus kematian pelajar di Jakarta.
“Sebetulnya tidak hanya guru BK, tapi guru-guru di sekolah itu, pasti masyarakat juga mengharapkan guru-guru ini menjadi pendengar yang baik, memiliki perhatian lebih ke siswa-siswanya, seperti itu kan,” jelas Humas Disdik DKI Jakarta.
Kasus kematian pelajar yang diduga akibat mengakhiri hidup kembali terjadi di Jakarta Timur. Siswa SMPN 92 Jakarta berinisial FS ditemukan meninggal dunia di pinggir Kali Jalan Poncol Atas, RT 07/15 Kelurahan Jati, Pulogadung, Jakarta Timur, Selasa (29/9/2026).
Kasus serupa pernah terjadi di wilayah Kembangan, Jakarta Barat, saat seorang pelajar SMP berinisial AFP (16) ditemukan meninggal dunia di rumahnya pada Jumat (28/8/2026) dini hari WIB.
Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menghadirkan psikolog di setiap sekolah, menyusul dua kasus kematian pelajar diduga bunuh diri di Jakarta.
Menurut Koordinator Nasional P2G Satriwan Salim, usulan tersebut muncul karena sekolah belum menyediakan ruang aman bagi peserta didik untuk menceritakan keluh kesah, sehingga mereka merasa tidak memiliki pendengar yang baik.
“Kami berharap ke depannya sekolah-sekolah itu khususnya di DKI Jakarta ya, itu bisa menghadirkan ya, psikolog gitu,” kata Satriwan Salim kepada INDOPOSCO melalui gawai, Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Para siswa maupun siswi dapat memanfaatkan keberadaan psikolog untuk berkonsultasi mengenai berbagai masalah pribadi, dari dinamika relasi pertemanan, konflik internal dalam kelompok sebaya, hingga permasalahan keluarga yang memengaruhi kehidupan mereka di sekolah.(dan)
















