INDOPOSCO.ID – Limbah sabut kelapa yang menumpuk di kawasan pesisir Padang, Sumatera Barat, disulap Iga Analusya menjadi kerajinan bernilai ekonomi. Dari tangan perempuan berusia 32 tahun itu, sabut kelapa diolah menjadi tas, dompet, pot hingga dekorasi bernuansa natural.
Usaha yang diberi nama Farilla Craft tersebut tidak hanya menjadi sumber penghasilan bagi Iga. Bisnis itu juga membuka kesempatan bagi warga sekitar untuk ikut berkarya dan memperoleh penghasilan.
Ide mengolah sabut kelapa muncul setelah Iga mengikuti pelatihan pengolahan limbah pada 2021. Saat itu, sejumlah narasumber memberikan keterampilan kepada warga pesisir untuk mengembangkan potensi lingkungan menjadi produk bernilai jual.
“Kita lihat limbah sabut kelapa itu tidak dimanfaatkan, padahal potensinya besar,” ujar Iga dalam keterangan, Minggu (27/9/2026).
Usaha tersebut sebenarnya telah dirintis sebelum Iga menikah. Namun, perkembangan signifikan terjadi setelah dia bergabung sebagai nasabah PNM Mekaar pada akhir 2023.
Modal awal Rp3 juta dimanfaatkan untuk membeli bahan baku. Dengan begitu, proses produksi tidak lagi bergantung pada pesanan yang masuk terlebih dahulu. Seiring perkembangan usaha, plafon pinjaman Iga kini meningkat menjadi Rp8,5 juta.
Produksi kerajinan terus berkembang. Dalam satu kali produksi, Farilla Craft mampu menghasilkan hingga 100 pensil. Untuk pesanan dalam jumlah besar, seperti dari instansi pemerintah, proses pengerjaan membutuhkan waktu sekitar tiga pekan.
Tidak hanya mengembangkan usahanya sendiri, Iga turut melibatkan masyarakat sekitar. Sebanyak 15 hingga 20 pengrajin, yang mayoritas merupakan ibu rumah tangga di kawasan pesisir, ikut membantu proses produksi.
Menurut Iga, dukungan yang diterimanya tidak berhenti pada akses permodalan. Pelatihan dan pendampingan juga memberikan pengetahuan baru dalam mengelola usaha, termasuk pemanfaatan teknologi dan strategi pemasaran melalui media sosial.
Keikutsertaannya dalam Mekaarpreneur 2026 hingga masuk 120 besar menjadi salah satu pengalaman yang memperluas wawasan Iga dalam mengembangkan bisnis.
“Kalau jadi orang biasa mungkin PNM itu ya cuma untuk pinjaman saja. Tapi setelah kita ada di dalamnya, kita jadi lihat ada hal lain yang jauh lebih bermanfaat,” katanya.
Pengetahuan tersebut kemudian diterapkan Iga untuk menyesuaikan produk dengan selera pasar, khususnya generasi muda. Meski dikemas lebih modern dan eksklusif, sentuhan tradisional tetap dipertahankan sebagai ciri khas produknya.
Direktur Utama PNM Kindaris mengatakan, kisah Iga menunjukkan pentingnya kejelian dalam melihat peluang usaha, termasuk dari sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai.
“Ibu Iga adalah contoh nyata bahwa modal hanyalah awal, tapi ketekunan dan kerja keras yang diiringi dengan pendampingan mampu membawa manfaat yang lebih luas dan menggerakkan orang-orang di sekitarnya yang membutuhkan,” ujar Kindaris. (nas)
















