INDOPOSCO.ID – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menyerah pada tekanan Amerika Serikat (AS) dan membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang secara terbuka menyebut Iran sebagai “negara teroris”. Hal itu disampaikannya di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, Rabu (23/9/2026).
Saat presiden Iran memulai pidatonya, seorang pejabat dari delegasi AS berjalan keluar dari aula yang luas. Delegasi Israel juga memboikot pidato tersebut.
“Presiden AS menyebut kami teroris tetapi kami adalah korban teroris,” kata Pezeshkian dilansir dari Al Jazeera, Kamis (24/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, ia mengangkat foto mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang meninggal dunia akibat serangan gabungan AS-Israel pada awal perang pada Februari 2026, serta foto-foto siswi yang tewas dalam dugaan serangan udara AS terhadap sekolah mereka.
“Mereka memukul kami, tetapi kami tidak menundukkan kepala atau menekuk lutut,” ujar Pezeshkian.
Ia memperingatkan Trump bahwa eskalasi sanksi dan tekanan dari Amerika Serikat tidak akan melunakkan Iran, melainkan makin memperkokoh perlawanan rakyatnya.
“(Trump) harus tahu bahwa perlawanan rakyat Iran hanya akan tumbuh dalam menghadapi sanksi dan tekanan serta intimidasi yang meningkat,” ucap Pezeshkian.
Meski bersikap tegas, Pezeshkian yang dikenal relatif moderat dalam sistem pemerintahan Iran tetap memberi ruang bagi peluang diplomasi.
“Iran mengulurkan tangannya ke dunia. Kami mengundang dunia dan memanggilnya, bukan karena kelemahan, tetapi karena keyakinan mendalam pada kekuatan dan ketabahan kami sendiri untuk bekerja sama dan berkolaborasi karena pemahaman mendalam bahwa tidak seorang pun di kawasan ini yang akan memiliki keamanan sendirian,” imbuhnya. (dan)















