INDOPOSCO.ID – PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) mendorong pengelolaan sampah menjadi sumber daya dan energi bernilai tambah melalui pengembangan proyek percontohan Decentralized Waste Management (DWM) di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat.
Inisiatif tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) terkait pengembangan proyek DWM Kota Bandung di Kantor Danantara, Jakarta, Senin (14/9/2026). Kerja sama ini menjadi langkah awal Pertamina NRE dalam membangun sistem pengelolaan sampah terintegrasi berbasis konsep waste-to-value dan ekonomi sirkular.
Penandatanganan MoU dihadiri sejumlah pejabat Danantara, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Pertamina NRE, PT PLN Energi Primer Indonesia, serta Pemerintah Kota Bandung.
Melalui konsep DWM, sampah perkotaan tidak hanya dipandang sebagai limbah yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang dapat dipulihkan dan dimanfaatkan kembali. Dalam konsep awal, fasilitas ini dirancang untuk mengolah sekitar 300 ton municipal solid waste (MSW) per hari.
Direktur Proyek & Operasi Pertamina NRE Norman Ginting mengatakan, pengembangan DWM membawa paradigma baru dalam pengelolaan sampah dengan mengedepankan pemulihan material dan pemanfaatan fraksi sampah yang memiliki nilai energi.
“Sampah tidak seharusnya hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai. Melalui proyek ini, kita ingin mendorong transformasi dari waste menjadi resource, dan selanjutnya dari waste menjadi value,” ujar Norman, Senin (14/9/2026).
Ia menjelaskan, fasilitas DWM akan mengintegrasikan proses mechanical sorting dan material recovery untuk memisahkan material yang masih memiliki nilai daur ulang, fraksi organik, serta fraksi combustible yang dapat diproses lebih lanjut.
Rangkaian teknologi yang dikaji mencakup bag opening, screening, magnetic separation, ballistic separation, dan eddy current separation. Proses tersebut ditujukan untuk menghasilkan material dengan karakteristik yang lebih teridentifikasi dan dapat dimanfaatkan sesuai peruntukannya.
“Material yang masih bernilai dapat dipulihkan, sementara fraksi yang memiliki nilai energi dapat dikembangkan menjadi bahan bakar alternatif dengan kualitas yang lebih terkontrol,” kata Norman.
Dari sisi pemanfaatan energi, fraksi combustible yang telah dipisahkan dapat melalui proses pencacahan, pengeringan, pencampuran, dan pengendalian kualitas untuk menghasilkan Solid Recovered Fuel (SRF).
SRF berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif untuk menggantikan sebagian penggunaan bahan bakar fosil, baik melalui skema co-firing pada pembangkit listrik maupun untuk kebutuhan energi sektor industri.
Dalam konsep yang sedang dikaji, fraksi combustible dari MSW juga dapat dikombinasikan dengan sekam untuk menghasilkan blended SRF. Produk tersebut selanjutnya akan diverifikasi berdasarkan karakteristik bahan baku, kualitas produk, keberlanjutan rantai pasok, serta kebutuhan calon pengguna akhir atau offtaker.
“Nilai teknologi proyek ini bukan hanya terletak pada mesin pengolah sampah. Yang lebih penting adalah bagaimana kita membangun sistem yang mampu mengubah sampah yang sangat heterogen menjadi material dan bahan bakar yang lebih konsisten, terukur, dan memiliki nilai ekonomi,” lanjut Norman.
Menurutnya, keberhasilan proyek DWM membutuhkan integrasi di sepanjang rantai nilai. Aspek yang perlu dipastikan meliputi pasokan dan karakteristik sampah, kesiapan lahan dan infrastruktur, ketersediaan bahan pendukung, kualitas produk, hingga kepastian offtaker.
Dalam struktur awal proyek, Pertamina NRE direncanakan berperan sebagai pengembang sekaligus operator dengan dukungan pemerintah daerah serta mitra engineering, procurement and construction (EPC), penyedia teknologi, pemasok, dan offtaker.
Setelah penandatanganan MoU, para pihak akan melanjutkan kajian melalui feasibility study. Kajian tersebut mencakup karakteristik dan rantai pasok sampah, spesifikasi produk akhir, rantai pasok sekam, pemilihan penyedia teknologi, konfigurasi teknologi, utilitas, pekerjaan sipil, serta kebutuhan perizinan.
Pertamina NRE berharap proyek percontohan DWM di Bandung dapat menjadi model pengelolaan sampah yang terbukti secara teknis, layak secara komersial, berkelanjutan dari sisi lingkungan, dan dapat direplikasi di berbagai kota di Indonesia.
“Ambisi kita tidak berhenti pada pembangunan satu fasilitas. Yang ingin kita bangun adalah sebuah model. Jika Bandung dapat menunjukkan bahwa pengelolaan sampah terintegrasi dapat berjalan secara teknis, ekonomis, dan berkelanjutan, maka model ini berpotensi direplikasi di berbagai wilayah Indonesia,” tutup Norman.
Melalui proyek tersebut, Pertamina NRE mendorong transformasi pengelolaan sampah menjadi bagian dari solusi energi sekaligus penguatan ekonomi sirkular di Indonesia.(rmn)















