INDOPOSCO.ID – Pergantian Menteri Keuangan (Menkeu) dari Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara membuat pasar keuangan Indonesia memasuki fase pengamatan baru. Investor kini menunggu bukti nyata bahwa pengelolaan APBN tetap kredibel dan konsisten di bawah kepemimpinan baru.
Ekonom Bank Permata, Josua Pardmeta menyebut ada sejumlah indikator utama yang akan dicermati pasar dalam beberapa pekan ke depan. Indikator tersebut meliputi pergerakan rupiah, imbal hasil (yield) SBN tenor 5–10 tahun, arus modal asing, hingga hasil lelang SBN.
”Untuk lelang SBN, bukan hanya jumlah penawaran yang penting, tetapi juga seberapa besar permintaan dibanding jumlah yang dimenangkan serta tingkat yield yang dibayar pemerintah,” ujar Josua kepada INDOPOSCO melalui gawai, Rabu (16/9/2026).
Josua menilai, pasar berpotensi memberi premi kredibilitas jika rupiah stabil, yield SBN melandai, dan kepemilikan asing bertambah. Sebaliknya, tekanan serius patut diwaspadai jika pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan aksi jual investor asing.
Kombinasi indikator negatif tersebut dinilai menjadi cerminan meningkatnya persepsi risiko terhadap ekonomi Indonesia. Kendati demikian, pasar juga diingatkan untuk memilah pengaruh sentimen domestik dengan tekanan dari dinamika suku bunga global maupun geopolitik.
Ujian terbesar Suahasil justru berada di luar pasar keuangan, yakni pada disiplin pelaksanaan APBN.
Pasar akan menyoroti kemampuan pemerintah mengendalikan belanja prioritas dan menjaga target defisit fiskal di bawah 3 persen.
Pengelolaan fiskal dituntut cermat mengingat tingginya suku bunga global berisiko menaikkan imbal hasil SBN dan menekan nilai tukar. Pemerintah diminta berhati-hati dalam memanfaatkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) dan mengatur strategi pembiayaan utang.
Di sisi lain, Suahasil dihadapkan pada tantangan memperkuat penerimaan negara tanpa menciptakan iklim usaha yang mencekik. Konsistensi antara narasi kebijakan dan eksekusi di lapangan menjadi kunci utama dalam menjaga kepercayaan investor.
”Kredibilitas Menkeu baru ditentukan oleh konsistensi kebijakan: menjaga defisit, mengefisiensikan belanja, serta mengomunikasikan setiap arah kebijakan secara transparan. Kepercayaan pasar dibangun oleh kualitas pelaksanaan, bukan sekadar figur,” pungkas Josua. (her)















