INDOPOSCO.ID – Anggota Komisi I DPR RI Mulyadi meminta rencana pengoperasian kapal induk Giuseppe Garibaldi dibarengi dengan perhitungan biaya operasional yang matang. Ia juga mendorong agar keberadaan kapal perang tersebut dimanfaatkan untuk memperkuat penguasaan teknologi dan industri pertahanan nasional.
Menurut Mulyadi, kehadiran Giuseppe Garibaldi memiliki relevansi dengan karakter Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah laut luas. Namun, manfaat strategis tersebut harus diiringi dengan kesiapan anggaran agar kapal dapat dioperasikan secara optimal dan berkelanjutan.
“Yang penting waktu itu saya ingatkan, jangan sampai beban operasional ini terlalu besar. Kita belum tahu persis, karena kapal ini direnovasi, di-upgrade, disenjatai, dan direhab, sehingga kapalnya optimal dan berangkat dari Italia ke Indonesia,” kata Mulyadi di Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) II, Padang, Sumatera Barat, dikutip dari laman DPR RI, Jumat (4/9/2026).
Legislator Fraksi Partai Demokrat itu mengingatkan bahwa status hibah tidak berarti Indonesia terbebas dari biaya. Pemerintah tetap harus menyiapkan anggaran untuk melakukan retrofit, perawatan, serta berbagai penyesuaian agar kapal tersebut sesuai dengan kebutuhan operasional TNI Angkatan Laut.
Sebelumnya, hal tersebut juga menjadi perhatian dalam pembahasan Komisi I DPR RI bersama pemerintah. Pada 20 Juli 2026, Komisi I menyetujui penerimaan hibah Giuseppe Garibaldi dari Pemerintah Italia senilai 54,02 juta euro.
Dalam persetujuan tersebut, Komisi I turut memberikan sejumlah catatan terkait kesiapan operasional kapal, keberlanjutan anggaran, serta pentingnya transfer teknologi bagi TNI dan industri pertahanan nasional.
“Walaupun dalam pelaksanaannya hibah itu bukan tidak ada biaya. Justru kita cukup besar biayanya supaya dia layak lagi untuk dioperasikan,” ujar Mulyadi.
Karena itu, Mulyadi menilai pemanfaatan Giuseppe Garibaldi tidak boleh hanya dilihat dari sisi penambahan kekuatan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Pengoperasian kapal induk tersebut harus menjadi kesempatan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat penguasaan teknologi pertahanan di dalam negeri.
Ia secara khusus mendorong keterlibatan PT PAL Indonesia dalam proses tersebut. Menurutnya, pengalaman dalam mempelajari dan mengoperasikan Giuseppe Garibaldi dapat menjadi modal bagi industri pertahanan nasional untuk mengembangkan kemampuan membangun kapal perang berteknologi tinggi di masa mendatang.
“Kalau memang ini menjadi bagian dari kita untuk mempelajari teknologi kapal induk, menuju PT PAL agar ke depan kita bisa memiliki atau membangun kapal induk sendiri dengan mempelajari teknologi yang disisipkan oleh kapal induk ini,” katanya.
Mulyadi menekankan transfer pengetahuan dan teknologi sebagai salah satu aspek penting dari pemanfaatan kapal induk tersebut. Dengan demikian, hibah Giuseppe Garibaldi diharapkan tidak hanya memberikan tambahan kekuatan bagi pertahanan maritim Indonesia, tetapi juga menghasilkan peningkatan kemampuan industri pertahanan dalam negeri.
“Jadi transfer of knowledge, transfer pengetahuan, transfer teknologi, itu sesuatu yang sangat diperlukan,” tegasnya.(dil)















