INDOPOSCO.ID – Pemerintah Kabupaten Magelang melalui Dinas Perhubungan menjalankan program Angkutan Pelajar Aman (APA), layanan angkutan gratis bagi siswa SMP yang memanfaatkan armada Angkutan Pedesaan (Angdes) pada jam berangkat dan pulang sekolah. Di luar jam antar-jemput, angkutan tersebut tetap beroperasi melayani penumpang umum sesuai trayeknya.
Program ini lahir dari kekhawatiran atas tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pelajar. Data Satlantas Polres Kabupaten Magelang tahun 2025 mencatat kelompok usia pelajar (10-19 tahun) menempati peringkat kedua korban kecelakaan di daerah tersebut, dengan proporsi 19 persen atau 240 orang dari total 1.256 kejadian.
Sejak diluncurkan pertengahan 2025 dengan dukungan CSR Bank Jateng senilai Rp98 juta untuk 3 rute dan 15 armada, program ini terus berkembang. Pada 2026, cakupan operasional meluas menjadi 12 rute dengan 78 armada, didukung anggaran APBD sekitar Rp2,4 miliar. Empat dari enam koperasi angkutan pedesaan di Magelang kini menjadi operator program ini, dengan total 587 armada yang tersedia di seluruh koperasi.
Setiap pengemudi menerima insentif Rp135 ribu per hari selama lima hari kerja dalam sebulan. Hasil evaluasi Laboratorium Transportasi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata pada 2026 menemukan mekanisme pencairan insentif berjalan tepat waktu 100 persen, dan mayoritas pengemudi (83,33 persen) menilai insentif tersebut cukup menutup biaya operasional harian.
Namun evaluasi yang sama juga menemukan persoalan serius pada aspek keselamatan, yang justru bertentangan dengan nama program itu sendiri. Dalam satu kali perjalanan, setiap angkutan rata-rata mengangkut 17 anak, padahal kapasitas resminya hanya 12 penumpang. Kondisi kelebihan muatan ini terjadi pada 83,3 persen operasional armada.
Dari sisi pengguna, sebanyak 87,10 persen siswa mengaku tidak pernah terlambat sekolah sejak program berjalan. Meski begitu, sekitar 37 persen siswa mengaku kurang nyaman akibat kondisi kendaraan yang berdesakan serta sikap sebagian pengemudi yang dinilai kurang ramah.
Program ini juga memberi dampak signifikan bagi orang tua siswa yang mayoritas berpenghasilan menengah ke bawah, dengan kisaran Rp500 ribu hingga Rp1 juta per bulan. Sebanyak 40 persen orang tua mengalami penghematan pengeluaran transportasi hingga 41-50 persen, dan seluruh orang tua yang disurvei sepakat program ini memangkas beban waktu antar-jemput sekaligus memberi rasa aman.
Akademisi Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai program ini bukan sekadar bantuan sosial, melainkan solusi ekonomi bagi keberlangsungan angkutan pedesaan di Magelang.
“Program Angkutan Pelajar Aman telah membuktikan bahwa kebijakan transportasi gratis mampu memberikan ketenangan bagi orang tua, efisiensi bagi pelajar, dan kepastian pendapatan bagi para sopir angkutan,” kata Djoko.
Pemerintah Kabupaten Magelang menargetkan perluasan bertahap hingga 2030, dengan proyeksi 29 rute dan 178 armada serta anggaran mencapai Rp8 miliar. Namun dengan temuan overcapacity yang mencapai 83,3 persen armada saat ini, penambahan jumlah kendaraan dinilai menjadi kebutuhan mendesak yang tidak bisa menunggu target jangka Panjang. (ney)





















