INDOPOSCO.ID – Kemajuan apa saja yang terjadi selama 20 tahun terakhir di bidang transplantasi hati?
Yang terbaru: penggunaan robot di saat pengambilan hati milik pendonor yang akan diberikan kepada pasien. Sembilan bulan lalu Nisa menjadi orang pertama di RS Persahabatan Beijing. Separo hati Nisa dipotong untuk dipasang di badan suaminyi sendiri. Kemarin saya bertemu Nisa dan suami. Dua-duanya sangat sehat. Belum begitu lama pulang dari haji.
Tiga bulan lalu, di RS Fatmawati Jakarta, dilakukan transplantasi hati dengan teknik yang juga baru –meski tidak sebaru robot. Yakni pengambilan hatinya dilakukan dengan tehnik laparoskopi. Baru sekali itu dilakukan di Indonesia. Perut pendonor tidak perlu disayat panjang. Cukup 15 cm.
Kok masih 15 cm? Tidak cukup dikeluarkan lewat lubang selang untuk memasukkan kamera dan pisau?
Laparoskopinya sendiri memang tidak perlu sayatan panjang. Begitu kamera dan pisau dimasukkan lewat ujung ”selang” dokter melakukan pemotongan hati pakai tuas di komputer seperti dalam permainan game. Masalahnya, separo hati yang sudah terpotong itu harus dikeluarkan: untuk dipasang di tubuh pasien. Mengeluarkan separo hati tidak bisa lewat lubang seukuran selang. Harus tetap dilakukan sayatan. Hanya saja tidak perlu lagi sayatan yang sampai 25 cm. Untuk mengeluarkannya tidak perlu pakai tangan dokter.
Yang terjadi di RS Fatmawati –RS milik pemerintah pusat di Jakarta Selatan seperti halnya RS dr Cipto Mangunkusumo di Jakarta Pusat– adalah penerapan apa yang sudah biasa dilakukan di Korea Selatan. Yakni oleh Prof Lee dari Seoul National University Hospital (SNUH). Prof Lee sendiri datang ke RS Fatmawati mendampingi pelaksanaan transplantasi: separo hati seorang anak (26 tahun) diberikan kepada ayah (52 tahun).
Rasanya baru dua kemajuan itu yang terjadi selama 20 tahun terakhir. Tentu termasuk teknik cara mengeluarkan sepotong hati itu. Tidak lagi pakai tangan. Setelah hati terpotong, potongan itu dibungkus dengan plastik steril. Tentu jenis plastik khusus. Bukan tas kresek. Yang melakukan pembungkusan pun alat. Setelah hati terbungkus barulah bungkus itu ditarik keluar lewat sayatan sekitar 15 cm.
Anda sudah tahu: organ hati sangat lunak. Lewat sayatan 15 cm pun cukup. Yang penting saat ditarik tetap utuh. Tidak remuk. Yang mudah remuk itu kalau hati sudah dibakar jadi sate.
Sesulit apa pun penarikan dari perut pendonor, lebih sulit saat melakukan pemotongannya. Dokter lebih hebat dari insinyur elektro yang bertugas melepaskan kabel-kabel super komputer. Kabelnya masih bisa dilihat oleh mata. Yang dilepas dalam pemotongan hati adalah syaraf-syaraf halus, tidak terlihat oleh mata, jumlahnya luar biasa banyak –saya tidak punya kemampuan menghitungnya. Juga harus memotong saluran-saluran darah yang tidak kalah lembutnya dan banyaknya.
Tentu lebih sulit lagi memasangnya di tubuh pasien: menyambungkan seluruh syaraf dan pembuluh darah saat hati dari pendonor dipasang di pasien. Sangat rumit. Jauh lebih mudah keluarkan saja fatwa: itu haram!
“Nisa, coba Anda ukur, bekas sayatan di perut Anda berapa sentimeter?” tanya saya ke Nisa lewat WA. Saya terpaksa merepotkan Nisa karena tidak mungkin mengukurnyi sendiri: Mas Olik, suaminyi bisa melotot.
“10 cm Pak,” jawabnyi.
Nisa adalah S-1 keperawatan alumnus Universitas Airlangga. Pasangan dari Mojosari (猫草沙利) Mojokerto ini masih berumur 40 tahun lebih. Nisa kian langsing dan cantik. Itu karena, setelah sehat lagi, suaminyi tambah segar, terlihat lebih muda dan lebih ganteng.
Berarti sayatan dalam teknologi robot lebih minimalis dari yang terjadi di RS Fatmawati. Itu tidak terlalu penting. Yang penting sudah kian bertambah rumah sakit di dalam negeri yang mampu melaksanakan transplantasi.
RS Cipto Mangunkusumo sudah beberapa kali melakukannya. Tim dokter transplannya sudah bisa dibilang matang. RS Siloam Jakarta juga sudah beberapa kali melakukan. Kini RS Fatmawati mulai mencobanya dengan pendampingan dari Korea.
Kalau ditanya orang yang ingin transplan hati –tidak sedikit yang menanyakan itu– biasanya saya sarankan ke RSCM atau RS Siloam Jakarta. Saya berikan juga nama dan nomor HP orang yang sudah sukses menjalaninya. Misalnya seorang perwira menengah polisi yang melakukan transplantasi hati di RS Siloam. Saat itu pangkatnya masih kapten. Sekarang sudah kolonel polisi (Kombespol). Beliau selalu bersedia ketika saya tanya apakah nomor HP-nya boleh saya berikan ke orang yang ingin transplan. Hanya saja saya kehilangan nomor orang yang sudah sukses di RSCM. Yang nomor teleponnya masih ada di HP saya orangnya sudah tidak ada. Saya perlu mencari siapa yang lain yang juga masih sukses sampai sekarang.
Yang sudah meninggal itu sama sekali bukan karena transplantasinya gagal. Saya lihat itu sepenuhnya faktor si pasien. Ups….Bisa juga bukan salah pasien. Mungkin keadaan yang salah. Ia tidak disiplin minum obat pasca-transplant. Misalnya saat saya bertemu dengannya: ia bilang sudah tiga bulan tidak minum obatnya.
Mungkin karena tidak mampu membelinya. Mungkin juga karena merasa kesehatannya baik-baik saja. Saya cenderung menilai dua-duanya.
Saya sendiri begitu takut untuk tidak minum obat itu. Tidak pernah lupa sehari pun. Termasuk ketika masih harus meminumnya dua kali sehari. Memang tidak murah. Total sekitar 7 juta sebulan.
Ada obat anti rejeksi –agar hati yang milik orang lain tidak ditolak oleh tuhuh si penerima. Anda sudah tahu sistem tubuh: benda asing apa pun harus ditolak. Termasuk hati anak maupun istri sendiri: sama-sama hati tapi tetap diperlakukan sebagai benda asing.
Lalu, kalau kerusakan hati itu akibat hepatitis B, harus minum obat anti hepatitis. Juga seumur hidup. Memang hepatitis B itu menyerang liver. Ketika livernya sudah ”dibuang”, diganti liver ”baru” bukankah harusnya hepatitisnya sudah ikut terbuang? Kenapa masih diharuskan minum obat?
Saya pernah mendiskusikannya dengan dokter transplat saya: ternyata sebenarnya virus hepatitis B itu tidak pernah benar-benar hilang dari sel di tubuh yang pernah menderitanya. Masih tetap ada ”bibit”-nya. Ngendon di sel tubuh.
Ketika saya minum obat itu ”bibit” tersebut ‘tidur’. Tidak bisa berkembang. Tapi begitu imunitas tubuh turun ”bibit” itu bisa hidup lagi. Berkembang. Lalu masuk ke hati: ”baru”.
Saya pun wanti-wanti ke Mas Olik: jangan sampai abai minum obat. “Kalau sampai virus hepatitis B itu masuk lagi ke hati ”baru”, berarti Anda menghina istri Anda. Hati Anda itu hatinya Nisa,” kata saya. Suami istri itu pun sangat paham.
Di bidang dua jenis obat itu, selama dua puluh tahun terakhir, masih sama. Saya sesekali bertanya: apakah ada obat yang lebih baru? Lebih hebat?
Saya menanyakannya karena siapa tahu sudah ada yang lebih aman untuk ginjal dan tidak mengurangi kepadatan tulang. Obat yang saya minum mengandung dua efek samping itu.
“Belum ada yang lebih baru” ujar dokter. Dua puluh tahun! Belum ditemukan yang baru.
Bisa saja itu bukan berarti lambat. Bisa jadi penemuan obat itu, dulu, sudah begitu bagusnya.
Setidaknya dengan berpikir begitu membuat jiwa lebih tenang. Bukan? (DAHLAN ISKAN)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 6 Agustus 2026: 20 Tahun
Udin Salemo
ya tuhan, hanya karena maling ayam dihajar sampai ajal menjemput. mrebes mili lihat anak perempuannya yang kecil memanggil bapak, bapak, … kalau kejadian itu (digebuki sampai modar) menimpa koruptor yang nilep duit ember-emberan dan punya emas puluhan kilogram inyong tak akan ikut berempati. lha, ini mungkin maling hanya untuk bertahan hidup kok tega dihabisin. hiks…
Hasyim Muhammad Abdul Haq
“Why do you want to live longer?” tanya Pak Robert ke Abah 19 tahun lalu. Dikutip Pak Robert, Abah menjawab, “I want to do something more, for society, for my family, for the country.” Masalahnya, saat ini saya sering sekali Abah “lepas tangan” untuk banyak hal. Termasuk secara serius menangani Disway yang seharusnya bisa jauh lebih besar. Disway harus lebih besar dari nama Dahlan Iskan itu sendiri. Itu yang saya harapkan. Tapi saya tak menemukan semangat Abah yang dulu saat pegang koran. Dan memang kalau ditanya tentang itu, Abah selalu ngeles, “Biar yang muda-muda yang mikir. Bukan waktunya untuk saya mikir itu.” Maka sudah saatnya pertanyaan Pak Robert ditanyakan lagi ke Abah, “Why do you want to live longer?” Jika ternyata “usia tambahan” dari ganti hati itu bukan cuma 1 tahun, bukan cuma 5 tahun, bahkan bukan cuma 20 tahun, maka tak seharusnya Abah menyia-nyiakan kesehatannya itu. Apalagi untuk “anak kandungnya” sendiri yaitu Disway. Banyak kok media baru yang lahir belum lama dan sekarang sudah banyak dikenal. Ada Narasi, ada Tirto, ada Kumparan, semuanya umurnya tak lebih dari 10 tahun dan sekarang sudah “bergigi”. Disway memang lebih muda lagi. Tapi “gigi”-nya belum tampak sama sekali. Saya ikut nggak terima kalau Disway hanya segini-gini saja.
Hasyim Muhammad Abdul Haq
Saya mencatat beberapa ucapak Pak Robert Lai pagi ini di Dismorning. Salah satunya tentang keyakinannya yang dia tak memilih salah satu agama meski dia percaya adanya: something up there. “I may not be a Muslim, or Christian, or Buddhist. I don’t follow any religion. But I believe absolutely in God. Allah. So whatever it is, SOMETHING is up there. So just do what you are happy to do but from here (hati nurani).”
Liáng – βιολί ζήτα
iseng-iseng saja. “Kakek pembawa tongkat” itu ternyata ada di alam nyata….. Ada beberapa Chinese idiom (成语 Chéngyǔ) yang menggambarkan kondisi sangat kritis (sakit parah) tetapi kemudian bisa sehat kembali, seperti : ○ 起死回生 (Qǐsǐhuíshēng) ○ 绝处逢生 (Jué chù féng shēng) ○ 妙手回春 (Miàoshǒuhuíchūn) Idiom 绝处逢生 (Jué chù féng shēng) tercatat di dalam beberapa karya sastra klasik Tiongkok Kuno, seperti terdapat di dalam buku cerita rakyat 喻世明言 (Yù shì míngyán) karya 冯梦龙 (Féngmènglóng) : —> 喜得绝处逢生,遇着一个老者携杖而来 (Xǐ dé jué chù féng shēng, yùzhe yīgè lǎozhě xié zhàng ér lái) Bersyukur bisa menemukan jalan keluar di saat yang sangat sulit dan seperti buntu, lalu bertemu seorang kakek yang membawa tongkat. Dan….. Pak Robert Lai sudah menjadi “Kakek pembawa tongkat” seperti di dalam cerita rakyat 喻世明言 (Yù shì míngyán) karya 冯梦龙 (Féngmènglóng) tersebut….. “Sehat selalu Pak Dahlan Iskan”
Murid SD Inpres
jadi bagaimana awal mula persahabatan Bli Leong dan Cak Mul itu? apakah se klise kisah roman picisan stensilan: swatu hari Cak Mul terpeleset, dan kebetulan Bli Leong ada di situ dan dengan sigap menangkap pinggang Cak Mul lalu berkata: “dinda tidak apapa?”
Prieyanto
Anda harus sama-sama kaya dulu jika ingin persis seperti persahabatannya Abah DI dan pak Robert Lai, atau dengan bu Melinda dan pak Alexander Tedja. Persahabatan para perusuh tentu juga berbeda levelnya, kecuali antara bu dr. Sandra & pak Hadhi. Klo bli Leong vs Cak Mul, Persahabatan macam apa itu ya kira- kira? #prie
Murid SD Inpres
PENGUASA JATIM anda pikir, dahlan iskan itu sosok paling powerful di jawa timur? atau anda pikir, bos pakuwon group dan 50 bos group se-jatim itu paling powerful? KELIRU BUESAR ! anda belum menyadari peta kekuasaan yg sebenarnya, di jawa timur. leong putu, dan cak mul. dua orang inilah, penguasa jatim sesungguhnya. BHAYANGKAN ! mulai dari mantan menko polkam, wakil ketua dpr ri, hingga mantan jampidsus, SEMUA SEGAN DAN HORMAT, kepada seorang dahlan iskan. E LHA DHALA ! DUA ORANG INIII ! >>>> leong putu dan cak mul, PUALING kwonsisten, WUANI NGECE, pak dahlan iskan! NHA, KANN???? jhelas, dari sini kelihatan, leong utup dan cak mul, ini BUKAN DUA ORANG SEMBUARANGAN ! . . *matikan capslock *kembali santap MBG
Bahtiar HS
Agaknya ada kesamaan antara saya dengan Abah Dakelan. 20 tahun lalu, Abah ganti hati dan tidak pernah menyangka bisa bertahan hidup hingga 20 tahun kini. 20 tahun lalu, anak saya 4 orang bocil. Mertua sdh instruksi utk stop, cukup sampai di sini. Tp sy tidak pernah menyangka jika 20 tahun kemudian sejarah mencatat jadilah sampai 10 orang. Trus persamaannya di mana? Itu, di bagian “tidak pernah menyangka” 20 tahun kemudian apa yg terjadi pada kita :))
Bahtiar HS
Cak Mul, Katanya supaya nyambung dg seseorang itu awalnya perlu madakno frekuensi dulu. Biar sejajar. Biar bisa klik. Dan serasa “dekat”. Baru enak komunikasinya. Itu aja yg aku lakukan biar “sejajar” dg Pak Dakelan. Jujurly gak sejajar2 banget sih. Dan blm dekat2 banget. Barulah terbukti dekat kalau Redmi atau seenggaknya sepatu ukuran 42 itu kepegang. Apalagi ukuran kakiku pas 41. Longgar sithik gpp (iki madak2ne bener). Tp aku tahu diri soal yg terakhir itu. Ada yg lbh dulu dekat beliau. Dan kans lbh besar. Yakni Wong Darjo karo wong Rungkut itu. Tambah wong Sentul kae. :)) Saliim wolak-walik….
Isya Mahfud
Berarti tepat 20 tahun lalu sy naik angkot Lyn JK jurusan Joyoboyo -kenjeran sambil membaca tulisan bersambung Ganti Hati di Jawa Pos
Allen Enrico Doloksaribu
Maaf Abah, bukannya ganti hatinya baru “19 tahun” yang lalu kalau kejadiannya 6 Agustus 2007 – 6 Agustus 2026?
Mbah Mars
Begitu selesai membaca buku Ganti Hati saya kemudia WA teman saya. Ia adalah dokter spesialis bedah. Sudah doktor pula. Punya rumah sakit sendiri. “Njenengan sudah baca buku Ganti Hati nya Pak Dahlan Iskan ? Luar biasa ya dokter² Cina ?” Saat itu saya menyebutnya masih Cina. Belum Tiongkok. Di luar dugaan, teman saya menjawab: “Ah, biasa itu. Di sini juga sudah ada yg bisa. Kalau produk luar negeri biasa dilebih-lebih kan” Itu ditahun 2008 kalau tidak salah. Saya tidak tahu apa betul kata teman saya itu.
Muh Nursalim
Prabowo seperti penguasaha Hongkong. Idenya besar. Anak buah yang harus mengeksekusi. Tak peduli bagaimana caranya. Parahnya, anak buah seperti pengusaha Singapura. “Mestinya anak buah dulu yang ngasih ide ke presiden. Kajian dan studi kelayakan dulu baru diputuskan”. Ngalor ngidul. Padahal, neraka itu pada ditail.
Juve Zhang
Kalau membaca data di berbagai berita RS tempat Don Dahlan Iskan melakukan Transplantasi Hati itu melakukan operasi transplantasi segala organ tubuh sekitar 6000 operasi transplantasi per tahun….6000 jelas menunjukkan sukses besar RS TianJin First Hospital….dalam dunia medis yg bicara itu angka sukses keberhasilan Opera bukan angka Omong kosong….jadi 6000 operasi transplantasi setahun sudah meyakinkan orang ini RS bukan kaleng kaleng konon RS transplantasi terbesar di dunia…..anda bisa melihat cerita ini di AI….saya cuma mengutip saja….jadi dokter bukan bicara saya jagoan tranplantasi tapi ketika di lihat Track record tak ada….
Mbah Mars
Jabrik:”Kalau harus milih, lebih milih mana antara kehilangan teman dengan kehilangan uang ?” Mohak:”Saya milih kehilangan uang, Brik” Jabrik:”Woeee edan. Persahabatan adalah segalanya ya Hak ?” Mohak:”Sebenarnya tdk seperti itu” Jabrik: “Lantas ?” Mohak:”Tidak punya uang bisa hutang teman. Tidak punya teman mustahil bisa ngutang!” Jabrik:’Wkwkwkwkwk”
Mbah Mars
Om Juve, saya memang sibuk ngurusi penggilingan padi ini. Alhamdulilah omzet sebulan 2,3 T. Karyawan ada 10. Gaji mereka 1 m/bulan.
Linggar Baero
Sedulur sinarawedi Mungkin hubungan persahabatan antara Pak DIs dengan Mr. Robert Lai itu bisa dikategorikan dalam kasta tertinggi ranah persahabatan, sedulur sinarawedi, yaitu orang yang kepentingannya terhadap kebaikan dan keselamatan kita lebih besar dari kepentingannya untuk menyenangkan kita. Namun di tataran yang lain, saya juga melihat kehangatan ‘hubungan persahabatan virtual’, saling ‘moyoki’ dan komentar ‘saur manuk’ di antara beberapa perusuh militan memberikan ruang pertemanan yang hangat. Saya menikmatinya, kadang sambil senyum2, kadang juga misuh2. Saya sebut di antaranya Cak Mul, Bli Leong, Bang Udin, mBah Mars, Pak Jo Neca, mBah Sabar Goblik. Salam seduluran….maaf belum nyebut Pak Haji Djokosp dan Wak Kaji JZ yang setelane kenceng dan lurus terus; serta Pak Guru Agus SIII yang pantas kalau didhapuk sebagai anggota tim penasihat Presiden…..hehehe. Tabik.
riansyah harun
Alhamdulillah, pemilik hati, yang seorang anak muda dan tidak diketahui siapa orangnya, yang telah menyumbangkan hatinya secara utuh pada Pak Dahlan, pasti akan selalu bahagia di alam kubur sana. Itu ibarat, yang memberi tidak tahu siapa yang di beri, dan yang menerima pun tidak tahu siapa yang memberi. Tidak saling mengetahui, namun amalannya (dalam Islam, Jariyah), akan mengalir terus menerus. Dan harap maklum saja…., mungkininilah salah satu membalas jasa dari apak Dahlan, dengan giat ber olah raga, utamanya senam, dan mengkonsumsi makanan yang tidak ber lebih lebihan. Pernah suatu saat, dokter di China pun sampai heran, atas semua hasil pemeriksaan laboratorium terhadap organ tubuh milik Pak Dahlan, semua kondisi prima.
Milyarder Setia
Pemilihan nama DisWay ini pantas ditinjau ulang,hehehe. Kata disway mengingatkanku pada kata discount, disconnect, diskualifikasi, distribusi, distorsi, distraction, yang sering berkonotasi negatif. Tapi banyak juga yang positif dan besar, Distrik, Disney. Disway : Dahlan Iskan Way. Dahlan itu sering dipelesetkan jadi Dalan(jalan) bagi banyak orang Jawa. Bagusnya itu bernama Dahlan Is Khan (Dahlan adalah Raja) Sekian intermezzo pagi ini,hehe
Surja Wahjudianto
Sahabat Hati Dua puluh tahun lalu nyawa di ujung tanduk Di Tianjin, Tiongkok, takdir menunjuk Kanker dan sirosis membuat hati kelam Operasi besar siap mengarungi malam Robert sang sahabat siap pasang badan Cek RS seberang urus semua keperluan Dorong kursi roda hingga atur makanan Bahkan rela tak makan babi demi sang kawan Bahas filsafat dan bisnis selalu nyambung Urusan golf yang bikin Abah bingung Sayatan “Mercedes” dibuka sepuluh jam Operasi sukses takut cemas pun padam Kini dua dekade telah berlalu dengan indah Musibah besar berubah menjadi sejarah Robert sungguh bagai pahlawan tanpa tanda jasa Persahabatan murni abadi sepanjang masa
Echa Yeni
Yg saya percaya Pak Dahlan sbgai bisnisman media/koran Dan mereka komunitas Tionghoa sbgai pebisnis kehidupan,ingin dipercaya bisnis mereka.dan tentu saja utk wawancara,sebagai bos koran dg bos perusahaan tentu lebih mudah Come_muni_kasi(h) or komunikasi info kpada Pak Dahlan. Nah disinilah simbiosis ber_MUTUalisme terjalin. Zinc katnya, Mereka_para pengusaha Tionghoa_ percaya Pak Dahlan sbg pengusaha media terpercaya
Juve Zhang
Om Robert Lai mewakili DNA pejabat Tiongkok didikasi pada pekerjaan nya….kalau ini dedikasi ke persahabatan dua manusia…pejabat Tiongkok itu dedikasi nya pada pekerjaan luar biasa mereka kerja sepenuh hati untuk negara nya…hasilnya anda lihat sendiri tahun 2007 ganti hati ketika RS masih bau masih tertinggal dari negara Singapura….coba anda lihat di You tube RS Tiongkok zaman 2026…WOW sangat jauh meninggalkan RS Singapura….kalau RS di Kerajaan Singosari anda sudah tahu sendiri lah…..wkwk….Di RS Tiongkok sekarang hasil CT Scan bisa anda print sendiri di mesin “photo copy”…maka muncullah photo CT Scan anda sangat maju sekali RS Tiongkok zaman 2026….20 tahun yg lalu…masih ketinggalan zaman sekarang sudah melewati RS Singapura sekalipun…. Tiongkok itu keajaiban dunia ke 15 mereka maju dan maju terus karena semua dokter bekerja penuh dedikasi….pejabat sama kerja penuh dedikasi…. no suap no korupsi…makanya negara maju melesat ke langit kemakmuran….Beaya berobat di Tiongkok sangat murah CT Scan dll sangat murah kata para pasien yg bule dan berobat di Tiongkok…di Negaranya konon mau CT Scan saja antrian bulanan….wkwkw…
riansyah harun
20 tahun lalu, terobosan ganti hati itu, sesuatu yang masih asing di kuping orang Indonesia. Ayah saya di usia 65 tahun, tahun 1996, harus menyerah pada sirosis yang menghantamnya. Seorang dokter anak tetangga saya, juga harus menyerah di sakit yang sama, sirosis, Kanker Hati. Walaupun BPJS telah mendukung pembiayaan operasi ganti hati, dan saat ini pun RSUP Fatmawati telah sukses menjalaninya sampai 5 kali di pertengahan tahun 2026 ini.., tapi yang menjadi persoalannya, siapa yang bisa mendonorkan hati nya secara utuh untuk di pindahkan…???? Mungkin perlu revisi UU dan fatwa MUI bagi penganut muslim.
Alamsta Suarjuniarta
2007 umur saya 8 tahun. Masih bocah tidak peduli apapun. Tapi 2019 saya baca buku ganti hati DI. Begitu luar biasa sedih, marah dan bersyukur isi buku tersebut. Semoga panjang umur pak DI
Ahmad Zuhri
Gara2 Ganti Hati ini saya jadi kenal dan ‘cinta’ dengan tulisan Bapak ini.. Akhirnya bisa jg belajar menulis dengan paragraf lincah seperti ini.. Sehat selalu Pak bos.. aamiin.
Edi Sampana
Setiap membaca tulisan Abah, sy berkesimpulan bahwa Abah tdk mau mengkritik program pemerintah. Tulisan beliau selalu optimis. Urusan kritik, para perusuh yg diberi tugas. Dan kritik perusuh itu diberi ruang (ditampilkan). Jadi seimbang. Komentar terbaik perusuh yg ditampilkan hari ini sangat keras. Sy masih berharap proyek MBG dirubah total. Mudah mudahan. Aamiin
Hasyim Muhammad Abdul Haq
“Memilah Agama dan Budaya” #islammasadepan #islamdenganlogika Saat Nabi bersabda tentang siwak sebagai pembersih gigi, lalu ada yang mencatat dan memasukkan itu dalam buku hadis, tiba-tiba siwak menjadi ajaran agama. Sekarang, banyak muslim membersihkan gigi pakai siwak karena anggap itu ajaran agama. Salah kaprah! Nabi Muhammad dulu juga naik unta saat bepergian. Lalu apakah itu berarti naik unta adalah ajaran agama? Tentu tidak. Nabi memakai unta karrna unta adalah alat transportasi terbaik saat itu. Sekarang, saat alat transportasi sudah sangat canggih, maka akan aneh ketika ada orang memaksakan diri naik unta hanya karena Nabi dulu memakai unta. Itulah poin dari “memilah agama dan budaya”. Kita harus bisa membedakan mana ajaran agama (Islam) dan mana yang sekadar budaya saat Nabi hidup. Sekarang ketika di seluruh dunia memakai sikat dan pasta gigi, maka akan aneh jika ada yang masih berpendapat, “Setelah bersikat gigi, tetaplah bersiwak supaya dapat pahala sunnah Nabi.” Sunnah (ajaran) Nabi adalah membersihkan gigi dan rongga mulut. Jika saat ini memakai sikat gigi, berkumur dengan obat kumur, dan periksa rutin ke dokter gigi adalah cara terbaik, maka semua kegiatan itu adalah sunnah Nabi. Kita tetap mendapatkan pahala sunnah Nabi, tanpa harus “persis Nabi” dengan memakai siwak. Begitu juga ketika Nabi memerintahkan kita untuk belajar naik kuda dan memanah sebagai keahlian bela diri, apakah berarti umat Islam saat ini harus belajar berkuda dan memanah? Jelas tidak.
Hasyim Muhammad Abdul Haq
Dari contoh itu, kita bisa ambil kesimpulan bahwa tak semua yang tercatat dalam buku hadis adalah ajaran agama. Kita harus bisa memilah mana hadis yang merupakan ajaran agama dan mana yang hanya sekadar budaya saat itu. Harus kita aku bahwa faktanya sekarang ini banyak hadis Nabi tentang budaya yang dianggap sebagai ajaran agama. Alangkah terperangkapnya kita pada kebudayaan arab dan teknologi pada masa itu, jika kita tak bisa memilah mana ajaran agama dan mana budaya. Perintah Nabi bukan berpakaian seperti orang arab, tapi agar menutup aurat sesuai norma yang berlaku saat itu. Kita boleh pakai sarung atau celana jeans, dan itu tetap berarti menjalankan perintah Nabi. Perintah Nabi bukan kita belajar berkuda, tapi agar kita menguasai alat transportasi yang ada saat ini. Saat kita belajar naik motor, mengemudi mobil, bahkan mengemudi pesawat tempur, kita otomatis menjalankan sunnah Nabi. Perintah Nabi bukan kita belajar memanah, tapi agar kita belajar bela diri, survival dan kemampuan berburu. Kita boleh belajar memakai senjata api atau belajar jujitsu dan tetap berarti menjalankan perintah Nabi. Begitu juga dengan pemakaian bahasa Arab. Bahasa Arab adalah budaya, bukan berarti semua muslim harus bisa berbahasa Arab. Apakah memberi ucapan dengan bahasa Arab seperti: “barakallah fi umrik” saat ada yang ulang tahun itu berarti kita menjalankan ajaran Islam? Tentu tidak.
Hasyim Muhammad Abdul Haq
Punya kemampuan berbahasa arab tentu bagus. Tapi kalau kemudian mengesankan memakai bahasa Arab itu lebih islami, tentu itu tidak benar. Lalu ada juga gerakan untuk belajar berkuda dan memanah yang dikemas sebagai “mengikuti sunnah Nabi”. Ada sekolah yang membanggakan itu sebagai sesuatu yang sangat islami. Membuat kursus berkuda atau memanah tentu tidak salah, tapi ketika mengesankan bahwa semua orang Islam seharusnya belajar itu, itu yang kurang tepat. Ketidakmampuan membedakan —mana perintah agama dan mana budaya— hanya akan menjebak umat Islam pada masa lalu dan menjadi kearab-araban —yang bahkan orang arab pun sudah tak seperti itu lagi—. Tak heran kita sering kali menjumpai orang Indonesia yang lebih arab dari orang Arab. Salah pola pikir seperti itu juga bisa berakibat buruk terhadap perkembangan umat Islam itu sendiri. Misal tentang berkuda itu bisa membuat umat Islam menjadi lemah dalam penelitian teknologi transportasi. Di saat Elon Musk berpikir tentang kendaraan ke luar angkasa, umat Islam masih sibuk membuat kandang kuda hanya karena merasa itu ajaran agama. Ajaran agama dan budaya itu dua hal berbeda. Ajaran agama berlaku selamanya, budaya disesuaikan dengan zamannya. Mari kita belajar memilah keduanya.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
SAHABAT, YANG DATANG SAAT LANGIT GELAP.. Ada orang yang datang ketika panggung terang. Ada yang memilih pergi saat lampu mulai redup. Tetapi Robert Lai, Melinda Tedja, Alexander Tedja, Jenderal Hendropriyono, dan Presiden SBY hadir justru ketika langit sedang gelap. Ketika harapan bergantung pada sepotong hati yang belum tentu datang. Saya membayangkan, hubungan seperti itu tidak dibangun dalam semalam. Ia ditempa oleh waktu, kepercayaan, dan ketulusan yang panjang. Robert mengorbankan hampir dua tahun hidupnya. Melinda dan Alex meninggalkan kesibukan bisnisnya. Yang lain datang membawa perhatian dan doa. Mereka seakan bersepakat menjaga satu nyala lilin agar tidak padam. Mungkin inilah kekayaan yang sesungguhnya. Bukan berapa banyak harta yang dikumpulkan, tetapi berapa banyak hati yang bersedia berdiri di samping kita ketika hidup sedang berada di tepi jurang. Dua puluh tahun kemudian, saya merasa yang paling layak dirayakan bukan hanya keberhasilan transplantasi hati. Persahabatan itulah yang sesungguhnya tetap hidup, terus berdetak, dan tidak pernah mengalami penolakan.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
@pak Denik.. KAMIS KLIWON DAN KESEMPATAN KEDUA.. Ya. Hari ini Kamis Kliwon. Tanggal 6 Agustus 2026. Dalam Kalender Jawa, hari ini adalah 21 Sapar 1960 Tahun Dal. Bertepatan pula dengan 22 Safar 1448 Hijriah. Dalam tradisi Jawa, “Kamis Kliwon” sering dimaknai sebagai waktu untuk: 1) tirakat, 2) bersyukur, dan 3) merenungkan perjalanan hidup. Rasanya pas sekali dengan tema CHDI hari ini. Tepat dua puluh tahun lalu, Pak Dahlan memperoleh kesempatan hidup kedua melalui transplantasi hati. Bagi saya, ini bukan sekadar peringatan sebuah operasi yang berhasil. Ini adalah pengingat bahwa umur adalah anugerah, sedangkan cara mengisinya adalah pilihan. Dua puluh tahun setelah peristiwa itu, yang kita lihat bukan hanya seseorang yang tetap hidup, tetapi seseorang yang terus berkarya, menulis, berbagi gagasan, dan memberi manfaat. Mungkin itulah makna syukur yang paling nyata. Tidak berhenti pada ucapan, melainkan diwujudkan dalam karya. Kamis Kliwon hari ini seolah mengajak kita berhenti sejenak, menoleh ke belakang dengan syukur, lalu melangkah ke depan dengan semangat yang baru..


















